
Alexandra mengganti gaun panjangnya dengan celana jeans ketat dan kaus berlengan pendek. Tak ingin kedinginan di musim gugur ini, ia melapisi pakaian tipisnya dengan jaket berbahan kanvas dan sepatu bot sebatas betis. Seluruh riasan wajahnya telah dilucuti. Ia sama sekali tak menyukai bahan-bahan kimia itu melekat di kulit. Dengan membawa ransel kecil, ia bersiap meninggalkan kediaman mewah ini. Sebenarnya ia tak akan pergi untuk waktu yang lama. Ia hanya akan menemui Tuan Robert dan meminta pria itu menjelaskan maksud dari warisan tersebut.
Ia memesan layanan taksi daring melalui ponsel. Sementara menanti pesanan taksinya datang, Alexandra menelusuri kontak yang dapat ia hubungi untuk dapat menemui Tuan Robert secara langsung. Panggilan itu terhubung pada kantor sang pengacara kondang. Pada pukul sepuluh malam masih buka, tentulah kantornya sangat ramai sampai-sampai karyawannya lembur.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Robert secara langsung. Bisakah hubungkan saya secara langsung padanya?" ujar Alexandra begitu lawan bicaranya di seberang telepon menanyakan apa kepentingannya menelepon di waktu malam-malam saat kantor harusnya tutup. Sungguh, orang ini mungkin sedang kesal karena harus bekerja lewat jam kerja pada umumnya.
"Apakah Anda memiliki janji dengannya? Nona, ini sudah malam. Tentu saja ia sudah pulang," balas pria di seberang telepon.
"Saya sangat membutuhkan ia sekarang, Tuan. Bilang saja saya anak dari mendiang Daniel Buffon, saya Alexandra Buffon."
Selama beberapa detik terjeda, Alexandra tak mendengar apa pun selain gemerisik karena sambungan telepon yang mendadak terganggu. Tepat saat itulah taksi pesanannya datang. Setelah memastikan identitas dan diperbolehkan masuk, barulah Alexandra kembali fokus pada sambungan telepon yang sempat tertunda.
"Halo, apakah benar ini Alexandra Buffon? Anda sama sekali tidak bercanda bukan?" suara Tuan Robert mengalun rendah dari seberang.
"Iya, benar sekali, Tuan. Jika Anda tidak percaya, saya bisa mengirimkan swafoto saya yang terbaru."
"Ah, itu tidak perlu. Aku percaya padamu. Aku juga pasti bisa menebak hal apa yang membuatmu menelepon malam-malam begini. Apakah pamanmu menyebutkan soal warisan?"
"Sebenarnya tidak. Saya mendengar pembicaraan Anda dengan seseorang di telepon di pesta tadi. Anda pergi dari pesta terlalu cepat. Tapi saya tahu sedikit apa yang Anda bicarakan di telepon tadi. Anda menyebutkan tentang warisan dan saya sendiri. Apakah saya salah, Tuan?"
Pria itu tak kunjung menjawab sementara laju mobil yang dikendarai sang pengemudi mendadak berubah haluan. Alexandra menatap wajah sang pengemudi yang tampak ketakutan. Ia meminta izin pada Tuan Robert lantas menatap sang sopir khawatir.
"Ada apa, Pak? Kita menjauhi jalur di peta. Anda bisa kena masalah jika ketahuan membawa penumpang melewati jalur yang tidak sesuai dengan di peta," tegur Alexandra.
"Nona, sejak tadi kita diikuti mobil-mobil di belakang. Mereka membuat saya terpaksa mengganti jalur. Sampai sekarang mereka tak berhenti mengikuti kita, Nona. Lihatlah ke belakang." Pria itu sesekali menoleh resah lewat kaca. Ia pun bergatian menatap Alexandra, jalan di depan, dan tiga mobil yang membuntuti di belakang.
Alexandra menoleh ke belakang. Benar saja. Ada tiga mobil yang mengejar. Mereka berusaha menyamai kecepatan taksi ini. Pun sang sopir yang terus meningkatkan kecepatan, ia pun enggan terkejar. Dalam kesusahan karena menjaga kemudi, ia mengirimkan pesan bantuan gawat darurat kepada polisi. Sementara menanti bantuan polisi, sang sopir makin mempercepat laju mobil. Kendati kecepatannya telah melampaui batas yang telah ditetapkan perusahaan taksi daring tersebut. Namun, apa boleh buat? Ia pun tak ingin terkejar oleh mobil-mobil yang kemungkinan diisi para pelaku kriminal.
