
"Setengah jam lalu.
"Em..hiks..hiks..bibi..buka..hiks..." liana mengetuk-ngetuk pintu.
krekk.."...tap..tap..tap??
"Hm....hah..." liana berbalik saat mendengar bunyi dari belakang tubuhnya'namun ia tak begitu peduli pada suara itu,karna memang tak ada yang bisa ia lihat selain kegelapan.
'Huuuh..."...suara napas sangat pelan'karna menangis gadis ini tak merasa atau mendengar.
"Ibu..hiks...aku sangat merindukanmu...ya tuhan kenapa mereka memfitnahku.......hiks."liana terduduk didekat pintu.
Tok..tok.."..
"Liana,apa kamu didalam.." suara dean yang nyaring terdengar.
"Tuan dean,,,iya saya disini..." sambungnya liana.
"Em..orang tua itu,benar-benar keterlaluan,,..liana tunggulah,,aku akan bicara pada ibu dan kaka'supaya melepaskanmu...jangan menangis ya.."
"Tuan dean 'tunggu,jangan pergi'tolong dengar ..'..euh..nyoya dilara masih emosi,percuma jika anda memohon sekarang...mm jangan kawatir saya akan baik-baik saja disini."
"Hm..liana aku dengar ibuku mencabukmu,..itu pasti sakit...'kamu harus segera diobati." dean begitu mencemaskannya.
"Eh..aw..iya..biar saja tuan,.." liana meringis pelan saat menyentuh bagian punggungnya.
Aku akan menemui kaka,,biar kuminta kunci pintu ini."
"Jangang ganggu dia tuan'...hiks..hiks..."
Liana kenapa menangis...lagi'."
"Tuan derren,pasti sedang kesakitan,, ,, dia sudah menolong saya...kenapa dia rela dicambuk..hiks." ?..??..terseyum mendengarkan.
Ah..biarkan saja..dia kan pria'aku juga pasti akan melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan gadis imut sepertimu.."sayang... jangan buang air matamu untuk pria yang sudah melupakanmu itu ya..." ..?..yang mendengar terheran..lalu mengepalkan tangan.
"Tuan...bisakah anda pergi keaula'nona quinsa,gadis kecil itu pasti menunggu saya'...bilang padanya kalau saya,sedang sakit alergi'tak bisa mendekatinya...ia akan mengerti jika alasannya seperti itu...mm terimakasih anda mau datang...saya tak akan menangis..pergilah."dean melepas napas panjang
Hm..baiklah....aku akan menemuimu besok..hah..yang sabar yah..gadis imutku." dean pun sepertinya pergi.
******
"Sebelumnya.
"Em..ya tuhan gelap sekali...."em....haw...aw..ee.." saat ingin melangkah kedepan'liana menjulurkan kedua tangannya'namun setelah beberapa langkah'tangan yang menerka-nerka itu menyentuh sesuatu.
'Ah.."liana sepontan mundur'terdiam sejenak,lalu maju dan meraba-raba lagi sesuatu yang membuatnya penasaran itu.
"Belum merespon,menahan napasnya,membiarkan menyentuhnya.entah apa maksudnya.
Iih...apa si..ini.." liana mengerutkan alis.
"huuuuuuuuh......''wajahnya ditiup dengan kencang,jelas saja liana sok dan mundur.
"Ah....ah..siapa..hiks..em lepas..."manusia ini mendekat pada tubuh liana yang sudah mentok dipintu.
"dek....suut..diam."
"Tuan..d'erren.."
'Yah..Hm..aku belum membalas malam itu,,tapi kamu sudah melecehkanku lagi...dasar gadis nakal." derren bicara dekat pada wajah liana'satu tangannya berada dipinggang ramping ini,dan satu lagi berada dipundak kecilnya .
"Auh..tuan...saya tak sengaja,memang tak tau kalau itu tubuh anda...sung..guh." liana tak bisa apa-apa selain menuduk dan tak bergerak.
Sebenarnya tak saling melihat'kegelapan membuat kedua hanya mendengar dan merasa.
