
Alexandra berniat melucuti seluruh pakaian yang menyesakkan tubuhnya. Charlotte dan Irene adalah perusak dari segala momen yang telah ia susun hati-hati. Termasuk bagaimana Irene menjenggut rambutnya tampan ampun. Seakan tak menyadari bahwa gadis itu nyaris mencabut seluruh kulit kepalanya. Charlotte dan pelayannya yang datang belakangan tak banyak membantu.
"Ibu ... dia yang mengawali semuanya!" Irene menangis bawang. Lantas bersembunyi di belakang tubuh ibunya jika sudah begitu, ia akan memulai peran sebagai anak yang tersakiti. Huh, playing victim!
Dan, Charlotte akan dengan mudah mempercayai air mata buaya sang putri semata wayang. "Tega-teganya kau berbuat seperti ini pada adikmu."
Alexandra memejamkan mata, ia menarik napas panjang. Mengembuskannya pelan sementara bibinya masih berkhotbah tentang bagaimana jadinya seorang kakak sepupu yang ideal. Alexandra abai, ia menyisiri helai-helai rambutnya yang mencuat. Kini helai-helai rambut itu berakhir menjadi sampah di lantai.
"Kenapa kau sama sekali tak menjawab?!" bentak bibinya sementara Irene yang memaksakan tangis palsunya tak dapat menahan seringai lebarnya.
"Menurut Bibi, aku tadi diam saja dan tak melawan atas perlakuan Irene padaku karena apa? Kalau aku sudah melawan jambakannya yang lemah itu, pasti aku bisa mematahkan hidung atau kakinya. Tapi Bibi lihat sendiri bahwa aku tidak melakukannya. Kenapa? Karena aku berusaha bersikap dewasa."
Bibinya mendengkus sementara Irene makin memberengut di belakang tubuh ibunya. Dua pelayan di belakang tubuh Irene pun menahan tawa. Tak ada yang dapat memungkiri bahwa kata-kata Alexandra sebelumnya menunjukkan betapa kekanak-kanakannya sang nona muda manja.
"Oh, baguslah kalau kau sadar. Maka perbaikilah sikapmu dan penampilanmu juga. Kau tentu ingin terlihat enak dipandang mata di hadapan Tuan Victor bukan?"
"Oh, jelas sekali, Bibi. Dengan begitu aku dapat menggodanya lalu dia akan membawaku pergi dari rumah neraka ini untuk tinggal bersamanya. Mungkin aku akan jadi pelayannya atau kalau beruntung aku akan dijadikan salah satu dari gundik peliharaannya. Seperti kata Irene tadi, aku akan menggodanya seperti seorang pelacur." Kalimat panjang Alexandra diakhiri dengan sebuah senyuman lebar.
Charlotte sesaat melirik Irene sengit. Walaupun pada akhirnya ia kembali tersenyum penuh paksaan. "Baguslah. Aku dan Irene akan menunggu di bawah. Pastikan bahwa kau benar-benar bisa membuatnya takluk padamu. Dengan begitu kau bisa meringankan sedikit beban kami dengan membuang satu orang tak penting dalam keluarga."
"Dengan senang hati." Alexandra membungkuk. Aksi saling melempar sindiran tersebut memang tak pernah menemukan pemenang. Masing-masing harus saling mengalah, menelan lontaran-lontaran kata pedas yang masih tersisa di mulut. Alexandra sendiri tak ingin melanjutkannya lagi. Ia berjalan ke arah pintu, membukanya lebar-lebar. Pun dengan senyumnya yang mungkin dapat merobek pipi.
"Jika tak keberatan, bisakah kalian keluar? Tentu banyak hal yang harus aku lakukan untuk menjadikan diriku makin mirip pelacur."
Charlotte dan Irene pun enggan berlama-lama menahan diri. Mereka meninggalkan kamar Alexandra begitu kalimat pengusiran tersebut meluncur. Irene sempat melayangkan tatapan penuh dendam. Ia tentu sedang menyusun rencana untuk menyambung kembali perseteruan mereka. Ketika dua pelayan tersebut juga telah meninggalkan kamar, barulah Alexandra membanting pintu keras-keras.
