Living In Another World Is Hard!

Living In Another World Is Hard!
Chapter 34 : Naga Melawan Iblis



Liliana menahan dengan satu tangan sementara tangan lain memukulnya hingga berkeping-keping.


Dia menunjukkan wajah sombong walaupun kedua rekannya hanya bersantai.


"Kini giliranku yang menyerang, rasakan iblis."


Rosaria melompat untuk menghindari pukulannya, dia telah belajar dengan cepat bahwa melawan seekor naga tidak boleh lengah, Ia memunculkan sebuah cambuk di tangannya.


Itu menjerat kaki Liliana kemudian melemparkannya jatuh ke samping hingga membentur bebatuan dengan keras.


"Aku rasa kau sudah mengerti bagaimana kekuatanku."


"Maksudmu kau tipe curang yang menggunakan senjata saat musuhmu menggunakan tangan kosong."


Kerutan muncul di wajah di Rosaria.


"Dalam pertarungan bebas menggunakan apapun, apa kau tidak mengerti!?" teriaknya.


"Baik, baik, kau tak perlu ngegas."


"Kau benar-benar membuatku marah."


"Setahuku Succubus hanya pandai memberikan mimpi menjijikan dan membuat pria kesenangan, melihat Succubus bertarung juga sudah aneh... ah dari awal kau memang aneh."


Rosaria bisa merasakan beberapa panah menusuknya. Itu memang bakat Succubus hanya saja untuk Rosaria dia hanya satu-satunya Succubus yang tidak bisa melakukannya.


Singkatnya dia tipe pemalu.


"Tutup mulutmu."


Cambuk kembali dilesatkan dan itu menciptakan api yang membuat apapun yang terkena meledak.


Melawan cambuk hanya bisa dilakukan dengan cara bertarung di jarak dekat, Liliana melompat mendekat, dia memberikan tendangan lokomotif yang berhasil dihindari setipis kertas.


Rosaria tidak tinggal diam dia berbalik menendang membuat Liliana menyemburkan sesuatu dari mulutnya, ketika dia akan terbang cambuk melilit lehernya lalu dia dibanting ke tanah seperti kura-kura yang terbalik.


Rosaria tersenyum sombong namun Liliana tidak menyerah karenanya, dia menarik cambuk yang melilitnya membuat Rosaria tertarik ke depan, dengan beberapa pukulan di perut Rosaria memuntahkan darah lalu terlempar setelahnya.


Dengan kesal Liliana melepaskan cambuk di lehernya lalu membakarnya dengan api di tangannya, dia memperkuat kuda-kudanya lalu menarik nafas untuk mengisi paru-parunya sebelum menyemburkan nafas api yang setara dengan bola hitam iblis yang sebelumnya mereka temui.


Ketika Rosaria pasrah dengan kematiannya Yujin telah berdiri di depannya lalu menebas serangan itu hingga lenyap seutuhnya.


"Liliana kamu terlalu berlebihan."


"Aku terbawa suasana, lagipula dia bertarung dengan niat membunuh maka aku hanya menyesuaikan saja."


Yujin mendesah pelan lalu mengulurkan tangannya selagi menutup sebelah matanya.


"Kamu melihatnya."


"Kamu suka mengenakan warna putih."


"Akan kubunuh kau."


Sementara Yujin menatap datar, Rosaria melompat memeluknya dan berusaha mengunyah kepalanya.


"Apa-apaan dengan makhluk ini?"


"Aku lebih khawatir denganmu Yujin, kau tidak merasakan apapun setelah melihat pakaian dalamnya, bagaimana kau akan berkembang biak?"


"Kalian... makanannya sudah siap," Vesta melambaikan tangan untuk mengajak semua orang makan.


Rosaria menatap mereka semua dengan tatapan mencurigakan.


"Kalian pasti menaruh racun di dalamnya."


"Kamu terlalu banyak memikirkan hal tidak perlu, makanlah sebelum dingin."


"Aku tidak tahu ada manusia sepertimu."


Liliana tertawa.


"Benar sekali, dia langka kurasa."


"Yujin bukan lagi langka, dia hanya orang yang muncul 1 juta sekali."


"Kalian mengejekku yah."


Vesta maupun Liliana tertawa bersama sedangkan Rosaria jelas kebingungan.


"Kalian tidak seperti yang aku bayangkan."


"Kami hanya ingin membuat perdamaian lagipula diantara kita tidak ada yang salah."


"Apa maksudnya?"


"Ada kelompok yang mengadu dombakan kita sejak awal karena itulah kami perlu menemui raja iblis."


Rosaria tampak diam memikirkannya selagi menimbang-nimbang apa dia harus percaya pada mereka atau tidak. Setelah beberapa saat ia memilih untuk mempercayainya.


"Makanan ini enak, tolong tambah."


Kalau Yujin bisa merasakannya mungkin ia juga akan memiliki ekpresi yang ditunjukkan oleh Rosaria sekarang.