
"Siang tadi.
Nyoya dilara'...ada tamu yang sudah menunggu anda didalam." pelayan papiliun menyapa.
"Yah aku tau,..." dilara menghampiri orang-orang yang sudah menunggunya dari tadi.
Nyoya selamat siang'.."ketiga tamu wanita itu menyapa.
Hm'..apa kabar kalian...ayo silahkan duduk...'apa ada barang baru..mm." dilara bertanya.
"Iya,nyoya kami datang ingin menujukkannya'kalung berlian terbaru ini dibuat hanya satu-satunya,barang kali anda berminat memilikkinya." ternyata mereka seles dari perusahaan berlian dan emas,langganan istri kedua tuan felik ini.
"Ooh...coba keluarkan aku ingin melihatnya..." mereka pun membuka kotak mewah yang dibawa.
'Wah cantik sekali...benarkah ini dibuat satu-satunya di dunia." dilara memang menyukai barang-barang berharga.
"Keluaga tuan felik memang tak harus repot-repot datang ke toko untuk memenuhi keinginnannya'tingal telepon sipenjual dengan senang hati akan datang'karana rata-rata dari mereka tau jika keluaga ini sangatlah kaya.
'Liana kamu dimana,aku jenuh sediri dikamar ini.....'oh baiklah...aku akan kesana.." talita sedang teleponan.
"Kekasih derren ini,berjalan kesegala arah untuk mencari aula quinsa'ia malas bertanya pada para pelayan yang lalu lalang dirumah itu,soalnya mereka pasti tak akan memberi tau,karna talita yakin orang-orang itu tak menyukainya.
"Hm..mungkin yang ini.." talita masuk kesalah satu aula'namun tiba-tiba ia menghentikan langkah kakinya,ternyata ini kediamman nyoya kedua.
'Talita bersembunyi di balik pintu,ia menguping pembicaraan dilara dengan para tamu itu'setelah setengah jam mendengarkan ia berjalan keluar,dan entah apa yang kini dia pikirkan.
"Mm..pergilah yang jauh dokter sombong."terburu-buru dan singkat cerita'beberapa menit kemudian itu'talita berlari tergesa-gesa.
'Halo..ka,..mm...baiklah biar saya yang kesana,ka'ka kalau mau tiduran saja dikamarku." liana menuju aula derren'memang dirinya masih tinggal dikamar yang ada ditempat tuannya itu.
"Nona cantik tunggu disini dulu ya...kaka mau kekamar..sebentar .." gadis kecil itu menganguk.
"Ka..apa masih sakit." tanya liana pada talita,
"Mm....liana ranjangmu sangat empuk,em..nyamannya...tidur disini." liana melihat talita yang tiduran dikasurnya.
"Baiklah kaka istrahat saja dulu..nanti saya akan mintakan obat supaya ka inka cepat sembuh..yah."
'Makasih,kamu memang temanku yang paling baik...liana."
*****
"Haauh'...lelahnya,...aku tiduran ah...'em..?....hah...milik siapa ini."saat ingin tiduran dokter aelis tak sengaja melihat pintu lemari mejanya sedikit terbuka,ia pun bangun dan terkejut setelah menarik laci'ada kotak segi empat mewah yang tersimpan disana.
"Aelis keluar saat mendengar ribut para pelayan,bisik-bisik mereka berbicara'katanya ada pemilik rumah yang kehilangan barang mahal.
'Hm...ada yang ingin mencoba mempitnahku...hah lagu lama." aelis kembali kekamarnya dan membawa kotak itu ke aula derren.
"Eum..dokter aelis...kebetulan disini,..ka inka sedang tak enak badan bisakan anda memeriksanya sebentar."liana menghentikan langkah aelis.
"Ooh tentu...tapi Siapa inka...."saut aelis.
'Mm..maksud saya,ka talita..."liana terseyum.
"Em..kebetulan...baiklah.. dimana dia.."liana mengantarkan dokter itu kekamarnya.
"Liana..kenapa bawa dokter ini kesini.."talita terkejut melihat saingannya itu datang.
'Kaka kan sakit,kebetulan dokter aelis kesini..jadi sekalian saja periksa'... iyakan....em baiklah saya keluar dulu....silahkan dok." lalu liana meningalkan, kedua wanita ini.