Alih-alih memperbaiki riasan wajah dan rambutnya. Ia justru menuang cairan penghapus make up ke atas kapas. Digosokkannya kapas tersebut ke seluruh permukaan wajah, melucuti satu-satu riasan yang mendempul wajahnya. Gincu merah itu, ia tak suka. Warna hitam yang mempertegas matanya itu, ia tak suka. Sapuan warna dari perona pipi yang menghiasi tulang pipinya, ia tak suka. Semua kepalsuan ini ia tak suka.
Gaun mewahnya dilepas begitu saja, jatuh ke lantai. Hanya meninggalkan pakaian dalamnya yang tersisa. Melalui pantulan dirinya di cermin besar. Alexandra membenci dirinya. Pamannya, bibinya, dan Irene. Seandainya saja orangtuanya masih hidup. Ia tak akan menjalani hidup seperti ini. Ia mungkin mendapatkan tempat tinggal yang layak, makan tiga kali sehari, uang saku yang cukup, pendidikannya terjamin, tetapi ia tak ada bedanya dengan hidup bak boneka. Pamannya mengendalikan segala aset bisnis yang seharusnya juga ada campur tangannya di sana. Bibinya dan Irene juga memanfaatkan seluruh aset yang dimiliki untuk kepentingan hedonis mereka.
Ketika Ayah dan Ibu masih hidup dulu, Alexandra tak pernah sekalipun absen dalam acara amal yang diadakan orangtuanya atas nama Buffon. Mereka tak pernah membesarkan Alexandra sebagai anak yang dibuai harta. Setiap harta mereka selalu menjadi bagian dari orang lain. Kini acara-acara amal tersebut tak lagi dilakukan sesering dulu. Pun, di tangan pamannya, semua berubah. Dulu acara amal yang dipimpin ayahnya tak pernah tersorot media, jangan tanya bagaimana kepemimpinan pamannya yang selalu membawa-bawa media pada setiap acara amal kecil yang ia lakukan. Bibinya dan Irene akan tampil paling cantik di depan awak kamera. Menjijikkan.
Kaus berlengan pendek yang menutupi separuh pahanya. Alexandra berbaring di ranjang. Kini ia tak peduli jika nanti pamannya tiba-tiba datang lalu menyeretnya ke pesta atau jika nanti bibinya dan Irene datang dengan memohon-mohon, ia pun akan abadi. Ia mengunci pintu dari dalam dengan harapan ketika membuka mata, pesta telah sepenuhnya berakhir. Namun hanya lima menit berselang, ketukan pintu itu membangunkan Alexandra dari tidur singkatnya.
"Apa kau masih hidup di dalam sana, Nona?" suara itu berasal dari seseorang yang sama sekali tidak ia harapkan. Victor menjemputnya sendiri. Persis seperti gosip orang-orang. Bahkan pria itu mengetuk pintu kamarnya. Alexandra bertaruh bahwa pelayan yang tertinggal di luar kamar sedang kesulitan menarin napas.
"Saya sedang tak ingin diganggu, Tuan. Maaf." Masa bodoh jika nantinya ia akan menimbulkan kemarahan sang pria. Justru akan lebih baik jika pria itu mencabut nyawanya dan mengakhiri semua ini.
"Oh, apa kau sedang telanjang? Kau ingin aku melihatmu telanjang di sana?"
"Ya, saya sedang telanjang." Alexandra melirik kaus besar kumalnya. Ini adalah pakaian paling nyaman untuk dikenakan saat tidur.
"Oh, aku akan masuk."
"Tunggu, aku mengunci pintunya dari dalam!"
"Kaukira pelayanmu di sini tak punya kunci?"
