Living In Another World Is Hard!

Living In Another World Is Hard!
Chapter 58 : Di Balik Cerita



Vesta memikirkannya sesaat sebelum duduk di dekat Miko, Moris hendak menyusul namun dirinya dihentikan oleh tangan Yujin yang masih memandang dengan datar, dia tidak menunjukan wajah simpati ataupun belas kasih. Yujin hanya hidup dari perintah karenanya bahkan setelah waktu berlalu dia tidak bisa begitu saja menerima perasaan.


Sebagai gantinya ia hanya membantu menjelaskan.


"Apa kamu bisa mengobatinya Vesta?"


"Seharusnya bisa, jika seseorang tidak bisa melihat sejak mereka lahir memang akan sulit tapi jika seperti ini aku rasa masih bisa."


Testarossa hanya tersenyum kecil selagi bersandar di dinding, dia sudah tahu bahwa itu akan berhasil. Kutukan dari raja iblis sebelumnya sangatlah kuat tidak ada yang memiliki kesulitan lebih dari itu.


Untuk Liliana celingak-celinguk mencoba mencari makanan yang mana segera dicekik Testarossa melalui sikutnya.


"Di rumah orang jangan tidak sopan."


"Aku tidak ingin mendengarnya dari iblis, gak."


Mari pindah ke topik utama, Vesta mengulurkan tangannya dan sinar-sinar kecil bermunculan di sekelilingnya, sebelum Moris menyadarinya adiknya sudah membuka mata dengan air mata menetes dari wajah cantiknya.


"Miko?"


"Kakak aku bisa melihat lagi."


"Kamu tidak bercanda."


"Tidak."


Miko dengan bersemangat menunjukan setiap benda di rumah ini sembari menyebutkannya. Moris terduduk menangis.


Tentu saja itu air mata kebahagiaannya, semenjak kedua orang tuanya meninggal ia hanya memiliki adik satu-satunya, seharusnya Moris menjadi pemimpin suku namun dia hanya seorang yang pandai menggunakan ototnya dibandingkan kepalanya, pada akhirnya akan bijaksana memberikan hal tersebut pada adiknya.


Dia sedikit tidak enak meski demikian itu merupakan jalan yang terbaik, ketika adiknya sembuh itu akan membuatnya lebih memiliki masa depan cerah.


Miko bergerak untuk memeluk kakaknya.


"Dia sedih?"


"Singkatnya terlalu senang hingga menangis," balas Vesta pada Yujin.


"Aku tidak mau mengganggu kalian tapi dimanakah kami bisa beristirahat dan makan?"


"Nih orang tidak bisa membaca suasana."


Testarossa lebih mencekik Liliana.


"Uwaah, aku tidak bisa bernapas."


Semua orang akan setuju jika Yujin lebih baik dibandingkan naga menyebalkan ini, sebuah jamuan diadakan di luar ruangan dengan deretan buah-buahan, daging dan beberapa minuman alkohol.


Itu mengejutkan bahwa mereka memiliki hal semacam ini.


Vesta dan Yujin tidak minum dan hanya mengambil es kelapa muda dan beberapa makanan secukupnya.


Para Dark Elf bisa menggunakan sihir es yang kesulitannya cukup tinggi.


Untuk Liliana mereka mengabaikannya dipojokan dengan seluruh makanan di mejanya, dia orang yang rakus dan juga tidak peduli bagaimana orang menilainya, pada dasarnya dia juga seekor naga yang tidak tahu tata krama.


Moris berdeham sekali untuk melanjutkan.


"Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih, bagiku semua ini adalah sebuah keajaiban yang aku tunggu sangat lama sekali, jika kalian perlu sesuatu katakan saja, selagi aku mampu melakukannya pasti akan aku lakukan."


Moris meletakan tangannya di lutut selagi membungkuk ke arah Yujin.


Yujin hanya berfikir dia terlalu banyak mengucapkan terima kasih, untuk Vesta ataupun Miko keduanya tengah menari bersama iringan musik, sementara Testarossa hanya duduk berselonjor kaki selagi menyilangkan tangannya.


Aura darinya tidak berubah karenanya semua orang lebih suka membiarkannya begitu saja.


"Kami tidak terlalu menginginkan apapun, hanya saja bisa beritahu soal roh agung?"


"Baiklah."


Moris mengambil waktu sejenak sebelum melanjutkan kembali, ia berfikir bahwa kelompok Yujin tidak akan berhenti sebelum mencobanya.


"Meski aku bilang meminta izin, yang sebenarnya adalah kalian harus bisa mengalahkan roh agung."