
Dengan sedikit susah payah akhirnya kelompok Yujin telah sampai di wilayah selatan, mereka menaiki sebuah perahu untuk sampai ke pulau cukup luas yang kini telah berubah menjadi sebuah kota.
Di sekelilingnya dilingkari tembok tinggi serta gerbang emas yang dijaga beberapa penjaga. Untuk bisa masuk Testarossa merubah dirinya ke bentuk manusia seutuhnya.
Tujuan mereka tidak berubah, mengambil senjata para pahlawan yang telah diberikan dewi Andromeda, meski mereka memiliki kekuatan besar mereka lebih memutuskan tinggal di sini memperkaya diri mereka dengan uang dan Harem hingga melupakan tugasnya sebagai pahlawan.
Dengan fasilitas yang diberikan jelas orang-orang dari dunia lain akan memilih kehidupan seperti ini, jika Yujin tidak dilatih seperti layaknya militer bukan hal aneh dia juga akan mengambil jalan yang sama. Walaupun itu juga masih diragukan apa dia akan hidup seperti itu.
Tidak berbeda jauh dengan kota lainnya semua hal yang kamu inginkan tersedia di sini, seperti pernak-pernik, makanan, pakaian dan sebagainya. Mustahil untuk menyebutnya seperti benar-benar berada di tengah laut.
Setiap pemandangan jalan utama sangatlah dipenuhi oleh keindahan. Beberapa orang berlalu lalang dan beberapa lagi banyak yang menawarkan dagangan mereka. Yang paling menonjol bahwa setiap ras ada di tempat ini juga.
Ada sebuah menara jam di tengah tempat ini yang membuat siapapun ingin melihatnya. Namun langkah mereka terhenti saat melihat seorang iblis tua dengan rambut memutih tengah bermain dengan anak-anak.
Ia memiliki tinggi 2 meter dengan mantel hitam dibalik pakaian putihnya.
Ia tampak memberikan senyuman yang dibalas teriakan bersemangat.
"Yujin itu?"
Tanpa menjawab pertanyaan Vesta, Yujin telah melesat maju. Dia menarik pedang di pinggangnya dan bergerak dengan teknik tusukan.
Pandangan yang diberikannya begitu dingin hingga siapapun akan dengan mudah mengetahui bahwa dia berniat membunuh iblis tersebut tanpa sedikitpun keraguan, sebelum pedangnya bisa mencapai targetnya, Yujin dibekuk ke tanah dengan masing-masing kaki dan tangan dipegang oleh tiga pria dan satu wanita.
Tiga pria menggunakan pedang, tombak dan perisai, sementara yang wanita menggunakan busur.
Mereka terlihat tampan dan cantik yang diimbangi dengan pakaian mewah yang sangat cocok untuk mereka, tidak segan-segan aura yang dikeluarkan mereka sangatlah berbeda dari manusia biasa.
Tanpa harus dikatakan lagi semua orang akan tahu bahwa mereka merupakan pahlawan dengan gelar sama seperti senjata yang mereka miliki.
"Kau cukup berani mengayunkan pedangmu di kota ini?" kata pahlawan pedang.
"Minggir kalian, aku harus membunuh iblis itu," jawab Yujin datar.
"Tenanglah kawan, dia bukan iblis jahat... dia Mosel yang kami jadikan sebagai orang bertanggung jawab di sini," tambah pahlawan tombak.
Mereka semua hanya orang-orang bodoh bagi Yujin.
"Memangnya apa yang akan dia lakukan ketika empat pahlawan ada di tempat ini."
Yujin memeriksa sekitar dan melihat bahwa dia telah menjadi pusat perhatian. Untuk anggota lainnya hanya mengawasi dari kejauhan setelah menerima perintah untuk tidak bergerak.
Pahlawan tombak mengambil pedang Yujin selagi memamerkannya di tangan.
"Gila, ini bukannya katana... dan jelas dibuat sangat baik."
"Hentikan itu pahlawan tombak, kita tidak boleh menyentuh barangnya."
"Meski kau bilang begitu sebagai pahlawan pedang kau tidak ingin memiliki ini juga."
Tepat saat pahlawan tombak mengayun-ayunkan pedangnya di udara duri besi menembus lengannya, dia berteriak kesakitan dengan darah menetes dari tangannya.
"Whoaaaa."
Semua orang terkejut.
"Apa yang kau lakukan brengsek!"
Dia mencengkeram kerah Yujin dengan tangan lainnya.
"Pedang itu hanya bisa dipakai olehku saja."
"Sialan, hey penjaga bawa dia dan penjarakan. Aku ingin dia menerima hukuman yang setimpal dengan satu tangannya dipotong besok pagi."
"Baik."
"Kau terlalu berlebihan."
"Berisik."
Yujin membiarkan dirinya ditangkap sementara pedang yang dijatuhkan diambil dengan kain sebagai pelapis.
Testarossa bersiap dengan tangannya namun Yujin menggelengkan kepalanya sebagai instruksi hingga ia memutuskan untuk mengurungkan diri.