Gadis itu nyaris melompat dari ranjang dan terduduk panik. Otaknya berusaha menyusun rencana menyelamatkan diri, akan tetapi ia tak ada pilihan selain tetap diam. Kalau pun ia menolak perintah Victor, sama sekali tak memberikan untung. Dan, mungkin ia akan mendapatkan hal yang lebih buruk. Alexandra pasrah saja saat pria itu membuka kunci. Begitu handelnya bergerak dan pintunya terdorong pelan, siluet sang pria telah membawa geletar aneh pada perut. Pria itu selalu tampan. Kali ini mengenakan setelan jas warna hitam yang mengilat. Bahkan dengan jas yang tampak sederhana itu tak mampu meluncurkan pesonanya. Victor menatap langsung wajah Alexandra yang kusut. Wajah pria tersebut masam, persis ketika mendapati barang yang dipesan secara daring tak sesuai dengan gambar deskripsi.
"Kau tak telanjang, aku kecewa."
Alexandra mendesah. "Maaf jika saya mengecewakan Anda."
"Kau tampak luar biasa ... hancur sekarang. Kenapa kau tidak mengenakan lagi gaunmu dan bergabung ke pesta. Atau kau ingin aku sendiri yang mengantarmu ke sana?"
Alexandra hendak berkata, tetapi lidahnya kelu. Ia sendiri tak begitu yakin dapat menceritakan keseluruhan kejadian yang baru saja terjadi. Bagaimanapun juga, ia tetaplah orang asing kendati sosoknya begitu populer. Jika pun Alexandra menceritakan seluruh kekacauan yang selama belasan tahun mengusik hidupnya, maka butuh waktu lebih dari semalam untuk menyelesaikan segalanya. Bagi Alexandra, semua diawali sebelum ia terlahir. Perang tak kasat mata antara mendiang Ayah dan pamannya masih sebuah benang kusut yang belum Alexandra temui titik temunya.
Victor, entah mengapa menyukai bagaimana Alexandra menggigiti bibir bagian bawahnya saat gelisah. Sesekali lidahnya akan melumasi seluruh permukaan bibir yang ranum itu. Sebuah pemandangan yang cukup indah untuk dilihat pada ruangan sempit ini. Untuk ukuran kamar seorang nona keluarga Buffon, bukankah kamar ini terlalu sederhana dan jauh dari kesan mewah. Bahkan kamar Teddy masih lebih bagus dari ini. Namun, tentu saja paras ayu Alexandra tak pernah mengecewakan Victor.
Hanya saja, gadis itu, selalu memiliki awan kelabu yang menggantung pada bahunya. Pria tersebut selalu menangkap keraguan pada wajah dan mata sayunya. Yang entah mengapa selalu mengingatkan Victor pada mendiang istrinya. Alexandra seperti cetak biru istrinya secara fisik. Namun, sifat mereka bertolak belakang. Alexandra cenderung arogan dan tak pernah terlihat ramah di depan orang lain.
Victor menyeringai. Ia lantas mendekati ranjang. Langkah percaya diri Victor seketika mengirimkan sinyal bahaya pada Alexandra. Gadis itu menyudutkan diri pada dinding. Victor memasang wajah paling mencurigakan dengan seringai lebar yang seketika membangkitkan bulu roma di sekujur tubuh Alexandra. Gadis itu sendiri tak memiliki daya lagi. Ia menutup mata, tak siap dengan apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Jantungnya berdetak keras, nyaris meledak ketika decitan ranjangnya mengaburkan pikiran jernih yang tersisa.
"Kau yakin ingin pergi dari rumah ini? Kalau aku jadi kau, aku akan tetap bertahan sampai setidaknya berulang tahun."
Mata Alexandra terbuka pelan. Ia mendapati sang pria berbaring tak jauh darinya. Ranjang kecil itu nyaris tak memberikan ruang bagi dua orang. Alexandra menarik napasnya lagi dengan susah payah, sedangkan Victor sendiri bertahan dengan ekspresi datarnya. Ia mengamati wajah Alexandra lamat-lamat.
"Aku...."
"Diamlah sebentar." Jemari Victor terangkat, ia menyentuh bibir ranum Alexandra pelan. Untuk sesaat, Victor larut pada memori beratus tahun yang lalu. Istrinya memiliki tekstur bibir yang sama persis dan Victor sangat menikmati bagaimana bagian tubuh yang kenyal itu diraup oleh bibir Victor sendiri. Kilasan ingatan itu segera pudar oleh genggaman tangan Alexandra pada pergelangan tangan sang pria. Ada ketakutan mendalam pada tatapan itu.
