Living In Another World Is Hard!

Living In Another World Is Hard!
Chapter 46 : Pertemuan Kembali



Siluet matahari tenggelam menyilaukan jauh di sudut cakrawala.


Yujin berdiri di tengah desa bersama Liliana yang terikat, sementara semua orang memperhatikan dari balik rumah mereka, tak lama sesosok makhluk tinggi besar muncul, ia memiliki tanduk di keningnya serta memiliki tubuh berwarna merah dan hanya kain lusuh yang menutupi pinggang sampai lututnya.


Dialah makhluk yang disebut Oni, setiap matahari tenggelam ia akan muncul untuk mengambil persembahan desa, jika pun ada yang melawan golok besar di pinggangnya yang akan berbicara menggantikannya.


"Gyahaha aku datang untuk mengambil gadis kalian, sebaiknya yang ini masih mulus dan punya daging yang empuk."


Melihat Yujin berdiri membuatnya bertanya.


"Siapa kau? Aku baru melihat kau ada di desa ini?"


"Aku hanya penduduk baru, kata mereka kalau aku ingin tinggal di sini aku harus mengorbankan seseorang jadi aku ingin mengobarkan temanku ini."


Liliana berakting ketakutan.


"Tidak aku ingin pulang."


"Dia punya kulit yang mulus, rasanya pasti enak," tambah Oni selagi mengusap air liurnya.


"Kau bisa memperkosanya dulu sebelum memakannya."


Atas perkataan Yujin, Oni itu tertawa.


"Kami tidak memiliki kecenderungan seperti itu, kami hanya memakan manusia saja, terakhir kali yang kalian berikan berumur 30 tahun, dagingnya benar-benar alot dan terus saja menangis ingin bertemu putrinya yang sudah lama meninggalkan desa ini. Tapi sekarang pasti enak."


"Satu tidak akan cukup apa kau yakin hanya dengan ini saja?"


Oni itu sedikit terdiam melihat bagaimana ekpresi Yujin tidak berubah, seharusnya seseorang akan takut atau jijik tapi Yujin hanya menatap datar dengan intonasi yang tidak berubah sedikit pun.


"Sepertinya kau manusia yang cukup banyak berfikir, kami hanya mengambil satu orang dari satu desa... jadi ada enam lagi yang kami makan."


"Begitu."


Yujin tersenyum kecil lalu mendorong Liliana ke depan.


"Hentikan, aku ingin pulang saja... hentikan."


"Kamu akan pulang tapi di dalam perutku haha."


Sensasi panas menjalar di kedua tangan Oni tersebut hingga membeku, otaknya sedang mencoba memproses apa yang terjadi hingga dia terduduk lemas, seharusnya saat terjadi masalah ia akan menarik golok miliknya namun sekarang.


"Aaaaaaaah, tanganku, tanganku, tanganku!"


Kedua tangannya telah terputus sebelum ia bisa melakukannya, sensasi panas itu berubah menjadi rasa sakit yang tak tertahankan seolah bisa membunuhmu hanya dengan memikirkannya saja.


"Siapa kau?"


"Aku ini seekor naga tahu."


Liliana yang sudah terlepas dari ikatannya memamerkan tangan yang berubah menjadi tangan naga.


"Kurasa hal itu tidak akan terjadi," suara lain telah memotong perkataan ini tersebut.


Suara yang dingin serta disisipi oleh kesombongan.


Dia berbalik dan menemukan Testarossa berdiri dengan wajah penuh darah, tak hanya itu ia memegang sebuah kepala Oni lain di tangannya lalu menggelindingkannya ke bawah kaki Oni tersebut.


"Apa yang telah kau lakukan?" tanyanya memekik.


"Aku membantai kawananmu, semuanya jumlahnya 500 ekor dan tersebar di beberapa tempat berbeda bukan, lupakan untuk menemukan jasadnya karena semuanya sudah tidak berbentuk lagi."


"Kau?"


Oni tersebut kembali beralih ke arah Liliana, tapi bukan sebagai manusia melainkan seekor naga raksasa yang memamerkan taring di mulutnya.


"Sekarang giliranmu yang merasakan rasanya dimakan, selamat makan."


"Hentikan!"


Liliana mengigit setengah tubuh Oni tersebut menyisakan bagian pinggang ke bawah dengan darah berserakan.


Liliana mengunyah.


"Aku rasa, rasanya seperti ayam."


"Kau selalu berkata rasanya seperti ayam padahal kau makan buah."


Liliana tidak menghiraukan perkataan Testarossa tersebut, di sisi lain para penduduknya mulai bermunculan dengan suka cita. Vesta turut bergabung juga.


Selain menyetujui permintaan Yujin mereka juga mengadakan pesta semalaman sebelum melanjutkan perjalanan keesokan paginya. Mereka dikejutkan dengan seorang yang tergantung di dalam hutan selagi berteriak-teriak.


"Tolong siapa saja selamat aku, aku takut ketinggian aaaaaah."


Yang berteriak itu Jos Gandos yang mereka temui kemarin. Vesta menembakan panahnya mengenali tali hingga dia jatuh ke tanah.


"Sakit."


"Jadi apa yang terjadi padamu?" ucap Yujin.


"Aku terkena jebakan para bandit, mereka meninggalkanku dan hanya membawa pedangku, bagaimana ini... tolong bantu aku mendapatkannya, sebagai bayaran aku akan ikut dengan kalian, aku mohon."


"Pedangnya lebih berharga darinya," balas Liliana.


Mendengar itu Liliana tertawa terbahak-bahak.


"Ngakak, nih orang kerjanya cuma ngejar-ngejar pedang miliknya yang dicuri, apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan."


"Berisik, kalau kau berada di posisiku, jadi figuran receh baru tau rasa."