"Hm..aku ingat bau tubuhmu ini,apa kamu tak merasakan ada napasku dari tadi sini..mm."
Mm.." liana menggelengkan kepala'tangan derren menghentikan,dan mempokuskan wajah opal itu kedepan.
"Ooh..begitu ya.."baiklah,akan ku buat kamu selalu mengingatnya..em.."yah tak tahan juga,pria ini mencium bibir yang tak terlihat rupanya itu,namun ia menikmati rasa dan aromanya.he
"E..mm..ah...hah'." liana mencoba mendorong tubuh derren yang tak mengenakan baju itu.namun tak berhasil'ahirnya ia membiarkan bibir tuannya terus disentuh bibinya.
"Setelah itu Keduanya terdiam.
"Derren---,》kelembutan ini seperti pernah kurasakan,wajah ini tak pernah ada diingatan'tapi kenapa tubuhku selalu ingin meresponnya'hah tak berbuat apapun dirinya ini sudah mengodaku.
"Liana---,》bagai mana bisa melupakan,aku selalu tau aroma tubuh ini,hanya ingin menyakinkan diri'ternyata anda masih pemilik hatiku.
"Tuan..
Suutt.." satu jari derren menutup,bibir pelayannya.
"Liana,apa kamu baik-baik saja.." derren menyuruhnya menjawab pertanyaan orang yang ada dibalik pintu itu.
"Dokter aelis..iya saya tidak apa-apa." derren tak sedikit pun menjauh,sepertinya ia masih senang mendekap pelayan mungilnya.
"Hiks..liana maafkan aku,semua ini salahku'supah aku tak tau kalau itu kamarmu." kedua yang mendengar terheran.
"Sebenarnya aku yang menaruh kotak perhiasan dikamarmu,..em dengar dulu penjelasaku liana..aku bukan pencuri,,barang itu tadinya ada dikamarku seseorang pasti ingin memfitnah dengan menjebakku,dan aku tau siapa orangnya,...dia pasti nona talita'karana waktu itu dia pernah mengacamku,dan ada bukti kalau memang dirinya yang melakukan."
Dokter..aelis.." liana menatap mata yang dari tadi melihatnya.
"Talita memintaku keluar dari rumah ini,dia tak suka melihat aku mendekati tuan derren,...liana..aku tak mau pergi dari sini..memang benar diriku ini menyukai tuan derren,aku tak ingin jauh darinya..ini salah...tapi aku tak bisa menahan perasaanku hiks......" liana menuduk,ia tak bisa menjawab,karna dokter itu sudah mengutarakan isi hati langsung pada pria yang disukainya.
"Hm...'ha.." derren terseyum melihat bibir yang mulai cemberut,wajah imut itu tak bisa menyembuyikan kecemburuannya.
"Dokter,jangan menuduh sembarang dulu,belum tentu ka inka yang melakukan'semua sudah terjadi...biar tuan derren yang menentukan nasib saya."..
"Liana apa kamu marah padaku..hiks...hiks...kupikir itu kamar talita,karana dia tidur disana."
"Sudah jangan dibahas,,...saya tak marah pada dokter,ini sudah malam..pergilah tidur'anda besok harus merawat tuan derren kan."
"Mm..maafkan aku liana." dokter aelis pergi.
"Em..tuan lepas.."
'Kenapa kamu suka menyentuh bagian dadaku ini mm."derren pun mundur lalu menolak pinggang,ia melihat dada yang sudah beberapa kali liana sentuh.
"Hm..itu bukan disengaja....."hah..tuan jadi tempat ini tidak seseram yang diceritakan ka ical." liana terkejut melihat kesekitaran saat derren menyalakan lampu ruang yang tadinya gelap gulita itu.
'Sekarang derren ada dibelakang tubuh liana,gadis ini sedang melihat seisi ruangan'sementara mata pria ini tertuju pada punggung pelayan mungil ini.
"Dek...apa kamu tak merasakan sakit.." tangan derren merangkul bahu liana.
"Tentu rasa tuan..tapi tak terlalu,anda lah yang pasti lebih sakit..." sautnya.
