Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Deep Talk



Suara motor yang melaju dengan kecepatan sedang kini terdengar saling bersahutan dengan pengendara lain. Vanya kini semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Dipta sambil menempelkan kepalanya pada pundak kekasih nya itu.


“Dipta,” panggil Vanya dengan begitu lembut nya pada laki-laki yang tengah menyetir itu. Dipta yang mendengar panggilan dari Vanya segera menatap ke arah spion di samping nya yang kini mengarah pada Vanya untuk  melihat gadisnya itu saat berbicara.


“Kenapa, hm?” tanya Dipta dengan tatapannya yang begitu lembut pada Vanya.


“Kamu pernah ngerasa capek gak sih sama aku?” tanya Vanya dengan tiba-tiba yang membuat Dipta mengerutkan kening nya bingung mendengar pertanyaan dari kekasih nya itu yang tidak seperti biaanya, Vanya akan menanyakan hal itu.


“Kenapa nanya kayak gitu? Udah aku bilang kan gak usah dengerin omongan yang gak perlu, yang ngejalanin hubungan itu kita, bukan orong yang suka ngomong, omong kosong itu,” ucap Dipta dengan begitu serius pada Vanya. Vanya yangmendengar ucapan Dipta tersenyum senang. Ia begitu bahagia mendengar ucapan Dipta yang selalu saja bisa untuk bersikap dewasa dan meminta Vanya agar tidak perlu untuk memusingkan omongan orang yang buruk pada nya.


“Ini bukan tentang omongan orang Dip, tapi aku pengen tahu aja. Apa kamu pernah merasa capek sama aku?” tanya Vanya sekali lagi pada Dipta. Melihat tingkah nya yang selama ini selalu saja merepotkan Dipta.


Mereka begitu sering bertengkat karena sikap egois Vanya atau sikap Vanya yang suka membantah dan begitu keras kepala. Jangan lupakan juga jika ia kerap kali membohongi Dipta hanya untuk datang ke acara balapan liar.


“Kalo di bilang capek ya capek, karena sikap kamu yang kekanakan dan egois itu. Mangkanya kurang-kurangin ya. Tapi kamu juga jadi obat dari rasa capek itu, dan aku berharap perlahan aku bisa merubah kamu,” ucap Dipta dengan begitu lembut juga tenang nya. Laju motor itu kini mulai melambat. Dipta ingin menikmati obrolan ringan nya sambil menikmati pemandangan padat nya kota.


“Kamu pernah bosen gak sih sama aku, karena sikap aku ini?” tanya Vanya lagi pada Dipta yang kini mencoba untuk menata kata-kata nya sebaik mungkin agar tidak menyakiti Vanya. Karena ia tahu meskipun Vanya seperti laki-laki yang b egitu tanggung. Namun tetap saja ia perempuan denganb hati yang lemah.


“Bosen dalam sebuah hubungan itu pasti ada aja titik jenuh nya, namun semua itu bukan jadi alasan untuk mengakhiri sebuah hubungan. Yang perlu di lakuin cuma mengatasi rasa bosan itu,” ucap Dipta lagi dengan begitu lembut nya. Senyuman Vanya mengembang dengan begitu lembut nya saat mendengar ucapan Dipta. Walau ia sidikit kesal jika Dipta pernah merasa bosan padanya, memang tak mengatakannya secara langsung namun dari kata yang di ucapkan laki-laki itu Vanya dapat memahami nya.


“Apa yang kamu mau dari aku?” tanya Vanya lagi sambil melihat ke arah Dipta berada di depannya itu. Sedikit menolehken kapalanya ke arah kekasih nya itu.


“Aku berharap kamu berubah, berhenti ikut club motor, jangan suka bolos, jadi murid yang tertib, jangan suka balapan, dan rajin. Aku tahu gak bisa sekaligus tapi kalau pelan-pelan di mulai dari yang kecil seperti gak suka bolos, perlahan pasti bisa,” ucap Dipta berusaha untuk menasihati kekasih nya itu dengan pelan. Tak ada jawaban dari Vanya, ia hanya diam karena bahkan ia juga tak tahu apa ia bisa untuk berubah? Ia sudah terlalu menyukai dunia nya saat ini.


