
Hal pertama yang membangunkan Yujin dari tidurnya adalah sensasi dedaunan yang berjatuhan menimpa wajahnya.
Dia membuka mata dan melihat bahwa semua orang juga sudah bangun dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan, Liliana sedikit mengerang kesakitan saat dia mencoba bangun sementara Vesta memberikan dorongan untuk Roroa yang masih shock dengan kejadian semalam.
Yujin berdiri lalu mengambil pedangnya untuk mengaitkannya kembali di pinggangnya. Dia sudah sering membunuh bahkan setelah memenggal kepala sekte lainnya dia tidak merasakan apapun.
"Kita akan meninggalkan tempat ini secepatnya."
"Tapi Yujin aku sangat lapar, apa tidak ada makanan?"
"Kamu sudah menghabiskannya kemarin, di tas Vesta sudah tidak tersisa lagi."
Vesta mengangguk mengiyakan. Mereka hanya akan berharap bahwa bisa menemukan kota atau desa setelah melewati hutan ini.
Tanpa menyiakan lagi waktu mereka kembali bergerak dan akhirnya sampai di sebuah kota kecil.
Roroa yang telah pulih kembali berkata dengan semangat.
"Aku tahu tempat ini, ini adalah kota yang selalu dijadikan persinggahan para pedagang, kita bisa ikut kereta yang menuju ibukota."
"Kalau begitu apa yang kita tunggu lagi, mari bergegas, aku lapar."
Liliana masih memikirkan soal makanan.
Setelah mereka makan mereka mendapatkan tumpangan ke ibukota dan itu menjadi perjalanan tenang tanpa adanya bahaya.
Vesta bertanya ke arah Yujin yang duduk selagi memperhatikan pandangan ke luar kereta.
"Lalu Yujin apa iblis yang memberikanmu kontrak masih hidup?"
"Aku tidak begitu tahu, dia hanya ingin aku membunuh iblis lain dan entah kenapa aku akan tahu saat aku melihat mereka."
"Itu semacam kau berkerja untuknya," potong Liliana mengambil waktu sejenak sebelum melanjutkan.
"Tapi jika itu bisa membuatmu menjadi tambah kuat, aku rasa itu bukan kontrak yang buruk."
Vesta mengembungkan pipinya, dia hanya merasa kalau saja Vesta yang memberikan kekuatannya maka Yujin tidak perlu bergantung pada iblis.
Seperti yang semua orang tahu dewi dan iblis adalah musuh dan saling membenci satu sama lain.
Teriakan Roroa membuat semua orang menyadari satu hal.
"Ah, itu dia... rumahku. Entah kenapa aku sangat merindukannya hueeeh."
"Yang mulia?" tanya pedagang khawatir dan Yujin menenangkannya.
"Jangan khawatir dia memang orang cengeng."
"Apa maksudnya cengeng Yujin?"
"Lupakan saja."
Di kerajaan ini hanya Yujin yang mungkin memanggil seorang ratu dengan sebutan dia.
Mereka disambut oleh beberapa pasukan penjaga yang tampak terkejut dengan penampilan pemimpin mereka yang terlihat kacau.
"Di mana pengawal yang pergi bersama Anda?"
"Mereka sudah tewas, banyak hal terjadi tapi aku akan menjelaskannya nanti cepat antar kami ke istana."
"Dimengerti."
Yujin, Vesta dan Liliana mengikuti dari belakang saat ratu ini dibawa dengan sebuah tandu.
Sesampainya di istana mereka diminta untuk menunggu di ruang tamu sebelum seorang memasukinya, dia adalah seorang pria dengan wajah tampan serta rambut biru sebahu. Mengenakan armor mengkilap dengan pedang ukiran kepala naga tepat di pinggangnya.
"Perkenalkan namaku Arnold Beaufort.. salah satu Knight of Pirsel... sebelumnya aku sangat mengucapkan terima kasih sudah membawanya kembali selamat ke kerajaan ini, soal upah yang disepakati kami tidak keberatan menaikannya tiga kali lipat tidak mungkin 6 kali lipat dari kesepakatan awal."
Liliana mengutarakan pendapatnya terhadap kesatria yang ramah tersebut.
"Kamu yakin? Itu bukan harga yang cukup murah loh."
"Tidak masalah, ketika tahu bahwa orang yang menjadi dalang semua ini begitu kuat, aku ragu pembayaran itu sudah cukup namun karena krisis yang terjadi kami tidak bisa memberikannya lebih."
Krisis yang dikatakannya adalah krisis peperangan melawan raja iblis.