Living In Another World Is Hard!

Living In Another World Is Hard!
Chapter 40 : Malam Pencurian



Vesta yang duduk di atas Liliana dalam wujud naganya tampak mengembungkan pipinya, ia juga harus mengenakan baju besi hitam yang cukup membuatnya kurang nyaman.


"Ini helmnya," Testarossa menyodorkan benda tersebut yang segera dipakai oleh Vesta, wujudnya sendiri menyerupai kepala semut dengan ornamen tambahan yang membuatnya menakutkan.


"Itu cocok denganmu, sekarang kau terlihat seperti pasukan kegelapan atau sebagainya."


"Bukannya berbahaya untuk membuat pengalihan seperti ini."


"Tidak juga, ini akan sangat membantu kita untuk merebut pedang suci," atas jawaban Yujin Liliana tertawa.


"Boleh juga, aku akan merusak kotanya tanpa membunuh siapapun, mari pergi Vesta."


"Tunggu, aku belum siap."


Mengabaikan protes Vesta. Liliana telah terbang ke langit lalu turun di tengah kota dengan kegemparan mengelilinginya, untuk menambahkan efek kengerian, Liliana menyemburkan api ke udara yang berubah menjadi percikan layaknya hujan meteor.


Yujin dan Testarossa yang memperhatikan dari jauh puas dengan hasilnya. Mereka menarik seluruh Paladin untuk mendekat termasuk orang-orang yang menjaga pedang suci.


Testarossa hendak menyentuh pedang suci namun sebuah percikan petir menyambar tangannya.


"Memang benar energi sucinya cukup kuat untuk menjauhkan monster, sayangnya harus lebih dari itu untuk mengusir seorang raja iblis."


Tanpa ragu Testarossa menarik pedangnya.


"Kau tak apa?"


"Tidak masalah.. jadi selanjutnya apa yang harus aku lakukan?"


"Aku sudah berjanji untuk menyelamatkan banyak orang."


Yujin sampai di tempat yang sebelumnya ia kunjungi dengan Jack, tidak seperti sebelumnya yang harus menyelinap ia secara terang-terangan muncul dari depan lalu menebaskan pedangnya untuk menghancurkan seluruh jendela.


Sementara itu Testarossa mengambil jalan belakang untuk mengeluarkan semuanya.


Seluruh penjaga menarik pedang mereka sebelum melesat maju, pedang mereka terpotong-potong dalam waktu singkat dan berjatuhan hingga menghasilkan gemerincing logam yang saling menyahut.


"Apa-apaan orang ini? Aku tidak bisa melihat tebasan pedangnya."


"Cepat sekali."


"Selanjutnya mungkin tubuh kalian yang terpotong-potong."


Semua wanita itu mencoba mundur sebelum seorang pria plontos muncul dengan sebuah pedang kayu di tangannya.


"Mengejutkan bahwa tempat ini mempekerjakan seorang pria," kata Yujin sembari menutup sebelah matanya.


"Itu karena aku lebih kuat dari mereka.. yah, aku terlibat hutang dengan pemilik tempat ini hingga harus menjadi budaknya, namaku Jos Gandos. Aku yang akan mengalahkanmu."


Yujin menahan pedang kayu yang terayun padanya, mengejutkan juga bahwa pedang tersebut tidak terpotong.


"Pedang ini adalah pedang yang menyamai pedang suci, jangan pikir aku bisa kalah haaaaaa."


Tubuh Yujin terdorong ke belakang.


"Apa yang kalian lakukan? Serang dia."


"Tapi kami tidak bisa."


"Hah, apa kalian mau mati?"


"Baik."


Yujin mengayunkan pedangnya dan itu menciptakan putaran tornado api yang melemparkan mereka ke segala arah.


Jos mengusap kepala plontosnya dengan wajah kesal.


"Ampun, kalian benar-benar tidak berguna... bukannya kalian ini."


Sebelum dia menyelesaikan pembicaraannya, Yujin telah muncul di depan wajahnya, mengayunkan tinjunya dia membuat Jos terlempar menembus bangunan.


Cukup aneh bahwa setelah menerima pukulan tersebut Jos masih berdiri dan juga berjalan dengan darah menetes dari tubuhnya.


"Apa kau kira aku bisa dikalahkan semudah itu, kuperingatkan meski kau mengalahkanku kau tidak mungkin bisa mengalahkan bos di tempat ini, dia adalah iblis."


Jos yang beberapa waktu bersikap keren, menyemburkan darah dari mulutnya sebelum tumbang dengan wajah mencium tanah.


Yujin tidak perlu menganggapnya serius jadi dia berjalan melewatinya. Ia berfikir bahwa pedangnya cukup menarik jadi ia mengambilnya sementara pedang miliknya dibiarkan tersarung di pinggangnya.


"Kembalikan pedangku?"


"Ini sudah jadi rampasan perang."


"Apa? Kau lebih jahat dari penjahat."


Jos Gandos pingsan.