
"Nona Ivanka, saya baru saja mendapatkan paket Anda. Apakah saya letak—"
"Tinggalkan saja di depan pintu, aku sedang tak ingin seseorang masuk ke kamar!" ujar Ivanka dari dalam kamar. Nada bicaranya meninggi. Sebuah peringatan bagi pelayannya yang masih berdiri dengan patuh di depan pintu kamar.
"Baik, Nona. Saya undur diri dulu."
Pelayan Ivanka paham bagaimana tabiat sang Nona. Sejak kedatangannya ke kastel ini dua tahun silam, Ivanka membawa aura seorang pemimpin diktator katanya. Ia memiliki tatapan yang terkadang lebih menyeramkan dari Victor. Sesekali pelayan atau pekerja yang berlalu lalang di sekitar kastel akan mendapati wanita itu melihat keluar jendela dengan tatapan bengis. Ada kalanya ketika Ivanka yakin tak ada yang sedang melihat, ia akan mengambil ikan di kolam atau kupu-kupu yang tak sengaja hinggap di pot bunga.
Ia yakin tak ada yang melihat sehingga dengan entengnya ia akan menusuk-nusuk perut ikan kecil yang menggelepar karena kekurangan air dengan silet. Setelah seluruh isi perutnya terburai, ikan itu dimasukkan lagi ke dalam kolam. Pun dengan isi perut si ikan. Alhasil, ika yang malang dan isi perutnya berubah menjadi makan malam ikan-ikan lain yang tersisa. Jika kupu-kupu, maka secara perlahan Ivanka menggunting sayapnya. Melakukannya dengan hati-hati lantas ketika kupu-kupu tersebut mati, potongan-potongan sayapnya akan disusun lagi. Jika ia tak bisa melakukannya, maka serangga malang itu akan berakhir di tempat sampah. Jika ia berakhir menyusun semua sayapnya, maka hewan itu akan dimasukkan ke dalam kotak kaca dan disimpan di dalam lemari.
Ekspresi yang tercetak di wajahnya selalu sama di mata orang lain. Kosong, tak ada satu pun yang tersisa di wajah. Namun, ketika Ivanka merayap dalam kegelapan, setarik senyum tercetak di bibir. Sebuah senyum lebar yang akan membawa teror. Ivanka adalah perempuan keji yang bersembunyi di balik wajah ayu dan perilaku santun itu. Segala kebiadabannya akan dibalut dengan senyum lembut dan tatapan teduh jika Victor berada di dekatnya. Seorang pria luar biasa di mata Ivanka. Terpesona pada Victor, Ivanka takluk sehingga dengan senang hati membiarkan tubuhnya dimiliki sang pria.
Namun, mengenakan topeng ketika berada di depan tuannya memang lama-lama terasa pengap. Ivanka sering merasa dadanya sesak jika terlalu lama bersikap baik di hadapan orang-orang. Ia butuh waktu untuk melemahkan otot wajah yang kencang setelah menahan senyuman lebarnya. Di dalam kamarnya, ia duduk di atas lantai yang dingin. Gunting, siluet, dan benda-benda tajam lain berhamburan. Bercak-bercak kemerahan dan aroma amis semerbak menusuk hidung.
Bibir Ivanka tak henti-hentinya bersenandung. Tak ada musisi yang membuat lagu itu. Hanya sedikit kebosanan Ivanka hingga bibirnya secara acak mendendangkan apa pun yang sekiranya enak didengar. Sebuah lagu untuk mengusir bosan. Jemarinya dengan telaten menyusun potongan-potongan sayap. Selotip bening ditempel di jari manis dan kelingking sedangkan sisa jarinya yang lain mencoba menemukan potongan yang tepat dan saling terhubung. Sesaat, ia berhenti. Telunjuk menempel di dagu, ia menghentikan sejenak aktivitasnya.
"Sialan! Kenapa kalian tidak mau kususun?" Dengan kedua tangannya, Ivanka menggebrak lantai. Kupu-kupu mati dan sayapnya yang telah tercabik menjadi potongan-potongan kecil tertiup, bergabung dengan tumpukan ikan yang isi perutnya terburai dan kupu-kupu lain yang bernasib serupa.
