M'Lord

M'Lord
F.O.U.R.T.E.E.N



"Dasar keparat! Berengsek! Apa Paman sudah tak punya hati sampai-sampai harus berbuat sejauh ini? Dia sudah tua! Dan lagi dia adalah orang yang merawatmu selama ini!" Alexandra telah mencapai batas kesabarannya. Seandainya ia tidak diikat, mungkin tendangannya telah bersarang langsung ke alat vital pria itu. Rasa hormat pada pamannya telah habis.


"Hmm, pada akhirnya kau tak mampu berbuat apa-apa sekarang bukan? Silakan saja mau tendang kepalaku atau bagian tubuh yang lain. Lakukan sekarang, sebelum aku juga melakukan hal yang mengerikan pada Nyonya Morris kesayanganmu ini. Kau diam saja berarti bersedia aku melakukan sesuatu padanya bukan?" Davis lagi-lagi menengadahkan tangan, lantas sebuah pisau lipat dikeluarkan dari jaket sang pria plontos. Pisau itu lantas dimainkan di tangan Davis, seakan menggoda Alexandra bahwa benda itu bisa kapan saja bersarang pada tubuh Nyonya Morris.


"Apa yang akan kau lakukan dengan pisau itu?!" tanya Alexandra tak kunjung dijawab. Pamannya memutari kursi yang diduduki Nyonya Morris, seraya mengayun-ayunkan pisau, tak takut jika pisau itu nantinya menggores tangannya sendiri atau orang lain. Wajahnya bengis, Alexandra sama sekali tak mengenali pamannya. Pria yang ia kenal selalu tenang dalam setiap tindakannya.


"Jawab aku! Apa yang akan kau lakukan dengan pisau itu?!" Air mata Alexandra berdesakan keluar, bersamaan dengan pertanyaan yang diulang berkali-kali.


"Tenang saja, aku tak akan melakukan hal yang menyeramkan. Kau tak perlu khawatir, Alexandra. Kalau pun aku melukainya, ia tak akan sadar karena aku juga memberikan obat bius yang sama. Kalaupun dia pergi, ia tak akan merasakan sakit." Seringai yang terkembang wajah pamannya, serta mata pisau yang mengilat karena diterpa cahaya matahari, Alexandra tak dapat menahan dirinya lagi saat pisau itu diacungkan ke arah leher sang wanita tua.


"Berhenti! Aku akan lakukan apa pun. Semuanya! Kumohon, jangan lakukan apa pun pada Nyonya Morris. Kumohon!" Tangis Alexandra pecah seperti badai. Ia menggelengkan kepala, kursi yang ia duduki bergerak, bergoyang-goyang, lantas jatuh berdebum ke lantai berdebum.


Tangis Alexandra kian kencang, ia tak dapat bangkit, apalagi melakukan sesuatu. Pada tangisnya yang kian keras itu, langkah kaki pamannya mendekat. Pria itu juga tak perlu berakting seolah pria yang lembut. Rambut Alexandra dijenggut, memaksa wajahnya tegak sehingga mereka berdua dapat bersitatap.


"Maka, lakukan sesuai perintahku. Mari kuajari apa itu berbisnis."


***


Victor bangun dari tidurnya yang lebih lelap dari biasa. Matanya bergulir ke arah jam di atas nakas. Nyaris tengah hari, itulah mengapa kamarnya telah terang dan agak hangat. Ponsel yang tergeletak tak jauh dari jam berbentuk kotak itu tak berhenti berkedip-kedip. Sengaja ia aktifkan mode diam agar tidurnya menjadi lebih nyaman. Ia membuka kunci, memeriksa deretan nama pada pesan masuk, akun media sosial, dan seluruh panggilan tak terjawab. Rutinitas yang selalu ia jalani kala pertama kali membuka mata ini sebenarnya melelahkan. Ia tak begitu suka dengan orang-orang tak dikenal yang nekat menandai dirinya dalam unggahan remeh di media sosial.


