Living In Another World Is Hard!

Living In Another World Is Hard!
Chapter 24 : Sedikit Harapan



Yujin mengambil kesempatan untuk mengetahui situasinya lebih jauh lagi.


"Apa kerajaan manusia bisa berdamai dengan ras iblis?"


"Itu jelas sesuatu yang mustahil. Bahkan rekanku Talia Entas telah pergi ke kota bendungan Goten untuk memeriksa serangan ke sana."


Pada dasarnya serangan tersebut telah diantisipasi oleh Yujin hampir tidak ada yang berbahaya lagi di sana.


Talia Entas yang dibicarakan muncul di waktu yang tepat.


"Arnold aku ingin mengatakan hal yang aku lihat."


Talia memiliki rambut coklat ekor kuda dengan perawakan langsing, dia tidak mengenakan armor seperti Arnold yang tebal melainkan sesuatu yang ringan seolah agar tidak mengganggu pergerakan darinya.


Tatapan Yujin dan Talia bertemu.


"Ah, benar orang ini... dia yang berhasil mengalahkan kapten pasukan raja iblis Bana."


Yujin membalas dengan senyuman ragu.


"Kamu mungkin salah orang."


"Aku tidak mungkin salah lihat, dia bahkan membekukan bendungannya agar bisa diperbaiki."


Jika sejauh itu Yujin tidak bisa menyangkalnya lagi.


"Ngomong-ngomong aku juga bertarung di sana?" potong Liliana.


"Jika demikian kami seharusnya memberikan hadiah juga."


"Yah itu terlalu berlebihan, kami tidak melakukannya untuk uang... yang di bendungan anggap saja kami hanya kebetulan lewat."


Vesta terlihat menyetujuinya. Lagipula jika Yujin tidak menyelamatkannya akan ada rasa tidak enak di hatinya begitu juga Liliana dan Vesta.


"Untuk sekarang kalian beristirahat dulu, jamuan akan disiapkan dan aku akan memanggil pelayan untuk menyiapkan apa saja yang kalian butuhkan."


Liliana dan Vesta mengangkat tangannya serempak.


"Kami benar-benar perlu mandi, kalau bisa."


"Tentu saja, mereka akan menyiapkannya."


Keduanya cukup bersemangat soal membersihkan diri. Yujin tidak terlalu membutuhkan jadi dia pergi untuk menunggu di perkarangan istana dengan mencoba mengayunkan pedangnya.


Entah bagaimana sekarang lebih berat dari sebelumnya.


"Kamu sangat pandai menggunakan pedang Yujin."


"Kamu rupanya Arnold, bagaimana dengan yang lainnya?


"Bagaimana kamu mengatakannya, itu terdengar mesum."


"Maafkan aku untuk gaya bicaraku yang salah."


Arnold mendekat lalu berkata.


"Bagaimana kalau kita mencoba untuk beradu pedang, aku sedikit penasaran dengan kekuatanmu."


"Aku tidak keberatan tapi kurasa hari ini bukan waktu yang tepat."


"Kurasa kamu benar, mungkin lain kali."


Yujin menutup sebelah matanya lalu berkata.


"Kami bertemu dengan ratumu hanya kebetulan tapi itu juga mungkin sebuah takdir tertentu."


"Takdir apa lebih tepatnya?"


"Takdir untuk menghentikan peperangan melawan raja iblis."


Perkataan itu cukup membuat Arnold terdiam meski begitu Yujin memilih untuk menjelaskan yang terjadi.


"Sulit dipercaya bahwa ada sekte seperti itu namun kurasa ini sudah terlambat, peperangan hanya akan berakhir jika salah satu dari kami dihancurkan, lagipula aku tidak bisa melupakan seluruh rekan-rekanku yang telah gugur karena peperangan ini."


Angin mengibarkan rambut biru Arnold, dia menatap Yujin seolah perdamaian hanyalah sesuatu hal yang kosong.


"Jadi begitu."


Sekilas saja Yujin sudah mengetahuinya, orang di depannya tidak lagi bertarung untuk rakyat atau kerajaan melainkan murni hanya sebuah balas dendam.


Orang seperti ini sudah tidak bisa dibujuk untuk mengambil jalur berbeda. Dia memutuskan untuk kembali ke ruangannya dan bertemu Talia yang tidak sengaja menabraknya di koridor.


"Ah maafkan aku, aku terburu-buru."


"Tidak apa tapi kamu terlihat sangat sibuk."


"Aku harus menyiapkan pasukan lagi untuk peperangan berikutnya. Perang ini menyebalkan."


Yujin menghentikan Talia dengan pernyataan ambigu.


"Kamu terlihat memaksakan diri? Kenapa kamu melakukannya sejauh itu?"


"Kenapa? Yah aku pikir jika perang ini selesai kedua belah pihak bisa hidup dengan damai."


Sementara Talia berlari. Yujin tersenyum ke arahnya selagi memperhatikan punggungnya yang cukup lebar.


"Paling tidak kerajaan ini masih memiliki harapan," katanya pelan.