
Di istana kerajaan demi-human. Beast tampak kesal, setelah tambangnya hancur kini berita tentang negeri nelayan yang terus memenangkan peperangan telah mengusiknya.
Beast sendiri seorang demi-human singa, mengenakan armor emas dan juga pedang besar sebagai senjata utama. Dia seorang pahlawan sekaligus raja di tempat ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Raja tolong tenangkan diri Anda dulu."
"Penasehat bagaimana situasi perangnya?"
"Kita sudah menaklukkan lima kerajaan, sebentar lagi melawan ras raksasa bukan hal menyulitkan lagi.. ngomong-ngomong negeri nelayan dan kerajaan itu akan berperang."
"Heh, itu cukup menguntungkan.... siapapun yang kalah akan mengurangi musuhku."
Beast tersenyum senang.
Sementara itu kelompok Yujin telah berkumpul dengan beberapa pasukan yang dikirim oleh Evelyn di sebuah bukit batu, musuh mereka adalah ras raksasa yang mampu membesarkan tubuh mereka setinggi 50 meter dengan tubuh dilengkapi zirah besi.
Di lihat sekilas mereka jelas bukan musuh untuk manusia biasa, beberapa kerajaan memilih untuk menyerah sebelum perang.
"Dari dulu aku juga sempat berfikir untuk melawan mereka, mengejutkan bahwa hal itu akan terlaksana hari ini."
Itu biasanya dikatakan oleh Liliana, namun sekarang yang mengatakannya adalah Testarossa yang tersenyum bersemangat.
Jika begini Yujin hanya bisa membiarkannya pergi.
Testarossa melompat di depan lima raksasa yang masing-masing membawa kapak di tangan mereka, berbeda terbalik dengan para pasukan yang melihatnya dari kejauhan Testarossa terlihat santai. Kelima raksasa mengirimkan kapak mereka secara bersamaan setelah mengelilingi Testarossa.
Hanya dengan satu tangan ia menahannya kemudian melemparkan mereka seperti anak kecil.
Para raksasa ambruk, bahkan untuk mereka itu juga hal merepotkan.
"Grand Final End," ucap Testarossa.
Dari atas langit yang sebelumnya berwarna biru cerah berubah menjadi merah darah. Liliana memberikan komentarnya.
"Raja iblis itu serius ingin mencoba menghancurkan kerajaan para raksasa dari tempatnya berdiri, paling tidak setengah benua akan hilang di peta."
"Mari kita hentikan."
Yujin segera menepuk punggung Testarossa.
"Aku hanya penasaran apa mereka bisa menahan sihir tingkat dewa seperti ini."
"Kurasakan itu tidak pantas dicoba sampai kapanpun."
Testarossa memalingkan wajahnya dengan cemberut, semua orang berfikir apa hari-hari ini dia mencoba bersikap imut.
Para raksasa terlihat gemetaran. Yujin memamerkan pedangnya.
"Hal yang barusan tidak dihitung, jika kalian ingin bertarung lagi maka aku tidak keberatan."
Semua raksasa mengibas-ngibaskan tangannya menunjukkan penolakan, tubuh mereka mengecil kemudian menjadi ukuran manusia pada umumnya dengan pakaian normal biasanya.
"Tidak, tidak, kami mengaku menyerah.... sihir barusan telah membuka mataku, bagi kalian kami hanya akar tidak berguna."
"Aku hanya berfikir kalian sampah saja."
Liliana terlalu jujur pada perasaannya yang membuat mereka kehilangan kepercayaan diri.
"Kami suka melakukan segala hal dengan damai, bisakah kami bertemu pemimpin kalian, banyak hal yang ingin kami bicarakan," Vesta memberikan penawaran.
"Soal itu, bisakah Anda menunggu... kami perlu membicarakan dengan yang lainnya juga."
"Kami tidak keberatan."
Tanpa ragu Yujin menyetujuinya.
Vesta menambahkan dengan sebuah pertanyaan setelah kepergian mereka.
"Jika mereka menolaknya bagaimana?"
"Tentu saja ras mereka akan musnah dari benua ini."
Testarossa mengatakannya dengan nada enteng, sebagai raja iblis kekuatannya tidak perlu diragukan lagi.
Para raksasa sebelumnya telah tiba di istana dengan kekecewaan menghadap raja yang duduk bersama istri dan putrinya.
"Bagaimana hasilnya, kalian berhasil menaklukkan negeri nelayan?"
Jawaban pertanyaan itu merupakan sesuatu yang tidak diharapkannya.