Living In Another World Is Hard!

Living In Another World Is Hard!
Chapter 47 : Wilayah



Sekitar 20 bandit yang terdiri dari wanita dan pria hanya bisa bersujud meminta maaf pada Yujin yang berdiri di depannya, dia belum mengayunkan pedangnya namun mereka yang dilatih untuk memiliki insting bertahap hidup tinggi akan langsung mengerti.


Jika melawan, mereka akan mati.


Di sisi lain Jos memeluk pedangnya dengan senyuman lebar.


"Kami akan melakukan apapun tolong jangan bunuh kami."


Yujin tidak tertarik dengan itu namun Liliana mengambil kesempatan itu dengan senang.


"Mulai sekarang kalian akan bekerja untuk Yujin, kalian akan menjadi tukang untuk membangun infrastruktur desa dan hal lainnya."


Semua orang sempat terkejut tapi pada akhirnya menerima. Sudah waktunya mereka untuk pensiun dan bertobat.


"Mereka akan cocok menjadi tenaga kasar, Jos bisa jadi pemimpin mereka sebagai kuli bangunan."


"Jika itu perintah aku tidak masalah."


Yujin jelas harus menerima usulan tersebut jika memang ia benar-benar ingin membangun sebuah wilayah, Yujin mengangguk mengiyakan dan mereka melanjutkan perjalanan bersama para bandit.


Semua orang terkejut karena lokasi yang mereka kunjungi hanyalah sebuah wilayah penuh dengan monster ganas.


Beberapa tampak hampir pingsan dengan monster-monster yang bermunculan.


"Kita akan membuat desa di tempat seperti ini, bagaimana kalau ada monster yang menyelinap masuk?"


"Fufu kalian pasti akan menanyakan itu, biar aku jelaskan."


Yang menjawab adalah Vesta, ia merogoh sesuatu dari dalam tasnya lalu mengeluarkan pedang suci dari dalamnya.


Semua orang jelas terkejut.


"Pe-pedang suci."


"Hehe kami mengambilnya dari kota suci."


"Benar-benar hebat, itu adalah sebuah cita-cita para bandit di negeri ini."


Menurut Yujin cita-cita mereka sedikit menyimpang.


Vesta menancapkan pedang di tanah lalu mengalirkan sihir suci untuk mengatur seberapa batasan pelindungnya.


"Yujin berapa yang harus aku buat?"


"Buat saja satu hektar"


"Baiklah."


"Sekarang giliran kita untuk bekerja, ambil kapak kalian lalu kumpulkan kayu-kayunya."


"Baik."


Yujin memilih membiarkannya begitu saja. Dia juga tidak lupa berterima kasih pada Testarossa yang duduk selagi bersandar di pohon.


Ia yang terus bertarung hingga sampai kemari, untuk Liliana karena ia memakan jamur beracun dia masih tidak sadarkan diri.


"Kau tidak perlu berterima kasih, aku budakmu sudah sepantasnya melakukannya."


"Kau sudah tidak perlu menganggap dirimu budak, aku.."


Testarossa memotongnya.


"Aku lebih suka seperti ini," katanya menutup mata.


Yujin memilih melakukan seperti apa yang dikatakannya sebelum kembali berjalan ke arah Vesta.


"Apa kita akan membuat rumah dengan gaya tradisional jepang?"


"Begitulah, mungkin itu akan terasa seperti di kampung halamanku."


"Boleh aku bertanya Yujin, kenapa kamu malah memilih membuat wilayah dibandingkan pergi melawan raja iblis?"


Keheningan sesaat terasa di antara keduanya, dedaunan berjatuhan tertiup angin saat Yujin menatap langit biru.


"Kenapa yah? Orang yang merawatku hanya mengatakan, kau akan mengerti tentang hidup saat kau dikelilingi banyak orang."


"Begitu, orang yang merawatmu pastilah orang baik."


"Sangat baik."


Yujin tersenyum kecil, untuk sesaat Vesta terlihat terpesona melihatnya. Biasanya Yujin selalu menunjukan ekpresi palsu namun ini pertama kalinya bahwa Yujin tersenyum jauh dari lubuk hatinya.


"Aku berencana akan membuat patungmu juga. Jika ada permintaan cobalah untuk mengatakannya."


"Kalau begitu buat aku terlihat cantik, tubuhku montok dan juga sangat dewasa."


"Kamu ternyata banyak permintaan yah."


Yujin pikir permintaannya tidak jauh dari aslinya. Ia menarik pedangnya.


"Sebaiknya aku juga membantu mereka."