
[Masih sehari sebelum kejadian....]
Perubahan Alexandra yang terkesan mendadak itu lagi-lagi menimbulkan kecurigaan pada Teddy. Pria itu menatap gadis tersebut lamat-lamat. Kini ia mengenakan seragam pelayan yang disebut-sebut terlalu pendek tadi. Namun gadis itu sama sekali tak menunjukkan keengganan ketika melenggak-lenggokkan tubuhnya mengenakan pakaian yang begitu pendek dan tipis. Teddy bertaruh, jika gadis itu berjalan seperti biasa, roknya akan tertiup naik.
Tuannya mungkin tidak memesan seragam itu dari penjahit biasa. Namun dari toko penyedia layanan seksual favoritnya. Bagus sekali. Satu hal yang sangat ia bingungkan adalah mengapa gadis itu berubah bagaikan dua pribadi yang berbeda. Alexandra yang selama ini ia amati adalah seorang gadis yang masa bodoh. Tak bisa berlaku manis pada semua orang, terlebih lagi Victor. Namun mengapa gadis itu dengan mudahnya berubah kepribadian?
"Teddy ... apakah aku kelihatan cantik?"
Teddy mengangguk terpaksa. Ia khawatir jika mengatakan sebaliknya, maka gadis itu akan menangis. Ia sering sekali menemui seseorang dengan sifat yang serupa. Beberapa adalah gundik Victor yang terbuang atau pergi dari kastel karena tak mampu menghadapi persaingan yang ketat antar gundik. Kini ia harus berhadapan dengan sisi aneh Alexandra yang bahkan tak pernah Teddy duga akan muncul.
"Kau silakan menikmati istirahat siangmu dulu. Aku akan mengambilkan makan siang untukmu. Sepertinya kau tampak kelelahan."
Alexandra menahan langkah Teddy dengan menggenggam pergelangan lengannya erat. "Jangan, Teddy. Aku masih ingin berkeliling dan melihat-lihat semua hal yang disukai Tuan. Kau tidak keberatan kita berkeliling lagi, ya. Ya? Ya?"
Sumpah, Teddy merinding. Bagaimana bisa Alexandra berubah menjadi seperti ini? Sekujur tubuh Teddy membunyikan alarm bahaya. Bagaimana jika nantinya Alexandra berubah haluan padanya? Genggaman tangan Alexandra dilepas perlahan. Ia lantas tersenyum lebar pada Alexandra. Ia mendekat ke arah leher sang gadis. Reaksi selanjutnya Alexandra tak terduga. Gadis itu memekik dengan suara manja, seakan Teddy tengah menyentuh tubuhnya.
Sial, aroma kewanitaan yang menguar dari tubuh Alexandra tak main-main. Seolah dipaksa diperas dari tubuhnya. Sudah pasti ada yang tak beres dengan Alexandra. Ada sesuatu yang sudah dimasukkan ke dalam tubuhnya. Satu dugaan Teddy, ramuan cinta. Salah satu ramuan yang paling laku keras di antara ramuan Victor yang lain. Hanya ada satu penawarnya. Harus ia minta langsung pada Victor. Namun, berhubung pria itu mungkin sudah memasuki laboratorium. Ia harus memasuki kamar Victor sendiri dan mencari ramuan antidotnya seorang diri.
Teddy mengangkat Alexandra bak karung gandum. Gadis itu lantas dijatuhkan ke ranjang. Alexandra memekik senang tatkala Teddy ikut merangkak ke ranjang. Dengan wajahnya yang merona merah dan bersikap di luar umumnya, Teddy tak punya pilihan lain. Pergelangan Alexandra diikat pada kepala ranjang. Setiap kali Teddy menyentuh tubuhnya, Alexandra memekik senang. Pahanya saling bergesekan dan sesekali ia akan menggelengkan kepala.
Entah berusaha menikmati atau sedang mengkhayalkan sebuah fantasi terliar yang dapat mereka berdua lakukan di kamar itu. Teddy mengikat sapu tangannya pada mulut Alexandra. Mendengar rintihan manja sang gadis ditakutkan membangkitkan jiwa lapar Teddy juga. Setelah memastikan Alexandra tak dapat kabur dengan kondisi demikian. Teddy bergegas keluar dan mengunci kamar. Ia harus menemukan antidot itu sebelum ada orang yang mengetahui kondisi Alexandra sekarang.
Memasuki ruang kerja Victor, Teddy tak butuh waktu lama menemukan antidot yang dimaksud. Hanya Victor yang dapat membuatnya. Sedangkan yang beredar di luar sana hanyalah ramuan tanpa penawar. Akan sangat membahayakan jika ramuan ini salah sasaran. Contohnya pada anak.