Gadis itu memiliki keberanian. Bahkan bisa ia sebut sebagai arogan. Selama ini tak ada perempuan di luar kastel yang berani menyentuhnya segampang ini. "Kau berani juga. Maka, aku akan memberikan hadiah atas keberaniamnu."
Victor bangkit dari posisinya semula. Ia menegakkan tubuh lantas meraba kantung celananya. Sebuah kotak beledu berwarna putih dengan pinggirannya yang berwarna perak terulur ke arah Alexandra. Victor menggoyangkan kotak itu pelan ketika lima detik berlalu dan Alexandra tak kunjung mengambil kotak itu dari tangannya. Gadis tersebut mengambilnya ragu-ragu. Ketika kotak itu terbuka, Alexandra melongo. Bibirnya terbuka mendapati sepasang anting berlian tersemat di dalam kotak.
Anting-anting tersebut memiliki warna yang nyaris sama dengan gaun yang sebelumnya ia kenakan. Bak buah anggur yang ranum, anting-anting tersebut memiliki banyak batu mulia yang berkilau kala terkena cahaya. Alexandra tak memiliki daya selain terdiam dengan wajah terpukau.
"Pakai itu dan kita keluar setelah kau selesai bersiap. Jangan pakai riasan tebal dan berlebihan. Kau tak perlu menjadi seperti perempuan lain yang mendempul wajahnya tebal-tebal. Dan, satu lagi. Perhatikan bagian dalam sepatumu sebelum dipakai. Kau akan menemui kejutan lain di sana."
Dan, dengan itu Victor keluar kamar tanpa sempat mendengar persetujuan dari Alexandra apakah ia akan ikut ke pesta atau tidak. Victor memang tak akan pernah sudi mendengar penolakan. Maka dari itu ia selalu berasumsi bahwa semua orang akan tunduk pada apa pun perkataannya. Ya, memang semua orang. Bahkan termasuk Alexandra.
***
Davis baru saja tiba ke ruangan utama pesta. Dengan tergesa-gesa, ia mencari sosok istrinya atau paling tidak putrinya untuk menegaskan kehadiran Alexandra di sana. Irene seperti biasa, berkerumun dengan anak konglomerat sosialita untuk membanggakan penampilannya malam itu. Sedangkan istrinya sendiri baru saja selesai dari menyapa beberapa rekanan bisnis lain. Begitu istrinya tak lagi bersama orang lain, ia lantas menarik wanita itu menjauh dari pesta.
"Di mana Alexandra? Kudengar Tuan Victor sudah tiba di sini sejak lima belas menit yang lalu," tanya Davis tak sabaran.
Charlotte sendiri memutar bola mata bosan lantas menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Iya. Dan, dia naik ke atas langsung untuk bertemu dengan Alexandra secara langsung."
Senyum puas terkembang di wajah Davis. Pada akhirnya, menyingkirkan Alexandra dari rumah menjadi makin mudah karena kehadiran pria tersebut. Selama ini Davis memang segan jika mendengar nama Victor Disebut-sebut di mana pun. Pria tersebut memang membawa ancaman bagi siapa pun. Kendati Victor sendiri tak memiliki lawan bisnis yang sebanding dengannya. Selama ratusan tahun, tak ada yang berani mengusik lahan yang dikerjakan Victor. Pria tersebut memang dikenal sebagai murid seorang alkemis terkenal di eranya kala itu.
Karena alkemis itulah, asal-usul usia ratusan tahun Victor menjadi kian sempurna. Alkemis selalu terkenal dengan ambisi menjadikan besi sebagai emas, menghidupkan bangkai yang telah mati, dan mencapai hidup abadi. Victor sendiri tak pernah menepis rumor yang berembus tentang dirinya tersebut. Maka orang-orang meyakini bahwa itulah asal keabadian Victor. Sehingga orang-orang menjadi maklum jika bisnis Victor menciptakan serum awet muda dan kesehatan tak pernah mencapai masa surutnya. Orang-orang tentu berlomba-lomba hidup lebih lama ketika ramuan umur panjang milik Victor terjual di pasaran. Kendati harganya tak dapat dibilang murah dan selalu eksklusif, tetapi Victor tak pernah kehilangan pelanggan.
