
“Mau gue temenin aja gak Van?” pertanyaan itu membuat Vanya yang kini tengah berdiri di pintu kelas nya sambil membawa paper bag berwarna biru menoleh ke arah Eva dengan senyuman menenangkannya.
“Gak papa Va, cuma ngasih ini doang,” ucap Vanya meyakinkan sahabat nya jika ia baik-baik saja.
Vanya benar-benar akan menepati ucapannnya pada mamanya untuk memberikan oleh-oleh kepada Dipta. Mungkin, itu akan menjadi oleh-oleh terakhir titipan dari mamanya untuk Dipta.
Kini Vanya tengah menyiapkan hatinya untuk bertemu lagi dengan Dipta dan membawakan oleh-oleh milik laki-laki tersebut.
Setelah meyakinkan hatinya jika ia akan baik-baik saja, mulai Vanya melangkahkan kaki nya untuk menuju ke arah kelas Dipta. Sahabat nya yang awalnya menawarkan diri untuk menggantikan Vanya memberikannya pada Dipta atau sekedar mengantar Vanya namun ditolak oleh gadis itu kini bisa memperhatikan saja. Sembari berharap semoga Vanya benar-benar baik-baik saja.
Saat sampai di depan kelas Dipta, keadaan kelas ternyata masih cukup ramai. Padahal jam istirahat masih lima belas menit lagi. Vanya melihat ke dalam kelas mencari laki-laki yang kini di carinya. Hingga dilihatnya Dipta tengah bersama dengan sahabat laki-laki itu, yakni Rio. Ada Aretha dan David juga yang kini berada di meja yang sama.
Tidak biasanya memang David tidak keluar kelas. Sepertinya laki-laki itu memang sedang bersemedi.
“Vanya, ngapain lo berdiri di pintu gitu? Nyari gue ya?” teriak David saat melihat keberadaan Vanya. Laki-laki tersebut kini sudah menoleh ke arah Vanya dengan senyumannya yang malah membuat Vanya berdecak mendengar nya.
Dipta yang mendengar nama Vanya di sebut segera menoleh ke arah gadis yang kini berjalan mendekat ke arah nya. Aretha juga menoleh ke arah Vanya dengan tatapan penuh tanya.
“Apaan tuh Van? Buat gue?” tanya David pada Vanya dengan penuh percaya dirinya.
“Gak usah kepedean gitu Pid, kurang-kurangin,” ucap Vanya pada David yang kini berpura-pura merajuk mendengar ucapan Vanya.
Vanya mengalihkan pandangannya ke arah Dipta. “Dip, ini oleh-oleh dari Mama. Makasih katanya,” ucap Vanya sambil meletakkan paper bag yang ia bawa di hadapan Vanya.
Dipta yang mendengar ucapan Vanya kini mengerutkan kening nya. Bukankah harusnya ia yang berterima kasih?
Vanya jelas tak mau melanjutkan pesan Mama nya karena di sana juga ada Rio, apalagi Aretha. Tidak mungkin Vanya bilang, 'makasih udah pernah jagain anaknya.' Oleh karena itu, Vanya memilih menahan titipan mama untuk yang satu itu.
“Buat? Harusnya aku yang bilang makasih ke mama kamu,” ucap Dipta pada Vanya yang kini memilih untuk mengedikan bahunya tak ingin melanjutkan pesan dari Mama nya.
“Nggak tau, katanya gitu. Ya udah, gue balik kelas dulu. Cuma mau nyampein itu aja kok,” ucap Vanya yang setelah nya memilih untuk segera pergi. Namun baru saja ia berbalik Dipta sudah memanggilnya yang membuat Vanya kini membalikkan tubuhnya.
“Van, makasih!” ucap Dipta pada Vanya yang hanya menganggukkan kepalanya. Setelah nya Vanya memilih untuk pergi.
David yang melihat sahabat nya itu pergi segera mengejarnya lalu merangkul Vanya. Kini ia hanya ingin untuk menenangkan dan menjadi penyangga untuk sahabat nya itu, karena ia tahu jika sekarang sahabat nya itu sedang tidak baik-baik saja.
Aretha yang sedari tadi memperhatikan hanya diam. Meskipun sebenarnya kini hatinya merasa cemburu melihat interaksi antara Vanya dan Dipta. Apalagi ia masih bisa melihat cinta pada kedua nya. Namun, Aretha memilih diam. Ia mengerti keduanya tetap perlu waktu untuk beradaptasi dengan keadaan sekarang. Mengingat Vanya dan Dipta bersama bukan hanya dalam sebulan dua bulan, tetapi hampir tiga tahunan.
“Kunci rumah Vanya gak sekalian lo kasih Dip?” tanya Rio pada sahabatnya itu yang kini hanya menggenggam kunci motornya yang juga terdapat kunci rumah Vanya yang tergantung di sana. Dipta memang kembawa kunci rumah Vanya karena dulu, Vanya sering terlambat. Makanya, Dipta mampir ke rumah untuk mengingatkan gadis itu bersekolah. Mengingat asisten rumah tangga di rumah Vanya baru datang sekitar pukul delapan, dan mama Vanya jarang di rumah.