'Duduk.. sini ku obati..."
Ah tidak...tuan,lukanya tak seberapa..nanti saja selin yang melakukan."
"Kenapa,..apa kamu malu,kekasihmu tak ada disini,suamimu juga belum ditemukan,...tenang saja ini akan menjadi rahasiah kita berdua." masudnya apa ya.
"Liana---》??..hah..kekasiku anda'suamiku juga anda...tuaaan. (gadis ini ingin sekali mengelurkan isi pikirannya.)
"Hah..apa maksudnya tuan..."emh ya tuhan luka anda." liana baru melihat punggung derren yang dicambuk tadi.
'Ini salahmu,tubuhku sekarang jadi jelek..kan...sini ku lihat lukamu"
"Tidak tuan,." liana terus menghindar saat derren ingin menarik tubuhnya.
"Bibi anita ...kemari." derren menekan tombol pangilan servis,yang ada diruang itu.
Liana terkejut melihat lemari yang bergeser,yah'itu adalah pintu rahasiah,ruangan gelap ini terhubung langsung dengan kamar derren.
"Tuan.."anita menyapa.
" Tolong obati lukanya..ini oleskan pelan-pelan."derren memberika salep itu pada anita.
Liana buka bajunya...ayo biar lukanya ku obati."
"Disini bi..., tuan'... bisakan anda pergi.."
Aku tak akan melihat,...ini rumahku'dan kamu pelayanku jadi jangan mengusir terus turuti saja peritahku."
'Hm..hihi sudah liana,ayo..bibi yang buka." derren berbalik,sebenarnya apa susahnya si pergi dulu'dia malah duduk dimeja'mengawasi.
"Hiks..bibi perih..aw.." baru terkena salep sedikit liana sudah meringis'derren yang mendengar rintihan itu jadi melirik.
Hm..bibi jangan banyak-banyak,dia kesakitan'obat itu memang mebuat luka jadi perih." oh maksudnya menunggu karna cemas'dengan orang yang mengganggu hatinya.
"Em..tuan tolong jangan melihat kesini.."sautnya risih'namun derren tak peduli omongan itu,ia masih terus menatapnya,bibi itu hanya terseyum.
"Setelah selesai,pria kaya ini menyuruh kepala pelayan itu keluar.
Ini minum..apa kamu lapar.."oh baiklah,ini sudah larut'ayo kita tidur.." mengelengkan kepala lalu terkejut.
Hah...tidur...'e..tuan silahkan saja anda pergi'saya akan tunggu pagi disini...'aah..." tangannya ditarik'dirinya dibawa masuk kedalam pintu lemari yang dibuka.
D'erren mendudukan liana diranjangnya'lalu menyuruh tubuh itu berbaring.
Aku janji tak akan mengganggumu...tidurlah.." derren duduk lalu membaringkan tubuhnya sendiri ke kursi panjang yang berada tak jauh dari ranjangnya itu.
Meski tak enak liana menuruti'ia juga merasa ingin merebahkan tubuh yang lelah,dia sengaja memiringkan badan menghadap tuannya.
Begitu juga derren'karna terluka jadi tidur pun sama menyaping menghadap liana.
"Aku sedang mencari sandi,dia harus cepat ditemukan,apa kalian benar-benar telah menikah.?"
Euh..." tak mau menjawab.
'Hm....sebelum aku hilang ingatan'apa hubunganmu denganku...hanya sekedar,antara bos dan anak buah....'tadi siang aku mendatangi perusahaan berlian,salah satu pegawai itu bilang terahir aku kesana membuat sebuah gelang kaki..yang dimana gelang itu kubuat untuk orang yang sangat kucintai.." keduanya saling menatap.
"suana jadi hening,tak ada sepatah katapun keluar dari mulut keduanya lagi'liana terlihat menutup mata,sepetinya derren pun tak mempermasalahkan'kedipan gadis itu mungkin sudah menjawab'unek-uneknya.
"Derren---》tadinya ingin berhati-hati,pada wajah ini.sekarang malah dia yang harus waspada terhadapku.