Para penelepon itu juga tak semuanya orang penting. Terkadang orang iseng, lantas Victor mengirim salah satu body guard miliknya yang sedang memiliki waktu luang untuk mampir ke rumah si penelepon iseng. Ia tak tahu bagaimana body guard itu memberikan sedikit pelajaran, tetapi pada hari-hari berikutnya tak ada lagi panggilan usil si penelepon. Baguslah, dengan itu berkurang satu orang dan muncul lagi penelepon aneh lainnya. Tuhan, kenapa manusia zaman sekarang semakin menyusahkan saja setelah segala halnya dimudahkan dengan teknologi?


"Tuan, apa Anda sudah bangun?" Ketukan pintu dan suara Teddy menjadi salah satu pelengkap dalam mengawali hari.


Setelah Victor memberikan isyarat agar sekretaris pribadinya itu masuk, Victor menjatuhkan lagi tubuhnya di ranjang. Berlama-lama di kasur dan menunda kegiatan memang cukup menyenangkan. Kecuali jika Teddy sudah masuk dan mengacaukan segalanya dengan senarai kegiatan yang harus dilakukan hari itu.


"Tidur Anda nyenyak sekali, Tuan." Teddy meletakkan sarapan Victor di atas nakas. Sama seperti sarapan manusia normal kebanyakan. Ada sereal, beberapa potong roti yang telah dipanggang, segelas kopi americano pahit, dan beberapa butir anggur hijau yang bergerombol di tangkainya.


"Ya, aku bisa tidur dengan nyenyak semalam. Lucu, karena harusnya aku tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan tentang Alexandra." Victor mencomot sebutir anggur mengunyahnya perlahan dan menelan bijinya sekaligus.


"Anda dicari Nona Jane," imbuh Teddy.


Mendengar nama itu, Victor menunda makannya. Ia mengerutkan kening dan menghela napas. Jane, salah satu dari gundiknya yang banyak permintaan. Terakhir kali, ia meminta operasi silikon di payudara, kali ini ia akan minta apa lagi? Sudah cukup banyak kelakuannya yang membuat Victor muak.


"Dia hanya merasa sudah terlalu lama sejak Tuan mengunjungi kamarnya. Dia ingin Anda datang," Teddy yang menjeda kalimatnya sebentar lantas berdeham, wajahnya memerah, "Ia ingin tahu apakah Tuan akan suka dengan hasil operasi itu. Anda bisa mencoba, ehem. Anda pasti tahu apa kelanjutannya."


Lagi-lagi Victor dibuat jengah dengan kelakuan Jane. Bisakah ia tidak meminta tolong orang lain ketika mengundang Victor ke kamar? Ia juga yakin jika Teddy juga mendapat sedikit 'service' dari Jane. Ia memang terkenal suka menggoda pria. Tak heran karena pekerjaan Jane sebelumnya adalah hostess sebuah bar besar di kota sebelah.


"Aku akan pikirkan itu nanti. Apakah dia juga menggodamu?" tanya Victor sembari melanjutkan sarapan siangnya.


"Tidak, Tuan. Ya, sebenarnya ketika meminta menyampaikan ini padamu, ia hanya mengenakan gaun tidur tipis dan, ya, memamerkan payudara barunya. Belahan gaun tidur itu sangat rendah. Jadi, maafkan kalau saya lancang." Teddy mundur beberapa langkah, wajahnya menunduk. Victor dapat melihat telinga pria malang itu memerah.


"Sepertinya Anda harus menundanya terlebih dulu, Tuanku. Karena malam ini adalah peringatan tahun kedua Nona Ivanka dibawa ke sini dari Rusia. Ia tentu tak mau Anda menghabiskan malam dengan Nona Jane."


Kepala Victor pening. Sudah berapa kali ia mengalami hal serupa ketika para gundiknya saling berebut perhatian dengan beragam cara. Berhari-hari memikirkan cara mendapatkan Alexandra ke dalam pelukannya sesaat membuat Victor terlupa bahwa ia memiliki lima gundik lain yang masih mendiami kastelnya. Sekaligus menjadi alat pemuas kebutuhan seksualnya. Jika Alexandra bergabung dengan deretan gundik itu, maka ia akan memiliki enam gundik yang nantinya akan saling berebut perhatian.