"Tuan Victor, kenapa? Kenapa tatapanmu kepada gadis kemarin sore itu begitu hangat. Kenapa juga Teddy juga melakukan hal yang sama? Apa kurangnya aku hingga Tuan lebih sayang padanya daripada aku? Apa karena aku kurang cantik?" Ia bermonolog sembari membaringkan kepala di lantai yang basah.
Aroma amis dan anyir yang menggenangi lantai tampaknya tak tercium indra pembau. Satu hal yang terus berlarian di otak. Nama gadis itu, Alexandra.
"Kalau ia memang terlalu cantik hingga Tuan Victor dan Teddy menyukainya, maka di sanalah letak permasalahannya. Alexandra. Kalau misalnya ia menghilang, bukankah itu berarti masalah sudah beres? Satu orang hilang, tinggal menyisakan yang lain. Betul, 'kan?"
Ivanka memaksa tubuhnya bangkit. Cairan lengket dan darah ikan menempel di satu sisi wajah. Jemarinya meraba hingga cairan kental amis itu mengotori jarinya. "Aku penasaran bagaimana jika tubuh kurusnya itu berlumur darah seperti ini."
"Ah, ia pasti akan sangat cantik jika seperti itu."
Tanpa menghapus cairan yang masih menempel di wajah, Ivanka bangkit dari Duduk nya. Sebuah pisau daging besar tergenggam di tangan. Genggamannya pada batang pisau mengencang ketika sebuah ketukan pintu datang lagi.
"Nona Ivanka ... apakah Anda baik-baik saja?"
Mata Ivanka terbuka. Rasa empuk dari kasur yang sedang ia tiduri sejenak menyadarkan Ivanka bahwa ia baru terbangun dari mimpi buruk. Sembari mengerang, ia menggosok mata.
"Aku baru saja bangun, tolong siapkan aku air hangat untuk mandi," ujarnya cukup keras sehingga pelayan dapat mendengar perintahnya.
"Baiklah, Nona."
Ketukan kaki sang pelayan yang kian lirih perlahan menghilangkan rasa kantuk yang tersisa. Kaki Ivanka menyentuh lantai, segera disambut oleh tekstur lembek dan basah. Ivanka segera menarik kakinya naik. Tepat di bawah kakinya, tumpukan ikan yang isi perutnya terbuarai membawa aroma busuk.
"Sialan! Ternyata itu sama sekali bukan mimpi."
Sebelum pelayannya datang, benda-benda menjijkkan ini harus segera dibuang. Tanpa ekspresi jijik di wajah, Ivanka memasukkan ikan-ikan ke dalam plastik hitam besar. Ia bisa membuang ikan-ikan ini langsung dari kamar. Ada tempat sampah besar yang terletak tak jauh dari kamarnya. Kalaupun ia kurang tepat sasaran saat melemparnya, para pelayan yang lain akan memasukkannya ke dalam tempat sampah. Ivanka membuka jendela. Plastik hitamnya meleset. Hanya menabrak bibir tempat sampah lantas terjatuh di luar bak. Ivanka memberengut. Ah, sudahlah.
Begitu Ivanka hendak menarik kepalanya masuk, matanya justru menangkap Teddy yang baru saja memasuki mobil. Wanita itu menaikkan alis. Tidak biasanya Teddy mengenakan pakaian santai seperti jaket bertudung warna kuning dan celana denim robek-robek. Rambutnya dibiarkan berantakan dan mengenakan sepatu kets biasa alih-alih pantofel. Ia mau pergi ke mana? Tunggu, jika Teddy tak ada, kemungkinan besar seluruh tugas mengatur gundik akan menjadi miliknya bukan? Seringai tipis tersungging di wajah Ivanka. Ia bisa menguasai seluruh gundik dengan lebih cepat. Tak lupa Victor untuk dirinya sendiri.
To.Be.Continue