
Setelah berpamitan kelompok Yujin kembali melanjutkan perjalanan, mereka tidak memutuskan untuk mencari jalan lain melainkan hanya terus maju ke depan sampai akhirnya tiba di sebuah hutan bambu.
Di antara daun-daun yang berjatuhan seorang wanita tampak menari dengan indahnya, ia mengenakan Hanfu dengan perpaduan putih dan biru sementara rambutnya yang berwarna hitam tergerai sepinggul dengan hiasan mutiara mengikatnya.
Ia terus menyanyikan berbagai sajak dari beberapa penyair terkenal, yang cukup sulit dimengerti maknanya.
"Jadi roh agung itu seperti ini, Testarossa cepat habisi dia."
"Kenapa tidak kamu saja?"
"Tidak, tidak, aku berikan kehormatan itu padamu."
Vesta memiringkan kepala atas tindakan keduanya yang membuat Yujin menjelaskan.
"Aura dari orang ini sangatlah tidak normal, jika diibaratkan ia seperti Asuramaru."
Di samakan dengan sosok tersebut gadis yang sejak tadi menari terdiam.
"Apa kamu baru mengatakan bahwa aku mirip dengan iblis itu?"
"Sepertinya kamu mengenalnya."
"Jelas sekali seharusnya kontrak iblis sudah dibuat agar mereka tidak menyentuh kembali dunia ini."
Yujin membalas dengan ringan.
"Beberapa bawahannya mengkhianatinya dan gerbang Tartarus sudah terbuka."
Gadis itu membelakkan matanya sebelum berdeham sekali untuk kembali kepada seharusnya.
"Namaku Xien seharusnya para Dark Elf sudah melarang kalian untuk lewat sini bukan."
"Kami perlu melewati hutan ini secepatnya."
"Maka itu artinya kalian berhadapan denganku."
"Aku mengerti."
Yujin menarik pedang di pinggangnya, tepat saat ia melakukannya Xien sudah membungkukkan badannya, sementara bambu-bambu di belakangnya telah terpotong-potong.
Tentu saja bambu yang seharusnya hanya terbaring itu kembali ke bentuk sedia kala merapat hingga tidak menghasilkan jalan sedikitpun.
Inilah kenapa seseorang harus memiliki izin untuk melewati hutan ini.
Xien menatap kedua mata Yujin yang gelap gulita, jika ia tidak memperhatikan tubuhnya juga sudah terpotong barusan.
Yujin melirik ke arah belakangnya, Testarossa, Liliana dan juga Vesta telah berada di belakang untuk menonton selagi berkata.
"Berjuanglah."
Naga bencana, raja iblis dan dewi. Perpaduan mereka terlihat aneh terlebih saat mereka lari seperti ayam.
"Namamu?"
"Yujin."
"Yujin kah, kamu memiliki kekuatan iblis apa itu berasal dari Asuramaru?"
"Bisa dibilang begitu, aku tidak tahu dia hidup atau mati hanya saja kami memiliki kesepakatan."
"Jadi begitu, pantas saja auramu terlihat berbeda... apapun itu, siapapun tidak diperbolehkan melewati hutan ini jika mereka tidak bisa mengalahkanku, jadi mari buat pertunjukan ini semakin meriah."
Xien mengarahkan tangannya untuk mengendalikan seluruh bambu di sekitarnya menjadi sebuah senjata.
Mereka memanjang layaknya seekor ular, setelah melewati beberapa, Yujin memotong mereka jadi potongan kecil sebelum berlari melesat ke arah Xien yang tersenyum dengan senang.
Ketika beberapa bambu runcing keluar dari tanah Yujin berhenti lalu melompat mundur, ia menyelimuti pedangnya dengan api sebelum melesatkan sebuah tebasan di udara.
Xien memunculkan bambu lebih banyak untuk menahannya namun itu berhasil di tembus sampai ke depan wajahnya, hanya dengan memiringkan kepalanya. Tebasan tersebut meledak di sisi lain hutan ini.
Jelas sekali kekuatannya tidak normal.
"Yang barusan bukan kekuatan Asuramaru, seharusnya kamu memiliki kekuatan lebih dari itu bukan."
"Segini juga cukup."
"Kamu terlalu meremehkanku anak muda."
Yujin melirik ke arah rekannya di luar dugaan entah Liliana, Testarossa ataupun Vesta telah berdiri bersiap menyerangnya.
"Sayang sekali sepertinya aku menang."
"Ini baru dimulai."
Membantu 'Tidak' sekarang mereka telah berubah menjadi beban untuknya.