
"Mau main ke rumah nggak, Van? Bunda nyariin, katanya kangen. Nanti kalau kamu mau, kabarin Bunda, ya, mau dibikinin makanan kesukaan kamu tuh." Dipta bertanya pada Vanya tentang kesediannya untuk main ke rumahnya sebentar.
Sebenarnya sebelum berangkat sekolah tadi, Bunda sudah menitipkan pesan ke Dipta untuk mengajak Vanya ke rumah. Sudah cukup lama Vanya tidak berkunjung ke rumah Dipta. Salah satu alasannya karena Dipta sibuk dengan kegiatannya yang dikejar proker itu.
Mendengar itu, tentu saja Vanya mengangguk. Ia selalu mau jika main ke rumah Dipta. Vanya suka mengobrol dengan bundanya Dipta.
Bunda Dipta adalah sosok yang sangat baik. Ketika bersama beliau, Vanya diperlakukan seperti anak sendiri. Diberi banyak kasih sayang. Dibikinkan makanan kesukaannya. Bahkan, tak segan Bunda mengajaknya untuk jalan-jalan bersama.
"Mau. Bentar, aku chat bunda dulu, ya," ujar Vanya lalu sibuk mengetikkan pesan untuk bundanya Dipta.
"Kamu bawa motor nggak hari ini?" tanya Dipta dan mendapat gelengan kepala dari Vanya.
"Tumben. Motor kamu kemana?" tanya Dipta.
"Di rumah. Males aja, sih, pengen naik ojek online aja," jawab Vanya.
"Kenapa nggak minta jemput aja tadi? Tau gitu tadi berangkat sekolahnya aku antar," ujar Dipta.
"Nggak usah, ngerepotin kamu malahan. Lagian kalau sama kamu pasti kamu pagi banget datengnya. Aku belum siap, nggak enak kalau siap-siapnya nggak tenang," balas Vanya.
"Kamu jam setengah 7 aja baru ngabarin barusan kelar mandi. Makanya telat mulu," cibit Dipta.
Vanya nyengir. "Kan biar aku masih fresh gitu pas di sekolah. Makanya siap-siapnya siangan," alibi Vanya.
Gemas, Dipta mencubit pipi Vanya. "Alesan mulu. Btw, kalau helm bawa nggak?"
Vanya mengangguk. "Bawa, aku titipin pos satpam tadi."
"Oh ya udah, kamu sekalian tunggu di pos satpam aja. Aku keluarin motor dulu," ujar Dipta.
Vanya menurut saja. Mereka berdua berpisah di pertengahan jalan. Dipta berbelok untuk mengambil motor. Sedangkan Vanya lurus untuk menunggu di pos satpam dan mengambil helm.
"Mas, ini helm putihnya saya ambil, ya," ujar Vanya mengambil helm putih di sana.
Mas satpam mengangguk. "Iya, ambil aja. Jangan ketuker lho, Mbak," ujarnya. Kebetulan, satpam di sekolah Vanya belum terlalu tua, masih muda. Kata teman-teman Vanya, sih, masih cocok kalau dipanggil 'mas' makanya Vanya juga ikut memanggil 'mas'.
"Siap, Mas!" ucap Vanya.
"Tumbenan kamu titip helm?" tanya Mas Satpam. Beliau juga hapal dengan Vanya karena saking seringnya terlambat dan memintanya membuka pintu gerbang.
"Nggak bawa motor, Mas. Tadi naik ojek online, tapi bawa helm sendiri. Ya udah saya titipin aja," balas Vanya.
Mas Satpam mengangguk paham. "Terus ini pulang naik ojol lagi?"
Belum sempat Vanya menjawab, motor Dipta sudah berada di dekatnya.
"Iya, Mas, nih ojolnya udah sampai," jawab Vanya seraya menunjuk ke arah Dipta dengan dagunya.
Mas Satpam itu tertawa. Itu Dipta, tentu saja dia tau karena Dipta merupakan ketua OSIS SMA ini. Mas Satpam juga sudah tau hubungan Vanya dengan ketua OSIS itu.
"Auto bintang 5 tuh pasti," tanggap Mas Satpam.
Dipta mendengarnya dan cowok itu ikut tertawa saja. "Ayo, Kak, ini ojolnya udah nunggu dari tadi lho." Dipta ikut-ikutan.
"Duluan, ya, Mas," pamit keduanya pada Mas Satpam.