Oh, Tuhan. Mungkin inilah azab yang dilimpahkan-Nya karena telah menyalahi kodrat dengan hidup beratus tahun. Wanita-wanita itu selalu cerewet, sesekali Victor memilih pergi ke tempat pelacuran dengan menyamarkan identitas. Gundik terlalu banyak mau, jika keinginan mereka tak dipenuhi, maka kebutuhan biologisnya juga terancam tak akan terpenuhi. Pelacur tak banyak minta ini-itu. Selama ia membawa segepok uang, mereka akan diam. Hanya berkata seperlunya saja dan tidak akan meminta banyak. Syukur-syukur mereka mau mendengar curhatannya tentang gundik-gundiknya itu.


"Baiklah, dia pasti akan minta hadiah. Apa yang dia inginkan akhir-akhir ini?"


"Melalui unggahannya di Instagram. Ia menginginkan tas keluaran eksklusif dari Bucci. Harganya setara dengan mobil Anda, Tuan."


Kepala Victor kembali berdenyut pusing. "Mobil yang mana?"


"Yang hendak Anda jual karena bosan itu."


Victor tak habis pikir, mengapa para wanita rela mengosongkan dompet mereka---dan pria mereka---demi sebuah tas yang harganya sama dengan mobil. Daripada membeli tas bukankah lebih bijak membeli mobil atau rumah?


"Ya, sudah. Hubungi salah satu gerai di sana, tanyakan apa mereka mau menukar tas itu dengan mobilku. Atau jual mobil itu seharga tasnya, kalau uangnya masih kurang bisa dilunasi nanti."


"Baiklah, Tuan." Teddy mengangguk, tetapi tak kunjung meninggalkan tempatnya. Victor melirik, alisnya terangkat naik ketika mendapati Teddy masih berdiri di sana sembari membuka ponsel.


"Apa lagi?" tanya Victor tak sabaran.


"Nona Eliza dan Nona Ling hari ini protes karena juru masak diganti. Mereka tak suka dengan juru masak yang sekarang. Padahal juru masak itu telah dipilih langsung oleh Nona Ruby. Mereka meminta juru masak yang lama juga direkrut lagi."


"Ya, sudah. Suruh dia datang lagi."


Untuk ke sekian kalinya, Victor mengurut pelipisnya. Kepala berkedut makin pusing setiap kali Teddy menyebutkan nama-nama gundiknya. Ruby yang paling tua, lalu Jane, Ivanka, Eliza, dan yang paling muda, Ling. Sudah lengkap semua.


"Seperti biasa, Nona Ruby tenang dan kalem. Ia masih enggan beranjak dari perpustakaan dan ruang kerjanya. Anda beruntung ia tidak serepot gundik-gundik yang lain walaupun dia terlalu dianggap seperti bos oleh yang lain," tandas Teddy.


Victor menghela napas. Akhirnya dia bisa melanjutkan makan dengan tenang. Teddy membungkuk dalam sebagai pengganti pamit. Ia meninggalkan kamar Victor setelah diberikan lambaian tangan kesal. Victor belum sempat mengumumkan secara resmi pada mereka hendak membawa satu orang lagi. Ruby yang paling dewasa di antara yang lain mungkin tak akan menganggap rumit perkara penambahan satu gundik lagi di dalam kastel. Tentu saja yang jadi masalah adalah tiga lainnya. Jane, Eliza, dan Ling. Jane yang paling manja di antara yang lain kendati usianya hanya terpaut dua tahun lebih muda dari Ruby. Eliza dan Ling baru umur dua puluhan, mereka juga cukup manja dan senang mencari perhatian. Mereka memang masih muda, Victor memakluminya.


Ivanka berada di tengah-tengah mereka. Ia cukup dewasa, tetapi terkadang juga menunjukkan sisi manjanya di hadapan Victor. Sementara di depan gundik lain ia selalu berusaha bersikap lebih dewasa dan terkesan menjauhi masalah. Usianya pertengahan dua puluh, lebih muda dari Jane. Namun ia salah satu yang dapat diandalkan dalam melerai keributan antar gundik dalam kastel. Mereka semua saling melengkapi.


Victor menandaskan sarapannya yang kesiangan itu. Ada banyak ramuan yang harus ia selesaikan hari ini.


To.Be.Continue