
Langit yang kelabu mulai menjatuhkan riak-riak air ke permukaan tanah, bersama dengannya seorang wanita bertanduk dengan rambut hitam sebahu berdiri seolah tidak menghiraukannya tampak memandangi tanpa ekspresi.
Ekpresinya kosong hanya saja itu karena dia telah membunuh semua musuhnya seorang diri.
"Nona Testarossa kami mendapatkan informasi dari kerajaan manusia?"
"Rosaria kah, apa itu?"
"Mereka meminta genjatan senjata tiga hari dan juga sebuah rapat untuk membicarakan perdamaian, beberapa orang akan diutus untuk datang kemari."
"Bukannya mereka yang menolaknya."
"Apa sebaiknya aku menghabisi mereka."
"Tolong lakukan itu, kita tidak akan menerima perdamaian apapun dari mereka."
"Laksanakan."
Ketika wanita yang disebut Testarossa menjentikkan jarinya seluruh hujan di sekelilingnya berhenti lalu membeku dengan indah.
Sementara itu di istana kerajaan Verniti semua orang telah disambut dengan makanan mewah, Roroa memproklamasikan bahwa Yujin sebagai kesatrianya dan tentu itu ditolak secara mentah-mentah.
"Aku sama sekali tidak tertarik dengan itu."
"Eeeeh? Bukannya menjadi pengawal ratu adalah cita-cita semua pria, anak-anak selalu mengatakan itu."
"Tidak sama sekali."
Talia yang duduk di sebelahnya menyela.
"Lebih baik Anda menyerah yang mulia ratu."
"Tapi aku merasa sedih jika Yujin begitu saja pergi."
Vesta tersenyum masam menanggapinya, ada pun Liliana ia telah memakan makanan lebih banyak dari perutnya.
Ini hanyalah obrolan ringan sebelum mereka benar-benar melanjutkan perjalanan, dengan kereta yang secara percuma diberikan Roroa mereka meninggalkan kerajaan. Keretanya sendiri tidak ditarik seekor kuda melainkan seekor kadal berwarna biru cerah dengan dua kepala.
"Baik sekali mereka memberikan ini, padahal aku ini naga, dengan terbang kemana pun bisa sampai lebih cepat kalau saja Yujin tidak memiliki merangkak di tanah."
Yujin hanya menunjukan wajah bermasalah.
Dia hanya ingin menikmati perjalanan apa adanya, dengan terbang itu akan membuat beberapa hal terlewatkan begitu saja.
Untuk Vesta dia tidak keberatan. Ketika mereka memasuki pelabuhan mereka meminta seseorang untuk mengantar mereka menyebrangi lautan sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Keretanya sendiri mereka titipkan sementara waktu di penginapan.
Bahkan untuk Liliana yang merupakan seekor naga merupakan tempat baru untuk bisa melihatnya.
Daratannya sendiri tidak jauh beda dengan daratan manusia. Tepat saat mereka kembali bergerak seseorang telah jatuh dari langit dengan keras.
Itu adalah seorang wanita Succubus dengan pakaian terbuka.
"Akhirnya kalian datang."
"Owh, apa kalian memutuskan untuk menyambut kami?" ucap Liliana.
"Tentu, tapi aku datang untuk membunuh kalian."
"Tantangan yang menarik, maka izinkan aku yang melawanmu."
Yujin maupun Vesta memilih membiarkan Liliana untuk melakukan hal yang dia inginkan.
"Yujin aku sedikit lapar."
"Kita istirahat dulu, kamu mau makan apa?"
"Sup."
"Sialan, aku sedang bertarung kalian malah ingin makan... aku juga mau."
Iblis di depan mereka memiringkan kepala.
"Kalian terlalu memandang remeh, setelah membunuh naga ini akan kubunuh kalian."
"Kau yang meremehkanku."
Sebuah tinju mengenai iblis tersebut membuatnya meluncur menukik ke dalam tanah.
Seharusnya itu menjadi pukulan yang mematikan namun iblis tersebut berdiri seolah tidak merasakan apapun.
"Pukulan yang bagus, tapi lebih dari itu untuk mengalahkanku.. siapa namamu?"
"Liliana."
"Nama itu terlalu imut untuk seekor naga."
"Akan aku anggap itu pujian wanita iblis yang vulgar."
"Namaku Rosaria, sebaiknya ingat itu dalam kuburanmu."
Liliana menatap ke langit dan dari sana sebuah meteor raksasa dijatuhkan padanya.