" apa yang terasa sakit,,,talita..." mata aelis menyempit saat bertanya.
"Euh...perutku tak enak..sedikit pusing juga." talita sempat gugup dan kebinggungan.
"Ooh begitu ya..baiklah sepertinya kamu harus disutik."talita mengerutkan kening saat dokter ini memainkan jarum suntik.
'Tidak perlu...aku akan baikkan tanpa disuntik..permisi aku ingin ketoilet dulu." aelis terseyum,dan talita pergi kekamar mandi.
*******
"Gosip yang berhembus semakin gecar dikediaman nyoya dilara,kabar hilangnya kalung berlian belum sampai ke aula derren,anita tadinya belum tau juga.
"Sampailah malam ini.
'Nyoya bagai mana bisa hilang...para pelayan inikan sudah lama melayani anda'tak mungkin mereka yang melakukannya." anita dipangil ke aula dilara.
"Tapi berlian itu memang hilang anita....sekarang aku tak mau tau kamu kumpulkan para pekerja dan periksa semua kamarnya,,.."
Baiklah...nyoya..." dimulai dari kamar pelayan nyoya dilara sampai papiliun pelayan tuan felik pun ikut di geledah'namun barang itu belum diketemukan.
"Kini mereka menuju kediaman tuan derren'dan disana para pelayan dikumpulkan termasuk liana'mereka sudah mendengar kabar hilangnya kalung itu.
'Talita----hm habislah kamu aelis.
"Tatapan mata kedua wanita ini'seakan saling bicara.
"Dokter aelis---- jangan senang dulu talita..kamu pikir bisa mempitnahku dengan cara seperti ini..mm.
"Liana dan para pelayan lain,menunggu hasil pengeledahan,karna tak merasa ia santai saja menanggapi masalah ini.
'Nyoya dilara yang dari tadi geram pada sipencuri modar-madir tak jelas'tiba-tiba seorang ajudan yang mengeledah berlari dan menghampiri semua orang yang berkumpul.
"Nyoya apa ini barang yang hilang itu." semua terkejut.
"Yah benar ini milikku." saut dilara.
'Anita melihat pada liana,ia tadi ikut pengeledahan dan tau di mana ajudan itu menemukan barang curian ini.
"Cepat katakan,ada dikamar siapa barangku ini.." dilara bertanya pada anita.
"Hm..kamar pelayan...liana..!." talita,aelis...dan pasti sipemilik kamar begitu terkejut.
"Tidak saya tidak mencuri barang itu..bukan saya pelakunya." liana yang sok langsung membela diri.
"Kamu..dasar gadis kampung..tak tau malu..berani sekali mencuri dirumahku,ayo cepat mengaku sebelum aku menghukummu." dilara yang geram menghampiri liana.
'Nyoya saya yakin pasti bukan liana yang mencuri.." saut ical'sementara yang lain tak berani berbuat apa-apa.
"Diam kamu..atau ku hukum juga..kalian semua tau kan jika mencuri dirumah ini hukumannya apa.... ayo katakan.." dilara berteriak...dan menarik salah satu pelayan supaya menjawab.
'Hukuman cabuk sepuluh kali,setelah itu baru akan di proses dikepolisian.."pelayan yang ketakutan ini menjelaskan.
"Liana memejamkan mata dan mengelus dada mendengar hukuman itu,aelis dan talita ikut panik mereka tak menyangka bahwa liana yang jadi korbannya.
"Anita ambil...cabuknya,aku sendiri yang akan memberinya pelajaran." kemarahan dilara membuat semua takut.
"Doktet aelis!--- ya tuhan aku harus apa,..hah derren." aelis berlari menuju kamar derren.
"Hiks..hiks..jangan nyoya,saya bersumpah tak melakukannya." liana didudukan dilantai,dilara sudah bersiap dengan cambuknya.
"Ayo mengaku.."
"Tidak saya tidak mencuri...nyoya."
"Berreet....ce..buukk.." cambuk itu diarahkan kepunggung liana'bunyi kerasnya hantaman sampai terdengar.
"Ah..eeem..hah..hiks..hiks.." liana meringis kesakitan,air matanya bercucuran menahan nyeri yang tiba-tiba.
"Eeh...rasakan ini.." dilara mencabuknya yang kedua kali'liana menjerit lagi.
