Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Sidak



"Dip, kamu kan ketos ya, berarti kamu tau dong ke depannya sekolah kita bakal ada apa aja?" tanya Vanya pada Dipta yang tengah asik dengan laptopnya.


Sepulang sekolah, Dipta main sebentar ke rumah Vanya. Awalnya, mereka membeli seblak lalu dimakan di rumah Vanya. Namun, Dipta malah betah di sana. Akhirnya cowok itu memutuskan untuk sekalian membuat tugas di rumah Vanya.


Vanya tentu saja tidak keberatan. Biasanya ia hanya di rumah bersama asisten rumah tangga saja. Itu pun sehabis maghrib ART-nya pulang ke rumah. Jadi ia lebih sering sendiri di rumah itu.


Rumah Vanya besar, tapi rasanya sepi karena tidak banyak yang menghuni.


"Dipta kok nggak dijawab, sih?!" sungut Vanya seraya menendang kecil ke arah Dipta. Posisinya, Vanya duduk di atas sofa, sedangkan Dipta lesehan di karpet bulu.


"Apa, Vanyaaaa?" Tatapan Dipta tetap tidak berpaling dari layar laptop itu.


"Kamu kan ketos, berarti kamu tau kan apa aja yang bakal terjadi di sekolah?" Vanya mengulang pertanyaannya.


Dipta menggeleng. "Aku ketos, bukan peramal."


Vanya berdecak dan memukul bahu Dipta. "Serius heh!"


"Lah, udah serius. Emang kamu kira aku peramal yang tau bakal ada apa aja di sekolah?" bela Dipta.


"Maksud aku tuh kegiatannya gitu," koreksi Vanya.


"Enggak selalu, Van. Aku mah taunya kegiatan yang emang udah jadi proker OSIS aja. Kalau yang lain, apalagi udah ranah guru dan lebih intens lagi, ya enggak tau. Misal, bakal ada lomba apa aja yang diadain OSIS, itu aku tau. Tapi, kalau bakal ada jamkos karena guru rapat atau enggak, itu aku nggak tau," jelas Dipta.


"Kalau urusan sidak?" tanya Vanya lagi.


Pertanyaan itu berhasil membuat Dipta berhenti mengetik di keyboard. Cowok itu bahkan menoleh ke arah Vanya yang memandangnya, menanti Dipta memberikan jawaban.


"Urusan sidak itu dadakan tau. Random pemberitahuannya. Bahkan anak OSIS sebelum nyidak kalian itu juga disidak dulu. Jadi kami juga sama nggak tahunya kayak kalian. Biar lebih adil, sih," jawab Dipta.


"Masa sih nggak tau?" Vanya masih tidak percaya.


Dipta mengangguk. "Iya, beneran."


"Ya udah nanti kamu kalau dikasih tau, kasih tau aku juga dong. Biar aku siap-siap," pinta Vanya.


Dipta menggeleng dengan tanganya yang menjulur untuk mengusap kepala Vanya gemas. "Nggak bisa dong, Sayang. Penyalahgunaan kekuasaan itu."


"Yaelah, aku doang kok, Dip. Sama pacar sendiri juga," sebal Vanya.


"Tetep nggak boleh, nanti nggak adil. Biarpun aku pacar kamu, aku harus profesional. Harus bisa misahin ranah pribadi sama yang emang udah jadi tugas aku. Makanya, kamu nggak usah aneh-aneh deh. Sekolah aja, dateng yang bener. Pakai seragam yang bener. Jangan kebanyakan bolos. Nggak usah berulah biar nggak diciduk," nasihat Dipta panjang lebar.


"Kalau gitu nanti sekolahku monoton, Dip. Nggak ada cerita seru," bantah Vanya.


"Cerita seru kan nggak harus bandel," ujar Dipta.


"Nggak papa lah, masih wajar juga ini bandelnya," kekeh Vanya.


"Ya udah kalau disidak nggak usah ngambek, ya. Nggak ada perlakuan khusus loh," peringat Dipta.


Di saat seperti ini, Dipta merasakan perbedaan yang sangat mencolok dalam hubungan mereka. Dipta yang taat aturan, sedangkan Vanya suka melanggar aturan. Dipta yang rajin, sedangkan Vanya suka bolos.


Dipta yang menyidak, sedangkan Vanya yang biasanya sering disidak.


***


Pagi tadi ada informasi yang disebar di grup OSIS. Isinya intruksi untuk berkumpul di aula sebelum memasuki kelas dan masih membawa tas. Ternyata, ada penertiban. Sebelum mereka menertibkan orang lain, mereka harus ditertibkan terlebih dahulu.


