
Bangkit dari reruntuhan adalah Gilo yang meregangkan otot-otot bahunya, dia tertawa selagi mengayunkan pedangnya ke samping membelah satu bangunan menjadi dua bagian.
"Aku meremehkanmu, kau cukup kuat."
"Jangan khawatir aku lebih kuat dari bayanganmu."
"Kalau begitu hibur aku sampai puas."
Gilo menerjang maju dengan kekuatan tinggi, dia mengayunkan pedang secara membabi buta selagi terlihat bersemangat, tidak ada satu pun yang bisa mengenai Liliana. Namun, ketika dia balas menyerang perutnya ditendang hingga terlempar jauh menembus lima bangunan.
"Bagaimana rasanya, kau ini hanya ditumbalkan oleh pemimpinmu, apa kau kira kau bisa mengalahkanku?"
"Ini baru dimulai, lagipula Yujin tidak akan membiarkanku bertarung seperti ini jika aku benar-benar kalah."
"Dia terlalu meremehkan kami iblis."
"Siapa tahu."
Liliana menerjang ke depan begitu juga Gilo yang sama-sama memberikan serangan terbaik mereka, Gilo terkena pukulan luar biasa hingga tulang-tulangnya berderit dengan suara aneh, di saat yang sama tebasan pedangnya juga melukai tubuh Liliana memberikan rasa sakit serta darah yang berceceran.
Keduanya melompat mundur setelah sama-sama terluka.
"Pedang ini bukan pedang biasa, setelah terluka, luka itu tidak akan bisa diobati... kau telah tersayat di mana-mana, hanya menunggu darahmu habis maka semuanya berakhir."
"Kalau begitu aku hanya harus membunuhmu dengan cepat."
Sebuah tekanan sihir keluar dari tubuh Liliana, itu merusak setiap area sekelilingnya sementara rambut Liliana berdiri ke atas.
"Aku sudah mengumpulkan kekuatan ini sejak lama, kurasa memang sudah sepantasnya digunakan sekarang."
"Memangnya hal itu akan berguna."
Gilo memasang sikap waspadai ketika dia menebas, sosok Liliana di depannya menghilang dengan cepat.
"Di mana kau?" tanya Gilo.
Ketika dia menoleh ke samping sebuah pukulan masuk ke wajahnya, itu menghancurkan hidungnya hingga ia terlempar dengan kecepatan tinggi, berputar-putar di udara sebelum membentur setiap bangunan yang dilewatinya, Liliana tidak berhenti di sana dia sudah berada di sisi lain tempat yang akan dilewati Gilo. Dengan satu tendangan dia menghantam punggungnya sekaligus membuatnya terbang ke sisi berbeda.
Liliana melakukan hal sama seolah Gilo menjadi sebuah bola dengan area lapangan luas, di tendangan terakhir dia dijatuhkan ke bawah tanah sampai ke inti bumi hingga larva panas menyembur ke udara.
"Sialan kau."
Setiap dia berbicara darah menyembur dari mulutnya.
"Akan aku tunjukkan kemampuanku sesungguhnya!"
Dia berteriak dan dalam sekejap tubuhnya menjadi gumpalan daging yang semakin besar dan besar, dari sana tumbuh banyak tangan satu mata dan hampir menyerupai seekor siput.
Tidak ada mulut di dalamnya walau begitu mata tersebut memiliki kemampuan menembakan bola cahaya hitam.
Bola itu ditepis oleh Liliana ke samping hingga menabrak pegunungan dan melenyapkannya sekaligus, Testarossa yang sedang berlari harus berhenti untuk menyaksikan kengeriannya juga.
"Benar-benar ceroboh."
Seharusnya serangan itu dihilangkan bukan ditepis.
Liliana memasang kuda-kudanya dengan seringai di wajahnya.
"Sekarang giliranku."
Dia melesat dengan meninggalkan jejak kehancuran, memberikan pukulan yang terbilang cepat dan kuat sebelum melemparkan makhluk itu ke langit.
Liliana turut melompat sembari menarik nafas dalam-dalam lalu menembakan api yang menyerupai laser mematikan.
Dalam sekejap itu meledakan Gilo menghasilkan cahaya yang menyelimuti seluruh kota. Tubuh Liliana kembali ke wujud biasanya dan ditangkap oleh Vesta di bawahnya.
"Seluruh tulangku remuk dan juga darahku tidak bisa berhenti."
"Jangan khawatir serahkan padaku."
"Anda memang potion serba guna."
"Jangan memperlakukanku seperti itu."
"Cuma bercanda."
Keduanya tertawa bersama-sama.