
Pria di ujung jalan itu kembali menurunkan tudungnya, sedikit memalingkan wajah. Mengapa pria itu enggan menunjukkan wajahnya? Lagi pula, dengan wajah muda seperti itu, ia tentu bukan Tuan El.
"Pergilah, Bocah. Aku sedang menutup tempat praktikku untuk sementara. Aku sedang sibuk," tolak pria tersebut.
Alexandra menganga. Pria muda, kulit licin seperti pantat bayi, paras yang indah, tetapi suaranya seperti pria tua. Apakah ia sedang bermain peran atau apa? Terdengar sangat mendalami perannya bicara seperti pria tua. Alexandra tak dapat menghentikan spekulasi liar bahwa pria muda itu memang Tuan El. Namun, ia membohongi seluruh kota dengan identitasnya sebagai pria tua. Kalau memang begitu, lantas untuk apa? Lalu bagaimana pula ia menyamarkan diri menjadi pria tua? Sama sekali tak masuk akal.
"Tapi Tuan, saya—"
"Sudah kubilang, pergilah! Kau tak akan mendapat apa pun dariku selama beberapa minggu ke depan! Aku sibuk!" Tanpa banyak bicara lagi, pria tersebut berbelok memasuki sebuah gang. Victor berulang kali menyebut nama Tuan El sembari berusaha menyusulnya. Alexandra mau tak mau ikut ke mana pun Victor pergi. Namun, tak ada hal yang tersisa di dalam gang itu selain jalanan bersalju dan sebuah pintu yang sudah tertutup dengan kencang. Seekor anjing berukuran besar berdiri di depan pintu—sebelumnya, si anjing masih di dalam, tetapi didorong keluar oleh Tuan El. Hewan itu menggeram kencang, dan Victor tak dapat berbuat apa pun selain lari. Dengan Bodohnya Victor lari, hanya untuk dikejar si anjing.
Alexandra menggelengkan kepala. "Tak kusangka ia rupanya sebodoh itu."
"Iya, dia memang terkadang sangat bodoh dan ceroboh." Tanpa diduga, Marion telah berdiri di samping Alexandra. Gadis itu selalu dibuat terkejut oleh kedatangan Marion yang tiba-tiba. Ia masih mencoba menetralisir detak jantungnya yang berdetak di luar batas normal.
"Sebenarnya, ini bukan kali pertama mereka bertemu. Victor dengan Tuan El, tapi aku memutuskan menunjukkan ini dulu padamu. Ketika orang-orang menganggap eksistensi seorang alkemis dan penyihir itu begitu tipis," lanjut Marion sembari melirik Alexandra.
Alexandra baru tersadar jika tingginya dengan Marion tak jauh berbeda. Ia mungkin satu atau dua centi lebih tinggi daripada perempuan tersebut.
"Mau aku ajak ke tempat itu? Tempat pertama kali Victor dan Tuan El bertemu?" Marion bertanya lagi, sementara Alexandra lebih banyak terdiam.
Alexandra mengangguk saja. "Aku juga bukannya bisa memilih memori mana yang bisa dilihat bukan? Aku akan menurut ke mana pun dibawa."
Marion sejenak menyeringai jail. "Mau kubawa ke malam pertama pernikahan kami?"
"Marion! Aku tak akan sudi dibawa ke memori cabul seperti itu!" Muka Alexandra memerah, seperti kepiting yang direbus hingga matang lalu diguyur dengan saus tomat merah.
"Haha, aku hanya bercanda, kok. Itu adalah kenangan berharga yang sakral buatku, tentu saja tak akan kubagi. Apalagi hatimu sekarang sedang kehilangan arah, aku tak akan membuatmu tersesat," pungkas Marion sebelum berubah menjadi kepulan asap tipis.
Alexandra dibuat tertegun. Bersamaan dengan hilangnya tubuh Marion, kabut berwarna ungu pudar turun dari langit. Secara ajaib pula, embusan angin musim dingin menembus tubuh transparan Alexandra. Angin yang membawa butir-butir salju, bunyi langkah kaki yang menggema, dan napas yang terengah-engah. Alexandra menghadang badai salju yang datang dengan lengan. Sementara tubuhnya dipaksa menembus serangan angin dan salju, matanya berusaha beradaptasi. Ia dapat melihat sosok seorang pria yang tampak kabur di antara guguran salju tersebut. Bukan hanya satu, ada dua pria di sana. Seorang pria muda dan pria yang tampak di penghujung usia senja. Pria muda itu Victor. Maka, siapa pria tua itu?
"Pria tua itu, orang yang sama dengan pria muda yang menolak Victor masuk." Tunjuk Marion pada pria tua tersebut.
"Bagaimana bisa mereka menjadi dua orang yang begitu berbeda? Apakah Tuan El itu seorang penyihir?"
"Boleh kutebak kalau Tuan El merangkap keduanya? Menjadi alkemis sekaligus penyihir? Ia menutupi identitasnya sebagai penyihir dengan menjadi alkemis yang mengambil spesialisasi tabib?" Pada beberapa kata terakhir, Alexandra sedikit meragukan tebakannya.
"Ya, begitulah. Sekarang biarkan hal yang selanjutnya terjadi membuatmu semakin takjub pada Tuan El," pungkas Marion lantas menunjuk dua pria di hadapan mereka sembari menantikan hal menakjubkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
***
Victor selalu menempatkan manula di posisi paling atas untuk daftar mangsa empuk. Apa yang diharapkan dari orang lanjut usia? Mereka sama lemahnya dengan anak-anak dan bayi. Orang-orang rapuh itu selalu mudah dialihkan perhatiannya, sehingga mereka tak akan menyadari Victor telah menuntaskan aksinya dengan gemilang. Tahu-tahu dompet mereka telah raib atau gelang yang semula menempel di kulit tak lagi ditemukan.
