
Setelah kelompok Yujin diberikan tempat tinggal sekarang giliran mereka yang membalas, mereka telah sampai di sebuah lokasi pertambangan terbesar di negara ini dan satu-satunya yang berada di pedalaman hutan jauh dari pemukiman penduduk.
Untuk sampai kemari setiap pekerja baru akan dikawal oleh beberapa petualang tingkat atas dari ras mereka sendiri. Dari kejauhan kelompok Yujin bisa melihat beberapa orang yang dirantai tangannya masuk satu persatu selagi diborgol.
"Ini jelas perbudakan," apa yang dikatakan Liliana.
Vesta menunjukkan wajah geram, meskipun apapun yang dilakukannya hanya menambah keimutan saja.
"Apa kita bisa membunuh mereka?"
"Jika kita melakukannya, mungkin penduduk kota yang akan disalahkan, mari bertingkah seolah kita pihak ketiga."
"Baik."
Mereka berempat mengenakan topeng hewan lalu bergerak tanpa menyembunyikan diri lagi.
"Tunggu kalian, apa yang?"
Liliana meninju wajah dua penjaga yang menghadangnya hingga terpental ke udara, beberapa orang yang pandai menggunakan sihir menyerang serempak. Testarossa mengambil kesempatan ini untuk menciptakan dinding es yang menangkis semuanya.
"Mustahil, sihir api tidak berhasil mencairkannya."
"Sekarang giliranku."
Vesta mengambil busur yang dia bawa sejak lama, ia melesatkan satu panah dan menancap di dinding belakang penjaga.
"Meleset kah."
Tepat saat salah satu dari mereka mengatakan itu, panah tersebut meledak dahsyat, menerbangkan mereka dengan mudah.
Yujin naik ke atas meja selagi membentangkan tangannya, jika dia tidak mengenakan topeng semua orang akan tahu bahwa ia sedang menutup satu matanya.
Tidak ada kekuatan khusus saat ia melakukan hal tersebut, ini hanya kebiasaannya jika memberikan argumentasi atau hal lainnya yang sedikit serius.
"Kini lokasi tambang ini jadi milik kami, aku sarankan semua orang meninggal tempat ini atau kalian akan menyesalinya, pertama di mulai dari penjaga."
Tanpa harus dikatakan dua kali semua orang segera melakukannya, setelah para penjaga meninggalkan hutan kemudian para pekerja.
Mereka sedikit kebingungan saat rantai di tubuh mereka secara satu persatu dilepas kemudian disembuhkan dengan sihir penyembuhan.
"Apa kalian benar-benar penjahat?" kata salah satunya yang merupakan pria bertelinga rakun.
"Aku harap isti dan anakku baik-baik saja."
"Mereka baik-baik saja, nanti kamu akan mengetahui semuanya dari mereka."
Saat ini pria tersebut hanya memiringkan kepalanya sebelum mengikuti semua orang untuk melarikan diri.
Kelompok Yujin membuka topeng mereka lalu melemparkannya begitu saja ke samping.
"Sayang sekali, padahal banyak bebatuan berharga di sini."
"Kita tidak punya waktu untuk mengambilnya. Testarossa dan Liliana tolong kalian hancurkan semuanya."
"Inilah yang aku tunggu-tunggu, aku akan melakukannya lebih baik dari Testarossa."
"Dalam mimpimu."
Mereka menjadi bersemangat karena alasan konyol. Dari kejauhan Yujin dan Vesta bisa melihat bagaimana lokasi pertambangan tersebut telah lenyap seutuhnya menjadi kawah raksasa tanpa apapun.
"Dengan ini semua orang bisa kembali ke rumah mereka."
"Tapi tetap saja hal ini akan terulang kembali jika perang masih berlanjut, kita akan memilih satu negara untuk kita bantu agar memenangkan pertempuran ini, paling tidak negara yang paling lemah saja yang akan kita pilih, yang akan menyetujui persyaratan yang akan kita berikan."
"Itu ide yang bagus, rasanya seperti seorang yang akan kalah namun di detik akhir menjadi sangat kuat."
Yujin hanya membalas Vesta dengan senyuman pahit.
Sebelum mereka pergi, mereka menyempatkan diri untuk melihat keluarga rakun kembali menjalani kehidupannya, seharusnya dengan uang yang ditinggalkan Yujin mereka akan baik-baik saja.
Testarossa yang bekerja sebagai pengumpul informasi telah kembali.
"Aku sudah menemukan nama negeri yang cocok untuk rencana kita selanjutnya."
"Kalau begitu mari pergi."
Yujin melirik kembali ke arah keluarga rakun, yang tidak terduga telah melambaikan tangan padanya.
"Memiliki keluarga kurasa itu juga yang namanya hidup," gumamnya pelan.