Living In Another World Is Hard!

Living In Another World Is Hard!
Chapter 50 : Pengembangan Desa Tahap Pertama



Jos membawa Yujin untuk melihat bangunan yang telah dibuat untuknya, kediaman itu memiliki area yang terbilang luas dan megah karenanya memerlukan pengerjaan yang cukup lama dibandingkan rumah-rumah yang lainnya untuk penduduk.


Semua orang di desa ini mengenakan kimono dan Yukata tak terkecuali Jos sendiri yang berpenampilan seperti anggota gangster atau sebagainya.


Dia mengenakan kimono putih yang sengaja lengannya di buka untuk menampilkan tato berbentuk naga. Kepala plontos serta membawa pedang kayu di pinggangnya, menjelaskan tentang penampilannya.


"Bagaimana tuan Lord Anda menyukainya?"


Hampir seluruh arsitektur bergaya rumah tradisional Jepang dengan pekarangannya terdapat kolam dan bumbu sementara alas untuk rumah sendiri menggunakan tatami yang begitu indentik dengan Yujin ingat.


"Kerja bagus, tapi aku kurang nyaman dipanggil Lord."


"Ini semua keputusan semua orang, Anda memiliki bawahan raja iblis, kami berfikir itu sangat cocok."


Bukan hanya Jos, jelas Yujin juga akan dianggap sebagai pemimpin penjahat atau sebagainya.


Ia tidak ingin mempermasalahkan dan hanya menerima apa yang semua orang inginkan.


Jos dengan senang menunjukkan setiap sudut ruangan tersebut yang muat disi bahwa 50 orang sekaligus, di belakang ada sebuah tempat pemandian air panas serta di sampingnya kolam ikan hias yang memiliki keseragaman tertentu.


Yujin hanya mengantisipasi kalau ada tamu yang akan tinggal beberapa hari di tempat ini dengan menyediakan keperluan mereka.


Jos tersenyum bangga saat dia memamerkan hasil buatannya, walaupun sejujurnya semua arsitektur jelas merupakan pemikiran Yujin sendiri.


"Tempat tinggal sudah selesai, yang harus diperhatikan adalah ketersediaan makanan."


"Soal itu sudah diurus oleh para penjaga desa, Testarossa, Aestaria dan Melfisa selalu berburu binatang buas setiap harinya dan membagikannya ke penduduk."


"Mereka melakukan itu?"


"Iya, sementara mereka pergi... urusan desa dijaga oleh para pasukan tengkorak, mereka sangat kuat aku bahkan kesulitan hanya melawan satu saja."


Yujin pikir desanya akan terlihat aneh jika tengkorak-tengkorak itu berjalan beriringan dengan manusia dan para naga.


Selagi itu baik-baik saja, dia berfikir tidak masalah. Yang harus dia pikirkan ke depannya hanya berusaha membuat ladang pertanian di sini.


Ia tidak bisa menemukan orang yang cocok untuk melakukannya.


Vesta terlalu lembut hingga dia segan untuk memerintah siapapun, Liliana suka seenaknya.


Dia tidak memiliki seorang yang benar-benar mampu mengelola hasil panen.


"Aku perlu sekertaris lainnya selainmu nanti, yang mau mengurus dokumen."


"Aku tidak suka dokumen."


Jos bukan seorang yang cocok berada di balik meja.


"Itu bisa dikesampingkan nanti, lalu bagaimana patung dewi Vesta?"


"Pengerjaan mencapai 90 persen, aku juga membuat katedral tidak jauh dari sana... tapi rasanya akan aneh juga jika dewi sendiri yang berada di dalamnya."


"Aku bisa mengerti apa yang coba kamu katakan, seharusnya dewi memperhatikannya dari jauh dan hanya mengutus utusannya yang merupakan Arc Priest untuk mengurusnya."


"Itu dia."


"Kita tidak melarang dewi lainnya, jika ada permintaan membuat katedral yang lain dari penduduk, jangan ragu untuk melakukannya."


"Baik."


Pada dasarnya dunia ini telah memiliki dua dewi untuk mengelolanya, untuk Vesta bisa dibilang hanya dewi yang turut menjadi bagian darinya.


Yujin tidak ingin ada konflik yang terjadi jika dia mendiskriminasi salah satunya. Hidup damai adalah hal yang benar-benar ingin dicapainya.


"Jos kita akan pergi ke kota terdekat, siapkan keretanya."


"Laksanakan tuan Lord."


Yujin pikir sudah waktunya untuk melihat-lihat kota lainnya sekaligus mencari keperluannya untuk mengembangkan desa ini.


Yujin memperhatikan penampilan dirinya, ia terlalu terlihat seperti seorang kesatria. Akan lebih baik mengubahnya ke gaya yang minimalis dan sederhana mungkin.


Dipilihnya sebuah jaket hitam dengan t-shirt hitam serta celana panjang. Untuk pedangnya sendiri menggantung di belakang pinggangnya.


"Ini lebih baik."


"Tuan Lord aku sudah menyiapkannya, kita bisa pergi sekarang."


Yujin mengangguk mengiyakan.