M'Lord

M'Lord
F O U R T Y



"Luka Anda tak cukup dalam, Nona. Bersyukurlah hanya satu kaki Anda yang kena."


Alexandra mengangguk-angguk saja tatkala sang perawat tengah mengobati luka di kakinya. Di dalam klinik yang lengang itu, Alexandra mau tak mau mendengar curahan hati dari perawat yang sekarang beralih memasukkan peralatan kerjanya ke dalam almari. Curahan hatinya dimulai dengan sebuah hela napas lelah.


"Aku tahu kalau Nona ini adalah gundik Tuan Victor yang istimewa. Tapi tetap saja Anda tak bisa lepas dari persaingan para gundik Tuan yang liar. Sudah berulang kali saya mendapati kasus paku payung dalam sepatu, jika semua dirunut, maka pelaku utamanya adalah Nona Jane, selain itu adalah Nona Ling dan Nona Eliza. Kalau mereka berdua mungkin hanya sekali dua kali, tetapi Nona Jane yang paling sering melakukannya."


Alexandra mengulas senyum kecut, dalam hati ia membenarkan segala kekejian Jane. Namun, ia dibuat lebih ngeri lagi dengan kelanjutan cerita sang perawat selanjutnya.


"Kalau Nona berpikir bahwa Jane yang paling kejam karena sering melakukan hal-hal seperti ini secara terang-terangan, maka Nona salah besar. Masih ada yang lebih kejam darinya. Para gundik lain mungkin tak menyadari, tapi saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri, ia menjadi kambing hitam yang mengadu domba para gundik dengan cara licik. Bergerak secara halus dan diam-diam dalam kegelapan," sambung sang perawat.


"Kenapa kau menceritakan hal ini padaku? Jika mata-matanya melihat, mungkin nyawamu juga akan terancam," sela Alexandra sebelum perawat itu melanjutkan kembali kalimatnya.


Ada sepercik ketakutan yang terlihat dari mata sang perawat. Ia lantas menatap Alexandra dalam-dalam. "Maka dari itu, saya akan meminta perlindungan Nona Alexandra."


Bibir Alexandra terbuka, nyaris tak mempercayai kalimat yang terdengar tak masuk akal di telinganya.


"Kau tak akan mendapat apa-apa selain mendapat perlakuan buruk lagi. Lihat saja aku! Apa aku terlihat seperti bisa melindungi orang lain ketika aku sendiri saja mendapat ancaman seperti ini?" sanggah Alexandra sembari mengangkat kakinya yang mendapat perawatan.


"Saya yakin, hanya Anda yang dapat menolong saya dan para gundik lain, Nona."


"Aku tidak tahu, satu-satunya hal yang aku tahu adalah cara bertahan hidup di sini," tukas Alexandra. Ia tak memiliki kepercayaan diri dapat mengabulkan permintaan itu. Alexandra turun dari ranjang periksa dengan hati-hati. Ia menapak dengan kaki yang tak diperban.


"Nona, tolong pikirkan kembali permintaan saya. Anda bisa datang ke sini kapan saja, tolong ingat saja nama saya. Lily."


Alexandra bergeming di tempatnya dengan satu kaki terangkat. Ia menoleh sekejap, mengulas senyum paling tipis lantas meninggalkan klinik dengan langkah terseok. Sepeninggal Alexandra setelah pintu klinik tertutup, Lily beranjak membuka tirai yang menutupi ranjang perawatan. Ruby duduk di ranjang, ekspresi ketakutan di wajahnya tak tergantikan sejak Alexandra datang. Kini setelah kepergian Alexandra justru semakin parah. Beberapa kali giginya tampak mengunyah bibir bagian bawah. Ada beberapa tetes darah yang berkumpul pada sudut bibir.


"Nona Ruby, berhenti melakukannya. Saya mohon," ujar Lily sembari mengusap darah Ruby dengan tisu. Tanpa menunggu aba-aba, ia segera menarik kedua tangan Ruby, membawanya ke belakang punggung. Kedua tangan Ruby diikat dan mulutnya disumpal kain sebelum wanita itu memakan bibirnya sendiri.


Lily bersandar pada dinding ruang klinik. Keadaan Ruby sama sekali tak menunjukkan perkembangan baik. Setelah sebelumnya ia mengalami demam parah dan tremor karena trauma yang dialami tubuh setelah penyiksaan Victor, kini kondisi psikologisnya yang tak stabil.


Keputusan Lily meminta tolong Alexandra sendiri bisa saja membunuhnya secara bertahap. Para gundik Victor sama menyeramkan dengan tuannya sendiri. Ia semakin tak habis pikir dengan segala cara yang mereka lakukan untuk saling melukai. Bahkan, Lily meyakini bahwa satu nama ini tak hanya memiliki niat mengancam dan melukai, tetapi membunuh.


Ivanka. Wanita adi daya yang entah dari mana membocorkan kelahiran Edgar, memasukkan ramuan afrosdiak ke dalam minuman Alexandra, dan tindakan-tindakan culas lain yang sama sekali tak mendapat kecurigaan dari siapa pun. Membayangkan bagaimana cara Ivanka berniat menyingkirkan gundik-gundik lain secara bergerilya, diam-diam dalam kegelapan, selalu mengingatkan Lily akan ular. Keberadaan wanita itu saat berdiri di jendela, bayang-bayang, dan sudut-sudut kastel saja sudah sangat menakutkan. Lily pernah menyaksikan sendiri bagaimana senyum Ivanka merekah, melebar hingga nyaris menenggelamkan mata. Seringai seorang psikopat.


To.Be.Continue