Dipta memang pelengkap untuk nya, laki-laki dengan pemikiran dewasa dan begitu penyayang. Hingga laki-laki itu mau untuk menerami Vanya dengan segala tingkah nya. Tak hanya tu bahkan Dipta begitu sabar menghadapati nya.


“Makasih Dip,” ucap Vanya sambil memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya pada Dipta. Dipta mengelus tangan Vanya yang kini melingkar di tangannya.


Hingga tak lama kini mereka sampai di sebuah mall besar yang menjadi tujuan mereka. Hari minggu ini Dipta datang ke rumah Vanya untuk mengajak Vanya menemani nya ke mall membeli sepatu futsal.


Dipta menggenggam tangan Vanya dan membawa gadisnya itu untuk masuk ke dalam mall yang kini tampak begitu ramai. Seperti hari minggu biasanya, banya yang memenuhi mall untuk menghabiskan waktu mereka di sana, sekedar berbelanja untuk jalan-jalan dan mengisi waktu luang mereka.


“Kamu emang mau kemana?” tanya Dipta pada Vanya.


“Gak ada sih, aku ikut kamu aja,” ucap Vanya dengan cengirannya yang membuat Dipta tersenyum gemas sambil mengelus puncak kepala gadisnya itu sayang.


Setelah keluar dari lift kini mereka sudah di sambut dengan toko berbagai merk terkenal. Dipta menggenggam tangan gadisnya itu membawa nya menuju toko sepatu untuk membeli sepatu futsal. Mereka kini memasuki toko sepatu denga merk terkenal. Namun kini bukannya menuju ke arah tempat sepatu olah raga berada, namun kini Dipta malah mengajaknya menuju ke arah sepatu perempuan.


“Lah kok ke sini?” tanya Vanya saat melihat Dipta yang kini tengaj melihat-lihat sepatu boot untuk perempuan. Bukannya menjawab pertanyaan Vanya, kini laki-laki itu malah mengambil salah satu sepatu boot berwarna hitam lalu berjongkok di depan Vanya.


“Di coba,” ucap Dipta yang membuat Vanya mengerutkan keningnya bingung namun tetap saja akhirnya ia mencoba nya.


“Suka?” tanya Dipta pada Vanya yang kini masih kebingungan, namun tak dapat Vanya sembunyikan binar di matanya saat melihat sepatu yang terlihat begitu indah. Berwarna hitam dengan tambahan sedikit flat di bawah nya.


“Banget,” ucap Vanya dengan senyumannya yang membuat Dipta ikut tersenyum mendengar nya.


“Udah pas kan ukurannya?” tanya Dipta lagi yang lagi-lagi di balas dengan anggukan emangat oleh Vanya.


“Ini buat aku?” tanya Vanya dengan tatapan tak percaya nya pada Dipta yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dan membantu Vanya untuk melepaskan boots nya itu.


“Makasih Dipta,” ucap Vanya dengan senyumannya yang membuat Dipta terkekeh sambil mengelus puncak kepala kekasih nya itu sayang.


“Biar nyaman pas lagi bawa motor, next time kini sunmori berdua bawa motor masing-masing, mau?” tanya Dipta denga penawarannya. Kini Dipta ingin menunjukkan pada Vanya jika ia bisa untuk mendukung hobi gadisnya itu tanpa gadisnya perlu untuk bergabung dengan club motor nya itu.


Dipta akan menemani Vanya untuk melakukan apapun yang ia suka selagi itu bukan hal yang buruk. Dipta berharap, perlahan Vanya akan mengerti dengan apa yang ia lakukan dan mau menuruti ucapannya itu.


Karena terkadang Dipta juga merasa lelah dengan banyak nya pengaduan tentang Vanya pada nya. Meskilun selama ini ia terkesan tak peduli namun ada waktu di mana ia juga memikirkan hal itu. Jadi ia ingin Vanya perlahan mau berubah, tak perlu untuk nya. Namun untuk diri gadis itu sendiri


*