“Loh, Dipta megang kunci rumah Vanya?” tanya Aretha yang sedari tadi diam kini akhirnya angkat suara karena terlalu terkejut mendengar info yang baru saja ia dapatkan.
“Iya lah, Kan….” belum sempat Rio melanjutkan ucapannya kini ia sudah mendapatkan tatapan tajam dari Dipta.
Dipta hanya tak ingin jika sampai masalah Vanya diketahui oleh orang lain yang memang tidak berkepentingan untuk mengetahuinya. Sahabat nya saja mengetahui itu karena mereka sempat ke rumah Vanya untuk mencari Vanya dan Dipta malah seenak nya masuk. Ternyata sudah memiliki kunci rumah nya.
“Kan Dipta yang jagain Vanya,” ucap Rio dengan cengirannya. Aretha belum puas mendengar jawaban dari Rio, tetapi melihat Dipta yang melarang Rio mengatakannya. Pada Aretha akhirnya gadis itu hanya diam saja.
Melihat Dipta yang bahkan memiliki kunci rumah Vanya, Aretha berpikir sejauh apa sebenarnya hubungan Dipta dan Vanya yang sudah ia masuki. Egois memang, tetapi Aretha juga tidak bisa untuk menahannya, karena nyatanya memang perasaan nyaman dan suka sudah masuk ke hatinya untuk Dipta.
***
Menyesal? Mungkin itu yang kini Dipta rasakan. Tatapannya kini melihat ke arah gadis yang tengah tertawa dengan bahagianya. Setelah menerima oleh-oleh dari Vanya kemarin Dipta kini terasa semakin menyesal. Bahkan mama Vanya pun masih menyayanginya layaknya anaknya sendiri. Dipta sempat menghubungi mama Vanya melalui chat untuk berterima kasih secara langsung. Di sana, mama Vanya juga berterima kasih karena Dipta selama ini menjaga dan menemani Vanya. Mama Vanya bilang kepada Dipta untuk tidak sungkan apabila butuh bantuannya.
Melihat Vanya yang kini sudah mulai tertawa kembali justru Dipta merasa sedih. Ia justru terjebak dengan perasaan sakitnya, akibat keputusan yang ia buat sendiri. Nyatanya, Dipta tidak pernah benar-benar siap berpisah dengan Vanya.
“Nyesel ya Dip?” Pertanyaan itu membuat Dipta menoleh ke arah dua orang laki-laki yang kini berada di sisi kanan dan sisi kiri Dipta. Mereka adalah Rio dan David.
“Diem saat marah itu emang perlu Dip. Apalagi mengambil keputusan saat marah, itu emang bukan hal yang baik,” ucap Rio pada sahabat nya itu yang kini hanya diam saja sambil menatap ke arah depan.
“Kenapa? Gak jadi suka sama Aretha?” tanya David yang memang sudah mengetahui pembicaraan Dipta dan Rio saat itu. Karena sebenarnya saat itu David memang berada tak jauh dari mereka.
“Gue rasa kemarin-kemarin gue cuma lagi ada di titik jenuh dan capek sama Vanya, sampai gue ngerasa nyaman sama Aretha. Karena sekarang bahkan gue gak ngerasain apa yang gue rasain ke Vanya sedikit pun ke Aretha,” ucap Dipta dengan senyuman mirisnya. Bodoh memang ia mengambil keputusan dan mengambil keputusan saat sedang marah. Memutuskan hubungannya dengan Vanya hanya karena perasaan abu-abu yang ia rasakan, dan perasaan lelah bercampur amarah yang menyeruak.
“Mangkanya jangan asal cempal tuh mulut,” peringat Rio. Bodoh memang Dipta saat itu. Padahal ia sendiri yang pernah berkata pada Vanya jika saat berada di titik jenuh ia tak akan mencari pelampiasan dan nyaman lain. Namun justru kini ia yang melanggar ucapannya sendiri.
“Lo boleh nyesel Dip. Tapi gue harap lo gak kembali sama sahabat gue dengan bawa cinta yang lo punya, gue gak mau Dip sahabat gue ngerasa tersakiti dan bimbang. Waktu lo udah cukup Dip sekarang biarin orang lain yang berjuang buat dia,” ucap David pada Dipta yang kini sontak membuat Dipta menoleh ke arah David dengan tatapan tak suka nya pada.
“Lo tau kenapa Vanya sering bohongin lo? Itu karena lo sendiri, gue ngerti lo khawatir sama Vanya karena kita emang teman-teman yang badung dan balapan bukan hal yang baik. Tapi cara lo ngekang dia yang buat dia ngebohongin lo, Vanya juga butuh kebebasan Dip,” ucap David melanjutkan sedangkan Dipta kini hanya terdiam mendengar nya.
“Udah cukup waktu lo Dip. Sekarang pandang Vanya sebagai teman, jangan lebih. Bola semakin ditekan ke dalam air bukannya makin ke bawah Dip, tapi semakin melambung tinggi,” peringat David yang setelah nya memilih pergi dari sana mengatakan Dipta dengan segala pemikirannya setelah mendengar semua ucapan David.
Dipta harus mulai menerima ucapan David. Ia harus bisa menerima kenyataan yang sekarang mau tak mau harus dihadapi.
Sulit, tapi Dipta harus mencoba.
***