Alexandra sendiri tak mampu menenangkan diri. Terlebih lagi saat bemper mobil taksi dengan mobil itu bertabrakan. Alexandra menjerit sementara sang sopir berusaha bersikap tenang. Di tingkat ini, Alexandra pun tak bisa tenang. Ia mengecek kembali ponselnya dan mendapati sambungan telepon antara ia dan Tuan Robert masih berjalan.
"Halo, Tuan Robert?"
"Nona Alexandra, apakah ada hal buruk yang terjadi? Saya mendengar Anda berteriak tadi."
"Beri tahu lokasi Anda sekarang, Nona. Biar kami kirimkan bantuan selagi bisa."
"Baik, Tuan. Tolong segera bantu kami."
Belum sempat lokasi itu terkirim. Sebuah benturan besar dari arah kemudi menabrak badan mobil. Taksi terdorong beberapa meter dari jalan raya, keluar dari jalanan dan memasuki parit. Sang sopir seketika pingsan. Beruntung mobil tersebut dilengkapi dengan air bag. Mungkin sang sopir sudah lebih dulu pingsan karena trauma benturan yang baru saja terjadi. Alexandra sendiri masih berada di jok kemudi belakang. Tak menabrak apa pun karena tubuhnya berhasil ditahan sabuk pengaman. Ia merintih karena kepala bagian belakang yang terantuk secara keras ke belakang. Benturan itu mengaburkan pandangan dan membuat kepalanya berputar-putar pusing.
Kepalanya belum sempat memprotes apakah anggota tubuhnya masih lemah atau mengalami luka lain, tetapi salah satu dari pria itu datang. Mencongkel paksa pintu mobil lantas mengeluarkannya secara paksa. Ia dibopong bak karung gandum. Masih dalam kondisi kepala berkunang-kunang. Ia kembali dijatuhkan ke rerumputan basah.
"Bagaimana pengejaran ini? Sudahkan mirip dengan film aksi?"
Alexandra segera menegakkan kepala begitu mendengar tanya itu. Suara yang teramat sangat familier. Pamannya, Davis. Pria itu masih mengenakan pakaian yang sama ketika dikenakan di pesta. Namun, Alexandra tak pernah menduga bahwa pamannya yang terbiasa dengan sorot wajah dingin itu kini mengulas senyum bengis di wajahnya. Lengkap dengan mata yang nyaris menyipit karena tarikan senyum yang ganjil itu terangkat ke atas. Tulang pipinya benar-benar menonjol.
"Paman Davis...."
"Oh, halo Alexandra, Sayang. Sebuah kejutan karena bisa melihatku di sini, iya?" Pria itu berjongkok, mensejajarkan tinggi mereka.
"Kau keparat!" desis Alexandra dalam. Kata-kata itu dipenuhi racun. Dan, Davis kembali tersenyum dalam.
"Ah, senang rasanya mendengar itu dari keponakanku sendiri." Kepalanya mendekat lalu tertunduk di dekat telinga, "kau akan mendapat lebih banyak kejutan lagi sehabis ini. Ah, kau tak akan sendirian. Ada Nyonya Morris yang akan menemanimu sehabis ini."
Alexandra membuncah, nama wanita renta itu seketika membawa kekhawatiran tentang kondisi beliau yang akhir-akhir ini memburuk. "Kau tak akan melakukan hal yang buruk padanya bukan?" Alexandra menoleh, ia ikut berbisik di telinga pamannya.
Pria itu tersenyum lagi untuk ke sekian kalinya. "Tentu saja aku tak akan membiarkan kau sendirian. Aku juga sudah menyiapkan kuris hangat untuknya. Hanya tinggal dirimu yang tersisa."
Davis menatap dua pria besar di belakang tubuh Alexandra. Mereka meringkus Alexandra, menahan tubuhnya agar tak bergerak lagi. Ketakutan itu makin menjadi. Alexandra tak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapnya sebentar lagi. Ketika pamannya mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku celana, Alexandra menjerit, meminta bantuan. Ia tahu bahwa usahanya sia-sia. Karena sepanjang jalan, tak ada rumah penduduk ataupun mobil lain.
Pengejaran mobil itu telah memaksa sang sopir berpindah ke jalur alternatif yang jarang dilalui mobil karena aksesnya yang lebih sulit. Alexandra tak mampu menjerit lagi ketika selembar sapu tangan itu menutup hidung dan mulutnya. Menghirup sapu tangan itu perlahan menarik kesadarannya. Kelopak matanya berat, memaksa menutup, dan pada akhirnya keremangan tentang wajah pamannya itu tergantikan oleh kegelapan.
To.Be.Continue