
Bagian ekor gaun Alexandra menyapu lantai. Langkahnya besar-besar mengetuk lantai, tatapannya fokus ke depan dengan sorot mata berat, pundaknya tegang, dan rahangnya mengeras. Aura gelap yang dibawa sang gadis mengundang tatapan beragam para tamu undangan. Ada bisik-bisik penuh gosip dan beberapa tatapan penasaran. Alexandra sendiri tak begitu acuh. Ia telah sering menghadapi hal seperti ini setiap hari dari para pelayan penjilat kaki Irene dan bibinya.
Alexandra telah mengokohkan hati kalau-kalau rencana yang tiba-tiba saja terlintas di otaknya kali ini akan membawanya pada masalah. Ia terlalu banyak mengawali masalah dengan Irene dan sang bibi. Rasa-rasanya jika membuat satu masalah lagi malam ini, tak akan terlalu kentara. Langkah kakinya makin dipacu, sorot mata dipertajam. Punggung pamannya mengintip dari tubuh-tubuh beraroma wangi para tamu undangan. Pria itu tengah berbincang serius dengan Victor. Pun pria tampan itu sesaat mengalihkan pandangannya dari lawan bicara hanya untuk mengembangkan sebuah senyum tipis pada Alexandra.
Alexandra menghentikan langkah di samping pamannya. Pria itu sesaat meliriknya tak suka. Seakan Alexandra tak pernah dididik sopan santun. Menyela pembicaraan, terutama orang dewasa, lebih buruk lagi. Terlebih lagi ada Victor di sana.
"Tidak apa-apa, biarkan dia di sini. Kau juga tahu aku suka dengan dia bukan?" Victor buru-buru mendahului Davis sebelum pria itu mengusir Alexandra.
"Bukan, Tuan. Hanya saja, dia masih muda. Belum saatnya ia mengetahui pembicaraan orang dewasa. Apalagi ikut campur dalam masalah orang dewasa." Davis membungkuk. Ekspresi wajahnya diliputi kegelisahan semenjak Charlotte membawa kembali pembicaraan tentang anting-anting milik Margareth yang hilang sejak kecelakaan sepuluh tahun yang lalu.
Anting-anting itu hanya ada sepasang di dunia. Margareth sendiri yang merancangnya dan meminta pengrajin perhiasan membuatkan satu pasang khusus untuk dirinya. Anting-anting itu selalu menjadi bahan pembicaraan Charlotte. Sebagai bentuk iri yang mendalam karena waktu itu ia belum mampu secara finansial melakukan hal yang sama. Ketika jasad Margareth ditemukan pada pagi harinya, anting-anting itu tak lagi menghiasi telinganya. Baik Davis dan Charlotte telah meyakini bahwa anting-anting itu hilang terbawa arus. Namun, siapa sangka bahwa anting-anting itu dapat ditemukan kembali. Kemungkinan terbesar adalah karena Victor. Pria itu mungkin mengetahui apa yang terjadi di belakang insiden yang merenggut nyawa Daniel.
Jika Victor telah mengetahui rahasia tersebut dan memberikan petunjuk kecil agar Davis dan Charlotte mengetahui bahwa Victor memiliki rahasia tersebut di tangannya, maka Victor memiliki rencana lain bagi mereka. Yang mungkin saja dapat mengancam keberadaan mereka di muka bumi daripada surat wasiat kakaknya. Jika surat wasiat kakaknya bisa menjebloskannya ke penjara, maka Victor dapat mengantarkan Davis pada kakaknya.
"Sebentar lagi umurku sembilan belas tahun, Paman. Aku akan dewasa kurang dari sebulan, jadi Paman tak perlu khawatir lagi aku tak bisa mengurus diriku sendiri." Ucapan percaya diri Alexandra untuk sesaat menjadi pusat atensi para tamu undangan. Pun Charlotte yang tengah merangkul pundak putrinya di sudut ruangan.
