
Seperti yang disepakati Yujin sebelumya, dia akan bertarung melawan Arnold di tempat latihan. Roroa dan Talia turut menemani bersama Liliana dan juga Vesta.
"Kamu yakin Yujin akan melakukan hal ini?" keraguan itu muncul dari Roroa yang dijawab begitu singkat.
"Tidak masalah."
Tepat saat mereka akan berjalan sesuatu telah terbang ke langit, itu adalah seekor naga yang terbuat dari cahaya kemudian jatuh tepat di atas kepala Yujin yang menahannya dengan sebuah katana.
Semua orang meringkuk untuk melindungi diri mereka sebelum mengalihkan pandangan pada pelaku sesungguhnya.
"Sudah aku duga kekuatan barusan tidak benar-benar bisa melukaimu."
"Bukannya ini hanya latih tanding barusan kamu benar-benar ingin membunuh kami."
Semua orang terdiam dan hanya Yujin yang menjadi satu-satunya orang yang mampu berbicara.
"Aku berubah pikiran, kupikir aku akan membunuh kalian, termasuk ratu Roroa, tapi jangan khawatir... setelah aku menjadi pemimpin kerajaan ini kemenangan akan dipastikan jatuh pada manusia."
Talia memasang wajah tidak percaya, penampilan Arnold sangatlah terlihat berbeda dia memiliki tiga mata yang menyeramkan.
"Berhentilah bercanda Arnold, kita berdua adalah orang-orang dari Knight of Pirsel yang selamat, mana mungkin kamu mencoba membunuh ratu."
Darah menyembur dari mulut Talia saat ujung pedang Arnold menembus perutnya, dari pakaiannya tetesan warna merah mengenai lantai pijakannya.
"Arnold, kau?"
"Ketika kalian memilih mencoba berdamai dengan ras iblis maka kalian tidak jauh beda dengan musuh, kini aku memiliki kekuatan untuk merubah semuanya, seorang diri sudah lebih dari cukup."
Tepat saat Talia jatuh, Yujin dan Liliana melesat maju untuk mencegah Arnold melakukan pembunuhan. Liliana mengirimkan tinjunya bertepatan Yujin yang menarik pedangnya namun saat mereka sadar mereka telah diterbangkan kembali mundur.
"Apa yang barusan terjadi? Jelas-jelas aku bisa mengenainya dengan pukulanku," tanya Liliana.
"Aku juga merasa begitu."
Vesta menarik busurnya lalu melesatkan satu panah tepat di depan mata Arnold, dengan sedikit gerakan, panah itu melesat begitu saja.
"Liliana kamu melihatnya?"
"Jelas sekali dia tidak bergerak tapi kenapa panah itu tidak mengenainya."
"Dimengerti."
"Sebelum itu."
Liliana melesat maju dia menangkap pakaian Talia lalu melemparkannya jauh untuk ditangkap oleh Yujin dengan satu tangan.
Tepat saat itu Liliana ditebas oleh pedang Arnold membelahnya menjadi dua bagian.
"Kau lengah."
"Tidak, apa dia Arnold yang sama?" ucap Roroa.
"Dia sudah jadi iblis."
Yujin melangkah maju dengan gerakan tusukan yang digabungkan dengan tebasan menyamping, Arnold bergerak ke belakang seolah tubuhnya melayang. Dia menangkis setiap tebasan kemudian membalas dengan memutarkan pedangnya dari atas ke bawah.
Yujin menahannya horizontal hingga pijakannya merebas ke dalam tanah. Dia ditendang sampai terdorong beberapa meter ke belakang.
"Yujin sampai kapan kau menyembunyikan kekuatanmu. Kau jelas memiliki kesepakatan dengan iblis seharusnya lebih dari ini bukan."
Yujin tidak terpengaruh dengan perkataannya, dia sudah menyarungkan kembali pedangnya sembari berkata.
"Aliran seni pedang Tsubaki, Nafas es."
Hawa dingin menyelimuti tubuhnya ketika dia menebas dengan kecepatan tinggi, sosok Arnold terbungkus es setinggi 30 meter namun hanya sesaat sebelum bongkahan es tersebut retak, hancur dan berjatuhan.
Yujin menatap datar selagi berkata.
"Dunia ini terlalu sulit bagi siapapun yang dipindahkan kemari."
Arnold tersenyum dengan senang.
"Jika kau tidak ingin mengeluarkannya, aku hanya harus memaksamu."
Pedang di tangan Arnold berubah menjadi seekor naga dalam bentuk cahaya keemasan.