Hasilnya, ada tiga orang yang terjaring karena atribut tidak lengkap. Anggota OSIS yang tersidak harus menunggu anak-anak yang lain untuk hukuman selanjutnya.


Setelah intruksi Dipta, mereka mulai bersama kelompok kerja yang memang sudah ditentukan sebelumnya. Mereka berjalan menuju kelas yang menjadi bagian dari tugas mereka.


Begitu sampai di kelas Vanya, mata Dipta justru tidak menemukan kekasihnya. Bangkunya kosong. Terdapat tiga bangku lainnya yang kosong pula.


"Wah, bolos nih pasti," tebak Dipta dalam hati.


Para anggota OSIS mulai menyebar dan mengecek atribut. Mereka juga mengecek tas, jaga-jaga ada barang yang tidak seharusnya dibawa seperti rokok ataupun senjata tajam.


"Dip, cewek lo nggak ada tuh, bolos pasti. Ditertibin juga nggak tuh? Nertibin orang lain, masa cewek sendiri dibiarin nggak tertib," celetuk seorang cewek yang tasnya sedang dicek olah anggota OSIS lainnya. Posisinya, Dipta sedang mengecek seorang cowok yang duduk di samping cewek itu.


Dipta tidak menanggapi celetukan itu. Sudah biasa ia mendengar hal-hal semacam itu. Padahal, selama berpacaran dengan Vanya, ia tidak pernah memberi perlakuan khusus apabila sedang sidak seperti ini. Jika Vanya salah, ya akan ditindaklanjuti.


Setelah selesai dengan kelas tersebut, Dipta berkumpul di depan ruang OSIS. Ada arahan dari pembina OSIS untuk melakukan pengecekan di belakang sekolah, menangkap anak-anak yang bolos.


"Dipta turun langsung ya buat cek tempat di luar sekolah yang kiranya sering dipakai buat bolos. Kayak warmindo sama warung belakang." Intruksi dari Pak Tetra, pembina OSIS langsung Dipta lakukan.


Di bawah komandonya, ia mengajak sekitar 5 temannya untuk menyusuri bagian luar sekolah. Sedangkan anggota OSIS yang lain menyusuri bagian di dalam sekolah.


"Cewek lo pasti ada di salah satu tempat itu, Dip," celetuk Rio.


"Iya kayaknya ya. Tadi di kelas enggak ada," sahut Dino.


"Lo berarti nggak bilang sama cewek lo kalau ada sidak, Dip?" tanya Reza.


Dipta menggeleng.


"Ketos lo ini kalau soal sidak menyidak nggak kenal yang namanya ngasih privellege, Za," timpal Rio.


"Nggak adil buat yang lain kalau gitu. Biarin dia nerima konsekuensi, tanggung jawab sama pilihan yang diambil," balas Dipta.


Di warmindo tempat Vanya biasa nongkrong ternyata tidak ada anak sekolahnya. Hanya ada beberapa siswa berpakaian seragam lain yang bukan seragam sekolah Dipta. Mereka segera ke tempat selanjutnya, yakni warung belakang sekolah.


"Buset, ini emang masuk gang sempit gini ya tempatnya," celetuk Reza.


"Iya, Za. Kalau dari sekolah kita emang harus lewat gang sempit ini biar deket. Kalau lewat jalan yang lebih jauh ya lebih lebar jalannya," terang Dipta.


"Buset hapal bener lo, Dip," ucap Reza.


"Iyalah, dia sering nyamper ceweknya kalau ilang-ilangan," sahut Rio yang mendapat gelak tawa dari Dino dan Reza.


Dipta hanya tertawa kalem saja.


Begitu sampai di tempat, di dalam sana terlihat sekumpulan anak-anak yang mereka hapal betul motif batik seragamnya. Itu anak-anak sekolahnya.


Mata Dipta menangkap seseorang yang sedang tertawa dengan permen gagang di tangannya. Ya, itu Vanya. Tidak lama kemudian, Vanya tidak sengaja menatap Dipta. Matanya membelalak. Raut wajah gadis itu terlihat terkejut.


"EH, CABUT WOII ADA SIDAK OSIS NIH!" Suara Ino membuyarkan keterkejutan Vanya. Suaranya terdengar juga sampai di luar, tempat Dipta dan yang lainnya berkumpul.


Suasana sangat riuh kala itu.