"Semoga dia lekas dibawa pergi. Aku sudah tidak tahan dengan sifatnya yang arogan itu," imbuh Charlotte sembari menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Menurutmu mengapa ia berubah menjadi arogan? Bukankah kita juga salah satu penyebabnya? Kalau bukan karena kita yang mengambil alih seluruh aset keluarga tanpa membaginya, mungkin ia tak akan menjadi seburuk ini. Ia terbentuk menjadi arogan karena kondisi yang kita ciptakan bukan?" Davis membalas dengan retorika. Tentunya. Charlotte tak menyukainya.
"Kau membelanya?"
"Tentu saja. Ia keponakanku. Sekarang ia akan membantu bisnis kita lebih bersinar karena Tuan Victor sebentar lagi akan membawanya ke kastel miliknya yang misterius itu. Aku jadi bangga padanya," Davis lantas mengeratkan dasi kupu-kupunya, matanya melirik Charlotte dengan pandangan sinis, "kau harusnya juga membuat Irene bisa memikat pebisnis muda atau kaya lain. Jangan hanya mengajarinya menghabiskan uang."
Charlotte menahan diri, terkadang suaminya bisa sangat menyebalkan jika ada urusannya dengan putri semata wayang mereka yang sampai sekarang tak pernah memberikan kontribusi apa pun pada keluarga Buffon selain tagihan kartu kredit yang membengkak.
"Jangan menatapku begitu. Kita lanjutkan lagi nanti saat pesta berakhir. Sekarang kita kembali ke ruangan utama. Pastikan untuk menyambut Tuan Victor dan Alexandra dengan sepatutnya. Mereka adalah bintang utama kita malam ini."
Charlotte menahan dirinya untuk ke sekian kalinya malam ini. Ia mengekor langkah sang suami kendati sedang gondok bukan main karena Alexandra dan sambutannya yang baru saja menimbulkan ketegangan. Kepalanya masih berat, ditambah lagi dengan hati yang digelantungi perasaan meledak-ledak ingin menampol kepala suaminya dengan sepatu hak tinggi.
Tak lama setelah Davis dan Charlotte menempatkan diri di hadapan para tamu, Victor berdiri di lantai dua. Matanya mengitari seluruh ruangan. Aktivitas sejenak terhenti, para tamu undangan dan pelayan yang berlalu-lalang memposisikan diri dalam sikap diam. Pun dengan Davis dan Charlotte yang baru saja kembali.
Ketukan sepatu hak tinggi itu menyedot seluruh atensi seluruh orang dalam ruangan tersebut. Alexandra melangkah anggun dengan bagian gaunnya yang menyapu permukaan lantai. Charlotte menaikkan satu alisnya saat mendapati riasan wajah Alexandra tak lagi setebal tadi. Kini wajahnya hanya dipulas dengan warna natural. Bibirnya dipulas dengan warna yang tak begitu terang. Warna salem yang mendapat sentuhan cokelat itu membuat kesan anggun memancar. Kelopak matanya ditutupi warna tembaga dengan kerlap-kerlip yang tak begitu menyala. Warna tersebut menonjolkan warna mata Alexandra. Selebihnya nyaris tak ada yang menonjol.
Terkecuali pada sepasang anting yang menggantung dari balik helaian rambutnya yang turun. Untuk sesaat, Charlotte membeku di tempat. Ia menutup mulut dengan telapak tangan. Tangannya segera menarik ujung jas Davis dan pria itu merespons dengan tatapan tak senang.
Charlotte lantas berjinjit dan berbisik di telinga suaminya, "Kau tak ingat pada anting itu?"
Davis mengerutkan kening, ia menggeleng pelan. Respons tak menyenangkan Davis segera disambut lagi oleh bisikan di telinga. Apa yang dikabarkan lewat bisikan itu seketika merontokkan hati Davis.
"Itu anting milik Margareth."
To.Be.Continue