Living In Another World Is Hard!

Living In Another World Is Hard!
Chapter 41 : Gadis Suci



Di tempat lain Vesta tampak kebingungan dengan situasi yang terjadi, para Paladin tidak berhenti terus menyerang mereka walau sebenarnya tidak ada siapapun yang berhasil melakukannya.


Ketika mereka mendekat ekor Liliana mencambuk mereka, dan ketika mereka menggunakan sihir. Sebuah pelindung secara kuat menyerapnya.


Liliana meraung, dan auman darinya cukup kuat menghentikan mereka untuk bergerak.


"Liliana kamu terlihat menikmati ini."


"Benarkah, aku cukup kesulitan menahan diri loh."


Perkataannya jelas tidak mencerminkan hal demikian. Namun kemenangan yang harus mereka jaga goyah dalam sekejap mata.


Sebuah pedang terbuat dari cahaya berjatuhan dari langit menusuk setiap tubuh Liliana, beruntung bahwa Liliana sempat menyadarinya hingga ia lebih dulu menjatuhkan Vesta ke tanah agar dia bisa selamat.


"Liliana?"


"Aku tidak apa-apa, hanya saja aku tidak bisa bergerak... larilah Vesta."


"Tidak, aku tidak akan melakukannya."


Tepat dari kerumunan Paladin seorang gadis dengan rambut pirang panjang muncul, ia mengenakan jubah pendeta serta membawa tongkat di tangannya.


Dia terlihat muda dan kecil namun semua Paladin langsung berlutut di depannya.


"Nona, Anda sudah kembali?"


"Aku merasakan firasat buruk, karenanya aku datang lebih cepat dari seharusnya, dan sepertinya firasatku benar."


Dia terlihat seperti gadis kecil namun jelas keliru untuk menganggapnya seperti itu, dia pemimpin kota ini.


"Jadi apa kalian ini musuh kami?"


Vesta melepaskan helm di kepalanya menampilkan mata berbentuk bintang.


"Aku manusia."


Mereka sebelumnya menyangka bahwa Vesta adalah iblis namun setelah melihat bahwa ia hanya seorang gadis mereka menjadi kebingungan.


Gadis suci memandangi dengan tatapan heran, ini bukan kedua kalinya ia melihat mata yang sama seperti itu.


"Bagaimana kamu memiliki mata dewi?"


Liliana memaksakan dirinya untuk bergerak, seluruh tubuhnya robek namun ia tidak memperdulikannya dan lalu menangkap Vesta dengan tangannya untuk terbang ke atas.


"Tunggu sebentar."


Keduanya telah menghilang dalam kegelapan malam.


"Nona apa kami harus mengejar mereka?"


"Lupakan saja, lebih dari itu... kenapa kalian juga di sini? Siapa yang menjaga pedang suci."


Mereka akhirnya mulai sadar dan ketika kembali pedang suci telah hilang seutuhnya, gadis suci menghela nafas panjang selagi menjatuhkan bahunya lemas.


"Maafkan kami nona."


"Tidak masalah, sepertinya serangan sebelumnya hanya pengalihan. Sebaiknya kalian sisir seluruh kota. Aku merasakan ada kehadiran iblis."


"Baik."


Melihat bagaimana seorang gadis kecil bersikap lebih dewasa dari orang disekitarnya memang terlihat aneh untuk disaksikan.


Gadis suci memilih untuk mengobati orang-orang yang terluka di sekitarnya, khususnya seorang pria yang terhimpit oleh bebatuan.


"Apa ini ulah raja iblis?"


"Tidak, aku berkunjung ke kediaman putri Roroa dan jelas kita sudah melakukan perdamaian dengan mereka."


"Lalu siapa mereka?"


"Aku baru mendengarnya tapi kurasa ini ulah sekte tertentu."


Gadis suci juga tidak bisa memastikan hal ini benar atau tidak, yang dia coba hanyalah menenangkan orang-orang di sekitarnya agar tidak membenci ras iblis.


Baginya setelah melihat mata milik Vesta, sangat ragu untuk menyebutnya seorang penjahat atau sebagainya.


Gadis suci berdiri sembari membawa tongkat di tangannya dan bergumam.


"Sebenarnya untuk apa mereka mencuri pedang suci... pedang itu sudah turun temurun berada di sini dan belum ada sosok pahlawan yang pantas memegangnya, sungguh... menjadi gadis suci sangat melelahkan."


"Maaf nona, apa Anda sedang mengeluh?"


"Berisik, aku juga manusia, wajar untuk melakukannya."