Sebelum Alexandra kembali, Irene telah menjadi pusat perhatian terlebih dulu karena menangis hingga mencari ibunya. Gadis itu enggan menyebutkan apa hal yang baru saja menimpanya. Ia bergetar, ketakutan, tak punya daya. Seolah baru saja melihat hantu atau ... Victor. Pria itu adalah orang terakhir yang berbincang dengan Irene. Namun Charlotte sendiri tak ada keberanian mengulik hal yang ada hubungannya dengan Victor. Ia masih ingin hidup dengan tenang sampai tua.
Sementara para tamu undangan mulai mengalihkan perhatian mereka pada Alexandra dan pamannya, Victor berpandangan dengan Teddy yang masih menikmati waktu menjadi bunga yang merayap di dinding. Mereka menangkap hal yang buruk akan segera terjadi di sini.
"Paman, tolong bicara jujur padaku. Apa yang sebenarnya terjadi pada orangtuaku sampai-sampai mereka meninggalkan warisan yang sangat fantastis?" Pertanyaan Alexandra meluncur begitu saja. Seperti sebuah peluru yang melesat, mendesing kenang lantas menusuk tepat di jantung. Davis seketika beku. Pun dengan Charlotte yang mendengar tanya tersebut dari kejauhan. Ekspresi mereka tak dapat terdeskripsi dengan kata-kata. Seakan nyawa baru saja ditarik dari tubuh dengan paksa.
Untuk sesaat, bisik-bisik para tamu undangan memenuhi ruangan pesta. Satu per satu kejanggalan yang selama ini mengendap di kepala Alexandra muncul melalui mulut mereka.
"Apakah menurutmu tidak aneh ketika Alexandra yang harusnya ikut mengambil alih bisnis keluarga tak pernah kelihatan sekali pun dalam acara formal yang diadakan pamannya?"
"Aku dengar Alexandra tak pernah dikenalkan sama sekali ke publik dalam setiap acara yang diadakan perusahaan besar itu."
"Lucu sekali. Nyonya besar dan nona mudanya selalu tampil di majalah bisnis dengan pakaian desainer dan tas-tas mahal itu. Mereka terus saja mengoceh tentang gaya hidup yang tak ada hubungannya dengan bisnis sama sekali. Tapi mengapa Alexandra yang sama sekali tak masuk padahal dia sudah masuk jurusan bisnis di universitas selama satu tahun."
"Kalau kalian melihat kehidupan Alexandra sehari-hari, dia terlihat sama saja seperti mahasiswi biasa. Jarang naik mobil, dia selalu berangkat kuliah dengan kendaraan umum."
"Dia lebih senang bergaul dengan pelayan. Apakah paman dan bibinya sengaja?"
Desas-desus itu terus berembus, tak memberikan ruang bagi Davis dan Charlotte menepis segala hal-hal buruk yang mereka lontarkan. Walau sebagian besar dari omongan itu tak salah. Mereka memang tak pernah memperkenalkan sosok Alexandra ke publik selain hari ini semenjak kematian sang ayah.
"Apa kaupikir mereka memperkenalkan Alexandra ke publik di depan semua tamu undangan karena ia yakin sebentar lagi Tuan Victor akan membawa Alexandra pergi?"
Ketika satu tanya entah dari siapa itu meluncur. Victor sendiri tersenyum kecut. Rencananya sendiri untuk membawa gadis itu dengan mudah, kini akan terkendali. Ia mengerutkan kening, dari mana Alexandra mendengar isi dari warisan yang telah ditinggalkan orangtuanya sejak sepuluh tahun silam? Nyonya Morris? Tidak, wanita tua itu sama sekali tak tahu. Yang wanita itu lakukan hanya mengawasi Alexandra dalam diam untuknya selama sebulan ini.
