M'Lord

M'Lord
F O U R T Y S E V E N



Teddy dibuat terbungkam oleh pertanyaan Ivanka. Tak disangka. Ketika ingatan tentang gundik yang berselingkuh itu datang, Teddy beharap agar kejadian malang pada si gundik tak menimpa dirinya. Namun, tak berselang lama, Ivanka datang dan kembali mengingatkan Teddy akan konsekuensi yang bisa saja ia terima karena memiliki rasa pada Alexandra. Tatapan Ivanka sejenak menerbitkan kekhawatiran. Apakah nantinya ia akan mendapat nasib yang sama?


Di kondisi ini, ia membutuhkan jawaban yang cepat dan tepat. Tak boleh menimbulkan kecurigaan sang gundik. Selagi waktu masih berjalan dan Ivanka masih menantikan jawaban, Teddy tak boleh membuang banyak waktu.


"Ya, seperti bagaimana aku menyukai kalian. Gundik-gundik lain Tuan. Meskipun kalian terkadang menyebalkan dengan segala ulah manja dan ceroboh itu, tapi bagaimanapun juga kalian bisa menjadi pribadi yang baik pula. Ruby yang sangat dewasa dan bisa memimpin kalian, kau yang terkadang bisa mengatur situasi ketika Ruby tak ada. Jane, Eliza, dan Ling, mereka mungkin cukup kekanakan, tapi setidaknya mereka bisa menjadi orang yang ramah. Aku suka kalian semua, di saat-saat tertentu. Yang jelas ketika kalian tidak mencampuri dan mempersulit pekerjaanku."


Sehabis mengucapkan kalimat panjang tersebut, jantung Teddy seakan mau copot. Telapak tangannya terasa basah dan licin oleh keringat. Kendati begitu ia memaksakan diri tersenyum, berusaha tersenyum sewajarnya. Kendati begitu, Teddy tak menampik fakta bahwa di titik ini ia sangat ketakutan. Karena pertemuan mereka sebelumnya di balkonn, Ivanka terlihat agak menyeramkan. Apakah jawaban yang diuraikan Teddy dapat memuaskan sang gundik?


"Oh, Teddy. Kurasa kau sudah tahu kalau bukan jawaban seperti itu yang aku minta."


Ya, seharusnya Teddy tahu. Jawaban yang Teddy berikan sama sekali tak memuaskan Ivanka.


"Kita sudah sama-sama dewasa dalam hal perasaan bukan? Jawabanmu tadi terdengar seperti seorang remaja yang menyangkal ketika ditanya sedang berselingkuh oleh pacarnya."


Lagi-lagi Ivanka mendahului. Sebelum Teddy sempat memberikan pembelaan lain, balasan Ivanka segera meruntuhkan seluruh kata-kata yang telah disusun Teddy di kepala. Selama ini, Ivanka nyaris tak pernah menunjukkan bagian dirinya yang seperti ini pada orang lain. Perubahan sifat Ivanka yang mendadak cukup mengejutkan Teddy. Apalagi dengan raut wajahnya yang menunjukkan ekspresi sama sejak pertama kali datang. Seakan-akan wajahnya sudah mendapat pengaturan satu ekspresi wajah.


Jika Teddy menyangkal, sama sekali tak bisa membantunya keluar dari situasi sulit ini. Ivanka bukan bertanya dan meminta jawaban. Ia sudah tahu jawaban itu tanpa harus bertanya. Hal yang seharusnya Teddy khawatirkan adalah tujuan dari kedatangan Ivanka.


"Apa maumu?" tukas Teddy. Pada akhirnya, ia tak bisa mengelak.


Kedua sudut bibir Ivanka terangkat. Senyum yang terbentuk, ah, tidak! Lebih mirip seringai. Ekspresi yang terbentuk di wajah Ivanka sejenak membangkitkan bulu roma Teddy.


"Apa mauku? Aku tidak minta apa-apa darimu."


"Lalu untuk apa? Kau mengancamku?"


Ivanka menyeringai makin lebar. Melihat bagaimana tarikan sudut bibir tersebut makin naik, Teddy dengan anehnya berharap bahwa senyum itu melebar hingga merobek kulit pipi sang wanita. Robek besar hingga seluruh giginya terlihat lantas tertawa menyeramkan seperti hantu. Maka dengan begitu orang yang Teddy temui ini hanyalah jelmaan makhluk halus dan bukannya manusia. Di titik ini, Teddy beranggapan bahwa manusia lebih menyeramkan daripada hantu dan makhluk gaib lainnya. Hantu, tak mungkin membunuh, tetapi manusia bisa, 'kan?


Sebuah kekehan mengerikan keluar dari bibir Ivanka. Bulu roma di sekujur tubuh Teddy menegang. Tawanya yang nyaris tak mengeluarkan suara justru terdengar lebih menyeramkan. Ia cukup bersyukur karena Ivanka mungkin tak akan membangunkan Victor yang tertidur di ruang kerja.