Teddy segera kembali ke kamar Alexandra. Secara paksa ia menjejalkan seluruh isi antidot itu pada mulut Alexandra. Begitu seluruh isinya habis. Teddy kembali menutup mulutnya. Lantas Teddy sejenak membiarkan gadis itu terdiam di atas ranjang untuk beberapa saat. Teddy duduk di kursi sembari menanti reaksi selanjutnya yang mungkin akan membuat Teddy lebih terkejut lagi.
Lima menit kemudian, tubuh Alexandra berkeringat hebat. Beberapa kali ia bergerak gelisah dan mencoba berteriak atau melenguh. Lima menit selanjutnya, gadis itu memperlihatkan reaksi bak orang teler. Beberapa kali juga ia mual. Ketika Alexandra benar-benar akan muntah, Teddy lantas mengambil plastik dan kardus yang tertinggal di kamar. Lantas membiarkan gadis itu memuntahkan isi perutnya di sana.
Selama beberapa detik berikutnya, Alexandra bernapas satu-satu. Ia lemas dan tampak linglung. Ia berusaha mengenali dirinya sendiri dan Teddy saat melihat pria itu dengan tatapan bingung. Apalagi saat ia menyadari kedua pergelangan tangannya terikat pada kepala ranjang. Ia melirik ke bawah tubuhnya dan lagi-lagi matanya membelalak lebar. Cepat tanggap, Teddy mengambil selimut dan menutupi bagian tubuh Alexandra yang terbuka.
"Kau sudah sadar? Syukurlah." Teddy membuka tas Alexandra, teringat bahwa gadis itu meninggalkan botol air mineral di sana. Kini ia membantu gadis itu minum dengan pelan. Setelah isi air mineral yang sebenarnya tinggal separuh itu tandas, Teddy mengusap keringat yang meleleh turun dari kening Alexandra.
"Apa yang terjadi?" tanya Alexandra patah-patah.
"Aku juga kurang paham. Tapi tampaknya kau minum salah satu ramuan cinta Tuan. Kau baru saja bertingkah seperti wanita yang maniak ****." Teddy tersenyum kecut.
"Sekarang kau tahu dengan maksudku bahwa persaingan antar gundik itu sangat ketat bukan? Aku yakin bahwa ini perbuatan salah satu dari mereka." Teddy kembali menghapus keringat Alexandra yang makin bercucuran.
"Jadi, segila apakah aku tadi?" tanya Alexandra dengan tatapan enggan.
Teddy mendesis, "Sangat menyeramkan. Kau nyaris memperkosaku tadi."
Mata Alexandra melebar. Yang segera diralat Teddy, "Bercanda. Tapi memang tadi sangat berbahaya. Untung aku ingat bahwa Tuan memiliki antidot dari ramuan cinta itu."
Alexandra menangis sembari menunduk. Namun isak tangisnya ditahan-tahan agar tak keluar. Lalu secara spontan ia menjerit marah.
"Sialan! Siapa orang gila yang telah membuatku begini? Akan kutendang kepalanya sampai putus! Kalau laki-laki akan kutendang kemaluannya sampai buah ***** tercabut dari tempatnya!"
Oke. Itu terlalu vulgar hingga Teddy nyaris memegangi isi celananya.
"Jelaskan padaku ramuan apa itu dan efeknya!" omel Alexandra.
"Itu salah satu ramuan cinta Tuan yang memiliki efek bertahap. Orang pertama yang dilihat akan menjadi objek yang selalu diingat dan berputar-putar di otak. Efeknya juga bertahap. Setengah jam pertama ia hanya akan seperti orang yang jatuh cinta pada umumnya, selalu terbayang-bayang dan sangat menyukai orang itu. Lalu setengah jam setelahnya ia akan menjadi liar karena mulai melakukan aktivitas aneh. Dan tahap utamanya, jika disentuh ia akan menggila. Bahkan jika bukan orang pertama itu yang menyentuh, ia tak pandang bulu. Lalu sehabis kebutuhan seksualnya terpenuhi, ia akan linglung. Sama seperti ini. Jika obat itu terpaksa dimurnikan, akan begini hasilnya." Penjelasan Teddy panjang lebar itu membuat Alexandra makin marah. Ia benar-benar ingin menendang kepala seseorang.
"Apakah ada yang tahu aku bertingkah seperti ini?" tanya Alexandra lagi.
"Untuk sementara, hanya aku yang tahu. Namun, aku tak yakin jika ada mata-mata lain yang merekam semua hal ini. Aku hanya berharap oknum tak bertanggung jawab ini bukanlah orang yang sama." Teddy memasang pose berpikir.
"Kau ada kecurigaan pada seseorang?"
"Ya, dia sudah sering sekali membuat gundik Tuan tak betah di sini. Dan, ia adalah orang yang paling kentara menunjukkan kontra pada gundik yang lain."
Alexandra menyebut satu nama yang mendapat anggukan persetujuan dari Teddy.
Jane.
To.Be.Continue