Living In Another World Is Hard!

Living In Another World Is Hard!
Chapter 22 : Iblis



Sementara itu Liliana terombang-ambing di tanah dengan luka mengerikan menyelimuti tubuhnya, seluruh tulangnya telah berputar ke tempat tidak seharusnya dan sekarang musuhnya Bernius Valentus telah menekan kepalanya ke bawah dengan ledakan yang menyemburkan puing-puing material tanah ke udara.


Vesta yang melihatnya hanya terduduk lemas dengan menutupi mulutnya, sedangkan Roroa hanya tertegun.


Baginya pertarungan mengerikan seperti apa ini? Setelah memperbaiki setiap sendi tulang dirinya, Liliana langsung tertembus tombak dari dalam tanah.


"Apa hanya ini kemampuan seekor naga, ayolah kau bisa lebih dari ini bukan."


Wajah Liliana ditendang hingga dia menyemburkan darah dari mulutnya.


"Aku pikir sudah waktunya untuk mengakhiri ini."


"Tidak secepat itu."


Bernius segera melompat mundur bertepatan seseorang yang turun dari langit, itu merupakan sosok Yujin yang sedikit memiliki wujud berbeda, setengah tubuhnya terlihat menyerupai iblis dan setengah lagi manusia, lebih dari itu pedang di tangannya berwarna gelap dengan debu-debu hitam berterbangan di sekitarnya.


"Kamu baik-baik saja Liliana, yah kurasa penampilanmu buruk."


"Kamu terlambat Yujin."


Vesta yang lebih terkejut dari siapapun.


"Yujin telah jatuh ke dalam kegelapan, whoaaa! Bagaimana ini? Dia jadi iblis."


"Tenanglah Vesta, aku masih manusia... ceritanya panjang akan kuceritakan nanti, sebelum itu aku perlu mengurus seseorang dulu."


Bernius tertawa terbahak-bahak.


"Mengejutkan sekali, penampilan terkadang membuat seseorang berbeda."


"Aku baru sadar, aku hanya menggunakan wujud ini untuk membunuh seluruh rekanmu dengan cepat."


Yujin mengembalikan wujud dirinya sedia kala sebelum memasukan pedangnya kembali ke dalam sarungnya.


"Kekuatanku sekarang sedikit berbeda."


Terhadap perkataan Yujin yang terkesan santai dan sombong, Bernius tersenyum masam.


Ia menciptakan beberapa manusia tanah yang masing-masing dari mereka berlarian untuk melompat ke arah Yujin, masing-masing dari mereka meledakan dirinya, membombardirnya dengan serangan tanpa henti.


"Bagaimana? Itu sangat menyakitkan."


"Apa yang kau katakan, aku ada di sini?"


"Bagaimana?"


Bernius memutar tubuhnya untuk memberikan tendangan, Yujin dengan santai menarik setengah tubuhnya untuk menghindarinya dan dia balas melakukan hal sama saat Bernius memberikan tendangan ke dua, hingga dua tendangan tersebut saling bersilangan sebelum melompat mundur.


Yujin menarik pedangnya dan sebuah tebasan kilat setipis kertas muncul di udara, Bernius melalui sihir alkimianya menciptakan pedang dan itu mampu memblokir serangan Yujin.


"Jadi ini yang dimaksud Asuramaru bahwa ilmu pedang belum tentu bisa menang."


"Apa yang kau bicarakan di sana, apa kau takut?"


Yujin hanya membalas dengan menutup satu matanya.


"Kesombongan itu akan aku rebut dari wajahmu."


Pedang Bernius berubah menjadi sebuah tombak yang dia lesatkan dengan seluruh kekuatannya, itu menciptakan Sonic Wave sebelum akhirnya bertubrukan secara langsung dengan pedang Yujin.


Tepat saat tombak itu terpental, sensasi dingin menabrak punggung Bernius, ia bisa merasakan isi perutnya yang tercabik-cabik oleh pedang atau sejujurnya mungkin itulah yang dirasakannya setelah melihat mata Yujin yang gelap dan dingin.


Darah menyembur darinya bersamaan organ dalam dirinya yang berceceran hingga berserakan.


"Ini hanya ilusi, tubuhku baik-baik saja, semuanya tidak nyata."


"Itu memang ilusi tapi rasa sakitnya adalah kenyataan. Bahkan jika kau hidup kau hanya akan sebatas jadi boneka kosong tanpa jiwa."


"Tatapan yang bisa membunuh seseorang saat melihatnya... apa-apaan, semua ini tidak masuk akal?" protes Bernius namun dalam peperangan hal mengerikan selalu terjadi.


"Bukan tipeku untuk menyiksa seseorang jadi matilah."


Kepala Bernius terpenggal dan hanya jatuh di sisi lain kakinya.