
"Soal itu?"
"Itu juga berlaku pada mereka, jika mereka menang apa mereka tidak akan membantai manusia? Lalu pertanyaan yang terakhir, apa keuntungan yang bisa kalian dapatkan setelahnya?" desak Yujin.
Bahkan di dunia sebelumnya Yujin tinggali perang memang berlangsung, dia adalah sejarah kelamnya dari hal itu.
Saat perang terjadi mereka tidak memikirkan hal apapun lagi, bahkan menjadikan anak-anak sebagai ekprerimen, menjajah dan memperbudak negara-negara yang mereka taklukan, bahkan negara tempatnya tinggali bukan negara yang baik seperti apa yang semua orang pikirkan.
Yah, mereka juga penjajahan dan itu menjadi catatan kelam bagi negara kami sendiri.
Bahkan setelah perang dunia ke dua berakhir orang-orang yang tersakiti karenanya tidak begitu saja sembuh, mereka menyimpan dendam, kebencian serta sifat-sifat buruk yang dimiliki manusia namun terlepas dari itu, manusia juga bukan hanya memiliki keburukan saja tapi mereka juga bisa memaafkan.
Ketika Yujin mengatakan itu Roroa tampak terkejut.
"Memaafkan?"
"Bukan demi kita, melainkan demi generasi yang akan datang. Mereka tidak perlu merasakan penderita dari peperangan dan hidup damai satu sama lain.. singkatnya generasi yang ikut terlibat peperangan memilih memutuskan rantai kebencian itu."
"Yujin aku tidak pernah menduga kamu bisa mengatakan hal seperti itu."
"Aku hanya diajari oleh seseorang, hanya itu."
Dibandingkan siapapun Yujin adalah seorang yang harusnya membenci peperangan, setelah kehilangan rumah dan tempat tinggal dia dijadikan subjek percobaan hingga menjadi sebuah mesin pembunuh, bahkan fakta hanya dirinya yang masih hidup membuatnya kehilangan arah.
Di saat itulah klan Tsubaki mengulurkan tangannya untuk merawatnya hingga secara perlahan dia mengerti apa itu hidup.
Selagi dia memiliki hati nurani, ia akan baik-baik saja.
Itulah yang dikatakan padanya.
Roroa melirik ke arah langit biru, matahari yang sebelumnya bersembunyi di balik awan putih mulai menampakkan dirinya kembali, memberikan sinarnya yang menerpa wajah Roroa secara langsung.
Menanggapi hal ini, kerajaan Verniti memberikan surat untuk genjatan senjata terhadap ras iblis selama tiga hari, di luar dugaan bahwa ras iblis menerimanya dengan tangan terbuka atau sejujurnya mereka lebih mewaspadai soal sosok yang telah menghajar salah satu pemimpin mereka.
Di dalam ruangan kerja wanita dari ras iblis dengan rambut ungu bergaya bor tampak mendesah pelan, dia mengenakan pakaian minim dengan bulu rubah melingkar di lehernya.
Jika seseorang mencoba mengintip roknya maka itu bukan sesuatu yang sulit untuk melihat apa yang dia kenakan di dalamnya.
Pembawaannya yang tenang membuat siapapun terpesona olehnya terlebih tahi lalat di bawah bibirnya yang membuat dia semakin mempesona.
Dia keturunan Succubus karenanya tidak ada orang yang meragukan hal tersebut.
"Apa tak masalah kita melakukan genjatan, kita baru mengalami kemenangan sayang jika momennya hilang."
Perkataan itu dilayangkan terhadap Bana yang berdiri di depannya. Bana adalah seorang iblis kuat dengan tubuh berotot dia tipe orang yang bersemangat namun setelah bertemu dengan Yujin dia terlihat ketakutan.
Jika seseorang menuduhnya seperti ayam pengecut dia tidak akan keberatan untuk menerimanya.
"Aku setuju dengan raja iblis, apa kau tahu siapa yang aku lawan. Dia Monster."
"Kita iblis masa kita takut terhadap monster."
"Aku mulai berfikir kesombongan yang kita miliki malah menjerumuskan kita."
"Lucu sekali.. yah, apapun itu aku juga akan menghargai keputusan raja iblis. Lambat laun kita akan bisa menghancurkan umat manusia dan kita bisa membalas segala hal yang mereka lakukan pada kita. Padahal kita saat itu mengajukan perdamaian tapi mereka malah membunuh semua orang."
"Rosaria apa kau masih marah soal ayahmu?"
"Jelas sekali, ayahku orang yang mencetuskan soal perdamaian, padahal dia mempercayai manusia tapi hasilnya seperti ini.. di kesempatan berikutnya aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti ayahku."
Kedua mata Rosaria bersinar dengan warna ungu terang.