"Pegangan dulu, Kak. Ini ada special service khusus kakaknya." Rupanya Dipta masih saja mendalami perannya sebagai ojek online.
Vanya tertawa lalu melingkarkan tangannya ke perut Dipta. Keduanya pun mulai membelah jalanan sore itu menuju rumah Dipta.
*
"Vanya, udah lama nggak kesini. Bunda kangen banget lho sama kamu." Baru saja Vanya masuk ke rumah Dipta, bundanya Dipta sudah menyambut keduanya dan memeluk Vanya.
"Bunda, anaknya tuh aku. Kok yang dipeluk malah Vanya, sih," rajuk Dipta.
"Kamu kan bisa Bunda peluk tiap hari. Kalau Vanya enggak," balas Bunda Dipta.
Vanya menguraikan pelukan dari sang Bunda. Gadis itu menjulurkan lidah bermaksud mengejek Dipta. "Ya udah, gantian kenapa sih."
Dipta hanya menggelengkan kepalanya saja. Selanjutnya, Vanya berjalan bersama di dalam rangkulan bunda.
Beberapa saat diisi oleh percakapan antara bunda dan Vanya, sedangkan Dipta hanya memosisikan diri sebagai pendengar. Sebenarnya, Dipta juga suka melihat pemandangan di depannya. Ia bisa melihat sosok Vanya yang lain. Sosok Vanya yang lebih lembut. Vanya yang lebih lunak. Tidak ada Vanya si pembangkang. Tidak ada Vanya si pemberontak.
Senyum Vanya terlihat lebih tulus, tidak palsu. Senyum Vanya terlihat lebih bahagia. Seolah ia dapatkan kembali kasih sayang dari keluarga yang selama ini hilang.
Sementara itu, Vanya merasa bahagia hari itu. Apalagi ketika ia disuguhi bermacam makanan rumahan yang ada di depannya. Selama ini, Vanya sebenernya jarang makan di meja makan. Ia lebih sering mengambil makan di meja makan, lalu memakannya di kamar. Sedangkan hari ini, ia makan bersama bundanya Dipta dan bersama pacarnya itu. Ia kembali dapat merasakan hangatnya keluarga lagi.
"Vanya ayam serundengnya boleh ambil dua. Ini emang Bunda buatin kesukaan kamu, buat kamu," ujar Bunda Dipta lalu mengambilkan ayam serundeng untuk Vanya.
Vanya tersenyum senang. "Makasih, Bunda. Makanannya enak," puji Vanya.
Ia memakan makanan itu dengan perasaan senang. Di rumahnya sendiri, bahkan ia jarang sekali merasakan hal seperti ini. Hubungan mama dan papanya tidak baik. Mamanya jarang di rumah, jadi ia juga jarang menghabiskan waktu bersama orang tuanya.
"Bunda, makasih ya udah repot-repot masakin Vanya kayak gini. Vanya seneng banget hari ini, soalnya bisa ketemu sama makan bareng Bunda lagi," celetuk Vanya.
Bunda Dipta tersenyum. "Kembali kasih, Sayang. Bunda juga seneng kok kamu main kesini lagi. Udah lama nggak lihat kamu. Mau titip makanan ke Dipta tapi kok anaknya kayak sibuk terus. Pas kamu ngabarin bisa kesini, Bunda seneng banget. Makasih, ya, udah mampir ke sini."
Dipta berdehem. "Duh, aku kok kayak orang ketiga ya di sini," sindir Dipta.
"Nggak boleh iri sama pacar sendiri," balas Bunda Dipta.
"Pacar jangan ngambek ya," goda Vanya.
"Kalian berdua baik-baik ya. Sekolahnya juga yang bener, sebentar lagi kelas dua belas. Banyak sibuknya, jadi jaga kesehatan. Vanya kalau ada yang dibutuhin bilang aja, nanti Bunda pasti bantu. Jangan sungkan pokoknya," nasihan Bunda Dipta.
"Vanya dengerin tuh. Sekolah yang bener. Bolos mulu dia, Bun," adu Dipta.
Vanya mendelik. "Diem!" sahutnya.
Bunda tertawa. "Kurang-kurangin, ya, Sayang. Jangan keterusan, nanti kamu diomelin Dipta mulu lho."
Vanya nyengir. "Iya, deh, Bunda. Sekali lagi makasih, ya. Makasih satu miliar buat Bunda. Karena Bunda, aku tetep ingat rasanya kasih sayang dari keluarga walaupun bukan keluarga kandung."
**