
Yujin melompat saat Liliana mengarahkan tinju padanya, tepat saat kedua kakinya mendarat Testarossa mengambil tendangan dari punggungnya yang berhasil dia tahan dengan punggung tangannya.
Vesta menembakan sebuah busur cahaya yang ditebas langsung dengan pedang Yujin hingga menghasilkan asap ke udara.
"Siapapun yang memiliki mana lebih sedikit dariku mereka akan bisa aku kendalikan, sudah waktunya untuk menyerah lalu aku akan biarkan kalian."
Sebelum Xien melanjutkan perkataannya, tubuh Testarossa melesat di sampingnya hingga menabrak bambu dengan keras, hal itu juga sama dengan apa yang terjadi pada Liliana dan Vesta hingga ketiganya pingsan.
"Ka-ka-kamu, menyerang rekanmu sendiri... ka-kamu."
"Mudah saja, aku akan minta maaf nanti."
"Dasar orang kejam, tidak berperasaan."
Xien tidak mengatakan hal itu karena takut kalah, dia mengatakan seperti apa yang hatinya rasakan.
Yujin melesat maju dengan kecepatan tinggi, entah sejak kapan Xien telah memunculkan pedang di tangannya demi menangkis serangan tersebut.
Kilatan cahaya yang bersatu dengan suara memekikkan telinga muncul seiring pergerakan mereka, pedang keduanya satu sama lain saling berbenturan dan tertahan di jarak sangat dekat sehingga bisa saling merasakan nafas satu sama lain.
"Kamu pria menakutkan."
"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu katakan, jika hanya dengan membunuhmu maka kami diperbolehkan lewat maka itu tidak masalah."
Xien memucat, jelas sekali pria di depannya akan melakukan hal semacam itu. Ini bukan waktunya untuk keras kepala.
Xien menjatuhkan tangannya hingga Yujin pun mundur.
"Aku menyerah, kamu puas... alasan seperti apa yang membuat kalian sampai seperti ini? Aku tidak habis pikir?"
"Kita berdua masih belum ada yang terluka."
"Itulah yang tidak aku inginkan, seharusnya ketika seseorang melihat kemampuanku mereka akan mundur."
Dari Awal Xien tidak benar-benar berfikir untuk melukai seseorang.
"Aku ini roh pelindung hutan, demi menjaga kehidupan di dalam hutan tersebut aku memasang aturan seperti ini, jika kamu berjanji tidak akan menyakiti hewan-hewan serta pepohonan di dalamnya aku tidak akan melakukan apapun."
Seluruh bambu menghilang begitu saja menampilkan jalan setapak yang menerobos balutan hutan belantara.
"Dimengerti."
Yujin menyarungkan kembali pedangnya, ketiga temannya masih pingsan karenanya keduanya mengobrol sebentar. Dulu sekali hutan ini dinyatakan akan punah ulah manusia seperti penebangan hutan serta perburuan liar, suatu hari Xien tidak sengaja melewati wilayah ini dan beberapa hewan meminta bantuan padanya untuk melindungi mereka hingga sekarang.
Dan begitulah kenapa hutan ini tercipta.
Selang beberapa waktu para Dark Elf pun meminta perlindungan dan tinggal di dalamnya.
"Ngomong-ngomong Yujin kesepakatan apa yang kamu buat dengan Asuramaru?"
"Hanya membunuh 13 iblis yang mengkhianatinya, aku sudah membunuh satu tinggal 12 lagi."
Yujin hanya tidak punya pilihan lain, ia juga merasa entah iblis atau dewi malah memanfaatkanya untuk mengabulkan permintaan mereka, khususnya dua dewi yang sekarang sedang minum teh bersama.
"Andromeda mau tambah gulanya lagi."
"Boleh, apa Yujin melakukan tugasnya dengan baik."
"Kenapa tidak mengintipnya saja."
"Akan kulakukan nanti."
Xien menunjukan wajah sedih terhadap Yujin.
"Hidupmu pasti berat."
"Dari awal juga sudah begitu."
Yujin memilih menyeret Testarossa dan Liliana di tangannya sedangkan Vesta dia taruh di bahunya.
"Kalau begitu kami pergi sekarang."
"Kamu membawa mereka seperti itu oi."
Yujin hanya membiarkan perkataan itu berlalu begitu saja, di depan sungai Liliana dan Testarossa baru membuka matanya.
"Apa sudah selesai, di mana kita?"
"Entahlah."
"Belakang kepalaku rasanya sakit."
"Sama."
Keduanya mengalihkan pandangan ke arah Vesta yang masih tidur terlelap sebelum ke arah Yujin yang sedang membuat sup.
"Nah Yujin bisa kamu ceritakan apa yang terjadi pada kami?"
"Aku juga penasaran terutama soal garis di tanah itu," tambah Testarossa.
"Ceritanya panjang mari abaikan saja dan kita nikmati supnya."
Testarossa dan Liliana menatap Yujin di jarak sangat dekat. Pandangan mereka dipenuhi kemarahan.
"Aku yakin kau memukul kami lalu menyeret kami begitu saja bukan? Jika kami mati pasti mayatnya sudah dibuang," kata Liliana.
Itu yang dipikirkan Yujin beberapa waktu yang lalu.
Ketika Vesta bangun, dia melihat bahwa Yujin sudah terikat di pohon dengan wajah lelah.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" katanya demikian.