
"Kalau begitu berhati-hatilah, kami selalu menunggu kepulangan kalian dengan selamat," ucap Helena sama-sama membungkukan badan mengikuti Jos di sebelahnya.
Pagi itu kelompok Yujin telah meninggalkan desa mereka untuk pergi ke sebuah pulau di selatan yang keseluruhannya menjadi wilayah salah satu pahlawan.
Seperti biasa Liliana mengeluh karena tidak ada dari rekannya yang memintanya menjadi alat transportasi, sementara Testarossa ikut-ikut saja seolah tidak peduli.
Vesta menginjak sesuatu di bawah kakinya sebelum menjerit dengan imut, Liliana mengikuti dan Testarossa menjerit juga dengan nada datar.
"Kyaaa."
Belakangan ini dia hanya mencoba menjadi seorang perempuan pada umumnya, sayangnya itu akting yang jelek.
Yujin menghindar dengan gesit saat Vesta dan Liliana hendak memeluknya, normalnya pria akan memberikan pelukan untuk menenangkannya tapi Yujin hanya cuek saja.
"Syukurlah pakaianku tidak kotor."
"Kau mengatakan itu saat kami berdua melompat padamu," protes Liliana dan Vesta mendesah pelan.
"Kalian hanya menginjak serangga, tak perlu ditakutkan."
"Itu bukan serangga biasa, mereka lintah dengan ukuran besar."
"Lihat saja Testarossa tidak masalah."
Semua orang mengalihkan pandangan padanya yang berdiri selagi mengangkat jempol, walaupun kepalanya sedang dikunyah.
"Dia mati?" teriak Liliana.
Jika raja iblis mati seperti itu maka semua orang akan menertawakannya dalam sejarah, Testarossa menusuk tangannya untuk membunuh lintah tersebut dengan mudah.
"Aku baik-baik saja."
"Kalau begitu mari kita lanjutkan."
Mereka semakin masuk ke dalam hutan sampai sebuah suara bermunculan dari atas pohon, pemiliknya adalah beberapa orang yang disebut sebagai Dark Elf, mereka terlihat seperti Elf hanya saja warna tubuh mereka sedikit gelap seolah mereka terlalu lama berjemur di bawah matahari.
Pria yang terlihat sebagai pemimpin turun dengan berayun melalui sulur.
"Aku juga ingin bisa melakukan itu, minta diajarin ah."
Tidak ada yang menanggapi perkataan Liliana dan hanya fokus dengan pria di depan mereka yang memiliki rambut putih dengan ikat kepala.
"Kami berniat pergi ke wilayah selatan, kebetulan kami dengar lewat sini akan lebih cepat."
"Itu memang benar, tapi kami harus meminta kalian untuk kembali, hanya orang-orang yang diberi berkah dari roh agung saja yang bisa melewati hutan ini."
"Apa tanpa itu kami tidak bisa pergi?"
"Bisa dibilang begitu."
Liliana dan Vesta menjatuhkan bahunya lemas, bagaimana perjuangan untuk sampai kemari tidaklah mudah dan mereka malah harus putar balik.
Melihat itu Moris sedikit memberikan simpatinya.
"Kalian bisa tinggal di pemukiman kami yang tidak jauh dari sini, kami tidak keberatan untuk memandu kalian."
"Kami sangat terbantu, tapi apa tidak masalah... kami hanya orang asing," balas Vesta.
"Tidak, kurasa aku yakin bahwa kalian orang-orang baik."
Mereka semua dipandu ke sebuah pemukiman sederhana yang berada di atas pohon, untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain mereka menggunakan sulur-sulur yang disediakan alam.
Dibandingkan Elf mereka, Dark Elf lebih memilih hidup bersama alam, Yujin ingat bagaimana seorang Elf yang jadi pedagang di kota tertentu.
Dia menjadi serakah.
"Namaku Moris, di sini aku bertugas sebagai ketua penjaga, akan aku pertemukan dengan pemimpin kami."
Mereka sampai di sebuah rumah pohon jauh dari ruang lainnya.
"Nona Miko, apa Anda di dalam?"
"Moris kah, sepertinya kamu membawa tamu kemari, masuklah."
Setelah diizinkan mereka bisa melihat seperti apa penampilan Miko tersebut, sama seperti yang lainnya dia merupakan Dark Elf, memiliki rambut putih panjang dengan mata tertutup.
"Matanya?" kata Liliana heran dan Moris menjawabnya dengan nada sedikit sedih.
"Dia adikku, semenjak kecil dia jatuh sakit dan akhirnya matanya tidak bisa digunakan kembali."