"Teddy, kau tak perlu takut. Aku tak akan melakukan hal-hal yang menyeramkan padamu. Aku adalah gundik Tuan Victor yang baik, jadi aku tak akan mengorbankan reputasiku sebagai gundik yang baik dengan menyakitimu." Setelah kekehan menyeramkan diakhiri, barulah Ivanka memberikan balasan.


Kali ini Ivanka kembali menjadi dirinya yang biasa. Ivanka yang murah senyum dan memiliki ekspresi lembut. Ia berjalan pelan, mendekati Teddy lantas menepuk pundak pria itu beberapa kali dengan lembut. "Tenang saja, aku tak akan melukaimu."


Setelah mengucapkannya, barulah Ivanka melanjutkan langkah dan kian menjauh.


"Kau tak akan melukaiku, tapi kau mungkin saja melukai ibuku. Apa aku salah?"


Sebelum langkah Ivanka makin jauh, Teddy berbalik arah. Ia pun dapat melihat langkah Ivanka terhenti setelah mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Teddy. Selama beberapa detik, Ivanka tak menunjukkan pergerakan apa pun. Mereka berdua sama-sama enggan mengakhiri kesunyian yang mencekik. Walaupun pada akhirnya, Ivanka menoleh sebentar, lalu tersenyum. Tanpa mengatakan apa pun, ia melanjutkan langkahnya. Lantas pergi dan menghilang di belokan koridor.


Keheningan kembali meliputi koridor yang sepi. Teddy dapat mendengar sendiri suara ludahnya yang tertelan dengan susah payah. Ivanka. Entah mengapa nama itu kini terdengar sama berbahaya.


***


"Sepertinya aku sudah tidur selama setahun, rasanya menyenangkan sekali," ujar Alexandra sembari menggosok mata.


"Hanya satu hari. Jangan mengada-ada, Nona. Aku pasti akan dipenggal Tuan Victor kalau membuat Anda tidur selama satu tahun," kelakar Lily lantas menuangkan segelas air untuk Alexandra.


"Itu artinya hari ini aku sama sekali tak melakukan apa pun. Menyebalkan sekali. Ah, terima kasih," Alexandra menerima segelas air putih yang diberikan Lily, "seandainya saja aku di rumah yang lama. Pasti bibiku akan marah-marah karena aku bermalas-malasan seperti sapi atau Nenek Morris akan menceramahiku bahwa perempuan itu tak boleh bermalasan sekalipun seorang nyonya besar. Ia lucu sekali."


Lily menatapnya dengan dahi berkerut. "Bukankah Anda hidup di mansion keluarga Buffon? Sebagai nona di sana, tidak masalah bukan jika Anda bermalas-malasan?"


Alexandra tertawa kecil. "Di rumah, aku bebas melakukan apa pun sebenarnya. Aku sering membantu pelayan di rumah beres-beres atau memasak. Terkadang juga bermalasan. Tapi bibiku tak suka dengan semua hal yang kulakukan. Bahkan ketika aku beres-beres sekalipun. Dia memang tak suka padaku, dia memang sangat menyebalkan."


Lily pun ikut terkekeh. "Anda sangat lucu, Nona. Mana ada seorang nona yang membantu pelayannya?"


"Tentu saja ada. Dan orang itu adalah aku," sahut Alexandra riang.


"Anda lucu sekali, Nona."


Alexandra tersenyum lembut, sesaat wajahnya berubah lembut. "Itu karena ibu dan ayahku selalu menanamkan sejak kecil bahwa aku tak boleh memuliakan diri sendiri. Kendati aku anak pengusaha kaya, mereka tak ingin aku tumbuh menjadi anak yang sombong."


Lily memandangi wajah Alexandra iba. "Apa Anda merindukan mereka?"


"Tentu, tapi mau bagaimana lagi? Mereka sudah tak ada di sini. Mereka memandangiku dari surga sekarang." Kepala Alexandra tertoleh pada jendela besar yang belum tertutup gorden. Langit bertabur bintang menjadi pemandangan yang menghangatkan hati.


"Ah, aku jadi rindu Nenek Morris. Sekarang ia sedang apa, ya?" Alexandra bersandar pada kepala ranjang sementara pandangannya tak kunjung teralih dari jendela.


Lily mengulum bibirnya resah. Ia sempat mendengar pembicaraan Teddy tentang hilangnya Nyonya Morris. Teddy sama sekali tak mengatakan apa pun padanya tentang Nyonya Morris. Ia harus menutup mulut lebih dulu sebelum Teddy mengatakan sendiri pada Alexandra tentang kondisi wanita itu. Lily mengikuti ke mana mata Alexandra jatuh. Pada langit malam yang digantungi bintang itu, mereka berdua sejenak mencoba melupakan segala kegelisahan.


To.Be.Continue


**Pengumuman Pemenang Giveaway.



Keita Puspita


Dde Aya



Selamat kepada para pemenang yang masing-masing mendapatkan pulsa sebesar 10k. Harap segera menghubungi saya, ya. Terima kasih telah ikut serta dalam giveaway dan mendukung M'Lord**.