Teddy memang memiliki tanggung jawab mengutip informasi secara umum tentang Alexandra. Namun Nyonya Morris memiliki fungsi yang lebih krusial lagi. Victor membayar mahal wanita itu untuk menceritakan tentang segala yang ia ketahui tentang Alexandra. Mulai dari kelahirannya sampai sekarang. Juga, menjadi malaikat penolong yang mengabarkan kepada Victor perihal paku payung yang dimasukkan Irene pada sepatu Alexandra. Juga, segala informasi yang baru saja ia katakan pada Irene sendiri. Hingga membuat gadis itu merengek ketakutan bak anjing yang ekornya tergigit harimau. Ya, mungkin Victor adalah harimau itu.
Kini Victor harus memutar otak. Namun, pada akhirnya seringai itu terulas di bibir. Mengapa tak ia biarkan saja kekacauan ini mengalir, terlalu banyak hingga menggenang, lalu terjadilah banjir bandang. Ah, sebuah analogi yang buruk. Intinya, ia akan membiarkan Davis dan Charlotte melakukan semuanya sendirian. Toh, mereka juga sudah tahu bahwa Victor memiliki rahasia yang mereka simpan rapat-rapat. Maka ia menepuk tangannya kencang, seketika mengalihkan atensi pada ruangan tersebut.
"Ah, sepertinya ini akan menjadi sebuah pembicaraan panjang antar keluarga. Karena aku bukan salah satu di dalamnya, maka aku akan kembali saja. Pria ini juga butuh tidur. Semoga pembicaraan kalian segera menemui jalan terang, ya," pamit Victor lantas menganggukkan kepalanya sekilas.
Ia segera meninggalkan ruang pesta. Diikuti dengan Teddy yang baru saja bergabung setelah melewati kerumunan para tamu yang terlalu padat. Begitu dua pria tersebut memasuki mobil, aura yang agak tegang itu merayap masuk.
"Jadi, rencana Anda mendorong Davis dan Charlotte secara diam-diam agar menyerahkan Alexandra pada Anda terancam gagal. Alexandra sendiri pun ragu untuk masuk ke kastel Anda, seperti yang Anda duga. Lalu, setelah gadis itu memiliki alasan agar tetap bertahan, apa rencana Anda?" tutur Teddy panjang lebar.
Victor sendiri tak menunjukkan ekspresi yang dapat terbaca. Pria itu menyandarkan siku tangan ke jendela mobil. Jemarinya yang menutupi mulut itu sesekali memijat bibirnya. Sudah lama sekali rasanya Teddy tak melihat gestur tersebut. Sebuah gestur yang menandai bahwa Tuannya sedang memiliki pemikiran yang dalam. Hanya satu nama yang selama ini dapat membuat Tuannya melakukan hal demikian. Marin. Mendiang istrinya. Itulah yang sering disebutkan sang ibu, dari mulut neneknya juga, lalu nenek buyutnya. Mereka semua kompak mengenai hal ini.
Teddy sendiri mencoba memahami. Kemiripan Alexandra dengan mendiang istri Tuannya tersebut memang luar biasa. Lukisan cantik sang mendiang istri yang tergantung pada dinding ruang kerjanya adalah bukti dari kecantikan yang tak akan pernah memiliki tandingan. Marion. Selama ini Tuannya selalu menutup bibirnya rapat-rapat tentang sang mendiang istri. Bahkan para gundiknya sendiri tak berani menyebut nama itu.
"Kenapa tak kita biarkan saja?" Victor lantas menurunkan sikunya dari jendela. Sabuk pengaman yang tersampir itu segera ia pasang pada tempatnya. Sebuah isyarat bahwa mereka harus pergi secepatnya dari tempat tersebut.
Teddy tak dapat bertanya banyak lagi. Tuannya tak dapat dibujuk. Mungkin ia juga memiliki rencana sendiri. Nantinya Teddy juga akan mendapat bocoran dari rencana itu. Maka sang pria yang menduduki kursi pengemudi tak memiliki pilihan selain kembali pada kastel. Malam itu, mereka meninggalkan pesta dan perang yang akan terjadi setelahnya.
To.Be.Continue