"Hentik kan..." derren terkejut saat melihat kelakuan ibu tirinya.
"Hm..dia mencuri barangku dan aku berhak menghukumnya...jangan menghalangiku."
"Ini kediamanku dan dia pelayanku,jika ada masalah disini harusnya lapor padaku..'bibi anita kenapa bisa seperti ini...jelaskan." sambung derren.
'Kepala pelayan itu pun menjelaskan pajang lebar,derren mendengarkan sambil menatap liana yang menagis.
"sekarang kamu mengertikan...dia itu mencuri..biarkan aku melajutkan hukumannya."
"Tunggu...." derren mendekat pada liana.
Tua..percayalah saya tidak melakukannya." gadis ini menengak melihat derren.
"Menurutku ini masih belum jelas kalau dia pelakunya,aku minta untuk diselidiki kembali.."
"Silahkan..tapi hukuman cabuk tak bisa ditunda,kamu tau kan peraturan pelayan rumah ini..bila ketaua mencuri akan langsung ditidak ditempat,baru boleh dibawa polisi..." dilara tersenyum licik.
"Jangan kamu lakukan lagi,...dilara..."derren memang tak perna mengangap istri kedua ayahnya, siapa-siapa jadi ia hanya memangil nama.
'Oooh..tidak bisa,peraturan ini sudah dibuat dari dulu'biar para pelayan tau bahwa hukuman di memang terus berlaku." derren menarik napas.
"Hah..baiklah karna aku tuan rumah disini,sudah seharusnya bertanggung jawab'jadi cambuklah tubuhku,aku akan menggatikannya." semua terkejut.
D'erren..." talita merasa salah begitu pun aelis.
"Tuan..jangan'biar saya saja..hiks.."saut liana.
'Mm..ayo mulai,..". dilara pun tak segan mencabuk anak tiri yang ia benci ini.
"Delapan kali dilara mencambuk derren,namun pria ini tak sedikit pun menjerit kesakitan.
"Hm..apa kamu sudah puas..Dengar jika tak terbukti bukan dia pelakunya,,,aku akan membalas cambukkan ini padamu." setelah selesai hukuman itu derren berdiri dan mengacam dilara.
"Yah..mm....anita tlpn polisi,biar pencuri itu dibawa malam ini juga."derren makin kesal.
"Hm..bibi anita..aku ini pewaris,tak perlu menuruti kata-kata dia..."
"Derren,dia bisa kabur..jika tak ditahan.."dilara masih menyulut.
"Sudah ku bilang akan tanggung jawab,...bibi anita bawa pelayan ini keruang gelap dan kunci dia...jangan keluarkan sebelum aku yang suruh." derren menyakinkan dilara.
"Hm..." ahirnya dilara pergi,para pelayan pun bubar.
"Bibi anita jangan bawa liana..." aelis merasa bersalah,ia tak tau bahwa kamar itu milik liana bukan talita.
"Liana.." talita pun ikut mencegah anita yang ingin membawa anak buahnya.
"Mm." dengan mengerakkan wajah derren menyuruh kepala pelayannya tetap mebawa liana keruang gelap.
"liana yang sedikit kesakitan pun berjalan dengan digadeng anita.
"Tuan...,,, aku akan mengobatimu.."dokter aelis langsung menghampiri derren'begitu juga talisa.
"Maaf tuan'ini pasti aga perih."derren membuka kemeja yang dikenakan,lalu aelis mengoles luka yang dicabuk dengan salep.
"Sayang..apa... sakit.." derren hanya diam.
"Hah.." derren berdiri dan mengabil salep'lalu pergi meningalkan wanita-wanita ini.
"Hiks..bibi saya takut."liana merengek.
"Liana maaf...tapi aku tak bisa menolak peritah,tuan derren."anita memasukan liana keruang bawah tanah yang memang gelap itu.
"Hiks..hiks...bibi anita tonglong jangan pergi." anita sebenarnya tak tega.
"Setelah setengah jam terdiam disana'liana mulai meraba-raba tempat itu,sesekali ia terkejut dengan apa yang ia sentuh,tempat itu benar-benar gelap'sama sekali tak ada yang bisa terlihat.
"Ya..tuhan hiks..gelap sekali...........'em...aw..aw..."liana merasa meraba sesuatu yang bergerak.
"Deek..suutt.🤫