Untuk urusan mencopet, Victor cukup membanggakan diri. Ia selalu bisa bermain dengan halus. Namun, tak bisa selancar ini setiap hari. Ada kalanya dalam sehari ia tak mendapatkan apa pun. Pun dengan hari ini. Orang-orang semakin pintar. Para korban sebelumnya pun enggan mengalami hal yang sama, sehingga mereka putar otak. Tak ada perhiasan yang dipamerkan, dompet dan uang disembunyikan di tempat yang lebih privat—dimasukkan ke dalam pakaian alih-alih saku, misalnya—, menyewa tukang jaga, bahkan di titik berbahaya justru menjebak para pencopet itu agar tertangkap basah. Jangan tanya apa yang terjadi selanjutnya.
Masih segar di ingatan Victor saat salah satu pencopet babak belur diamuk masa minggu lalu. Semua diawali dengan teriakannya ketika memasukkan tangan ke dalam keranjang belajaan. Seekor kalajengking terjatuh di tanah, tersangka utama hari itu. Serangga yang telah menyengat tangan si pencopet dan menimbulkan keributan hari itu. Calon korbannya memang sengaja membalaskan dendam setelah kena copet sebelumnya. Tak berselang lama, massa yang marah mengamuk pada si pencopet Malang. Lalu seperti yang diharapkan, para pencopet mulai ragu menunjukkan taringnya. Termasuk Victor sendiri. Kendati begitu, ia akan tetap mengincar orang tua tak berdaya.
Toko obat herbal di ujung barisa pertokoan baru saja mendapat pelanggan. Victor melihat pria muda bermantel cokelat keluar dari toko dengan keranjang belanja yang penuh. Pria muda itu meletakkan barang-barang belanjaannya di sebuah kereta kuda. Awalnya Victor tak begitu tertarik menjadikan pria itu sebagai target. Ia masih muda, tentulah ia masih punya tenaga untuk melawan kalau nantinya benar-benar tak dapat terhindarkan. Namun, Victor pada akhirnya memperhatikan pria muda tersebut baik-baik. Tubuhnya begitu kurus—malah lebih kurus dari Victor—, kulitnya pucat bak mayat hidup, dan beberapa kali pula ia terbatuk. Ketika batuk, bahunya bergetar naik turun dengan keras. Seolah nyawanya berkurang tiap kali batuk. Oh, orang penyakitan. Haruskah Victor masukkan ke dalam daftar?
Jika dilihat dari kereta kudanya yang hanya muat untuk satu orang, pria itu pastilah tak terlalu miskin. Tipe-tipe orang yang akan berbelanja secara periodik dalam beberapa minggu atau sebulan sekali ke kota untuk menimbun bahan makanan dengan harga murah. Victor kembali merunut. Orang penyakitan, lemah dan tak berdaya, tetapi punya barang belanjaan banyak dan mungkin kaya. Hmm, tak terlalu buruk jika hanya mendapat satu korban saja hari ini. Pria muda ini adalah target yang tepat.
Hawa dingin yang berembus hari itu mendadak menyisipkan sedikit ketakutan bahwa musim dingin akan segera datang. Gubuk kecilnya tak memiliki cukup kayu bakar untuk menghangatkan tubuh, ia khawatir Marion akan kedinginan nantinya. Ditambah lagi beberapa hari belakangan, Marion kembali mengeluh sakit. Terdorong oleh wajah sendu sang istri, Victor beranjak dari tempatnya. Dengan langkah yang cepat tetapi nyaris tak bersuara, Victor mendekati kereta kuda sang pria. Ia menyembunyikan diri di balik tumpukan tong sambil sesekali mengawasi pergerakan calon korbannya. Victor memfokuskan pandangannya pada punggung pria muda tersebut yang tiba-tiba saja diam bak patung.
Beberapa menit berlalu dan pria itu belum menunjukkan pergerakan sama sekali. Victor tak sabar lagi, apakah orang penyakitan itu meninggal di sana? Beberapa menit ke belakang, ia sama sekali tak menunjukkan pergerakan. Tunggu, bukankah dengan begitu lebih mudah bagi Victor? Ia bergegas bangkit dari tempatnya berdiri. Beberapa keranjang makanan itu pun dapat ia bawa pulang dan uang sang pria dapat diambil. Hari ini begitu mudah, mungkin Langit atau Dewa sedang berbaik hati pada Victor. Mungkin.
Ia berjalan mengendap. Sesekali menengok kanan dan kiri, sembari berdoa tak akan ada orang yang menyaksikan aksi jahatnya. Tingkat kewaspadaan Victor menurun, ia tak menyadari semenjak tadi sedang diawasi. Begitu yakin bahwa calon korbannya benar-benar tak berdaya, ia mengeluarkan sebuah pisau dari dalam saku celana. Hanya untuk memastikan orang itu mau tutup mulut kalau misalnya masih hidup. Telapak tangan Victor menyentuh bahu pria muda itu, lalu sebuah hal yang tak terduga terjadi. Cukup menyeramkan sehingga Victor nyaris kena serangan jantung.
To.Be.Continue
Halo-halo para pembaca M'Lord yang setia. Sudah lama sejak terakhir kali update. Saya mau minta bantuan sama teman-teman. Di antara semua chapter M'Lord, manakah yang adegan kekerasannya paling parah atau berlebihan? Saya mendapat email pemberitahuan beberapa minggu lalu bahwa M'Lord terlalu banyak adegan kekerasan. Mungkin teman-teman bersedia membantu saya menemukan kesalahan tersebut untuk diedit. Sebelumnya terima kasih, ya jika teman-teman bersedia membantu.
-
IG: @Reza_minnie
Facebook: Reza Agustin