
"Gue jujur males banget ya balik ke rumah." Vanya memulai pembicaraan di antara teman-temannya yang sedang berkumpul di rumah David.
David dan Ino sedang bermain PS di ruang tengah. Sementara itu, Vanya dan Eva melihat mereka yang bermain seraya memakan makanan yang ada di sana. Mereka memang jadi ke rumah David setelah hari terima rapor. Terhitung sudah 2 hari mereka berada di sana.
Mama Vanya sebenarnya sempet menelpon menanyakan keberadaan Vanya. Vanya bilang apa adanya saja sedang bersama teman-temannya di rumah David. Mama Vanya tidak ambil pusing karena memang sudah tau teman-teman Vanya.
David, Ino, dan Eva. Ketiganya adalah teman yang diketahui mama Vanya dan tidak terlalu dipermasalahkan. Namun, mamanya itu mempermasalahkan Vanya ketika berkumpul dengan anak-anak Aderfia selain mereka. Hal itu juga yang membuat Vanya dan mamanya sering terlibat pertikaian.
"Gue juga males. Enak di sini asli deh. Ibun baik banget, masakannya enak lagi. Di rumah gue nggak ada ibun," sahut Eva.
"Sama. Pid, bisa nggak sih kita bertiga masuk KK keluarga lo aja?" celetuk Ino.
"Lo yang bener aja dah, keluarga gue lagi nggak open recruitment. Tapi tanpa masuk KK pun, gue sama Ibun udah anggap kalian kayak keluarga. Ke sini aja kapanpun kalian mau," jawab David.
Ibu David merupakan seorang yang lembut dan penyayang. Beliau tidak terlalu mengekang David. Selain itu, Ibun juga menyayangi teman-teman David seperti beliau menyayangi anaknya sendiri. Sambutan dan penerimaan hangat dari David dan Ibun, selalu disukai oleh Vanya, Ino, dan David. Tidak akan bosan mereka bermain ke rumah David.
"Sampai liburan selesai, ya, Vid," ujar Vanya.
"Oke, 750 ribu ya," ujar David.
Eva yang tengah memakan keripik pun melempar serpihan kecil keripiknya kepada David. "Lo jangan suka monetisasi gitu ya. Sama temen sendiri kok apa-apa diduitin," omel Eva.
"Lho, kita itu harus bisa pinter melihat peluang bisnis. Siapa tau ke depannya gue bisa buka kos-kosan atau nggak homestay. We never know, ya kan?" ujar David.
"Iya dah lo buka aja kos-kosan, Vid, nanti gue larisin dah," sahut Vanya.
"Nanti nunggu kaya ya," balas David.
Selanjutnya, obrolan di antara mereka jadi kesana-kemari. Dari topik bahasan A sampai Z mereka kupas tuntas semua. Notifikasi ponsel Vanya yang tiba-tiba berbunyi mengalihkan perhatian gadis itu. Ternyata pesan dari Dipta.
Dipta (pacar) : Vanya, kamu masih di tempat David?
Dipta memang sudah mengetahui bahwa gadis itu berada di rumah David karena Vanya memberi kabar. Biasanya setelah terima rapot memang Vanya dan teman-temannya berkumpul di rumah David. Namun, baru kali ini mereka menginap cukup lama.
Vanya pun mengetikkan balasan untuk pesan Dipta.
Vanya : iyaa, masihh
Vanya : kenapaa?
Dipta (pacar) : Pulangnya kapan?
Vanya : belum tau sihh. emang kenapa?
Dipta (pacar) : Mau ajak kamu main. Tapi nggak enak kalau kamu masih di rumah David berarti kan kamu masih pengen kumpul sama temen-temen kamu.
Vanya : gapapaa sini ajaa. kamu gabung sini juga mereka ga keberatan kokk
Dipta (pacar) : Enggak deh, malah canggung. Ya udah mainnya nunggu kamu pulang ke rumah aja.
Vanya : mendingan kamu kesini, nanti anter aku sekalian ke rumah :D
Dipta (pacar) : Kamu nggak bawa motor?
Vanya : enggak, kemarin dijemput eva naik mobil
Dipta (pacar) : Oke, nanti sore aku jemput.
"Lo belum ada satu jam bilang nggak mau ke rumah ya. Labil banget!" cibir Ino.
"Asli iya, gue sampai kaget. Nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba bilang gitu. Kita belum siap-siap apa-apa padahal," sahut Eva.
"Omongan orang zaman sekarang emang nggak bisa dipegang, bisanya discreenshot," timpal David.
"Sorry, ya, guys. Sekalian mau main sama Dipta, jadi pulang sekalian dia yang anter," jawab Vanya sambil nyengir.
"Yaelahh, makanya mau pulang. Orang dijemput kesayangan," ujar Ino.
Sementara itu, Vanya nyengir saja lalu pamit pergi ke kamar tamu yang ditempatinya dan Eva, untuk membereskan barang-barangnya.
*
"Kamu betah di rumah David?" tanya Dipta begitu ia dan Vanya sudah pergi dari rumah David. Dipta membawa mobil supaya Vanya bisa memasukkan barang-barangnya, meskipun gadis itu tidak membawa bayak barang. Hanya 1 ransel dan 1 tote bag saja.
Vanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Dipta.
"Betahnya kenapa?" tanya Dipta lagi.
"Ibun baik soalnya. Ibun itu ibunya David. Kemarin aku sama yang lain dimasakin banyak banget makanan enak sama beliau. Terus juga sering dianter cemilan-cemilan gitu. Baik banget deh, nggak kayak mama," jawab Vanya.
"Kamu ada masalah ya sama mama kamu?" tebak Dipta.
"Biasa, Dip, perkara nilai. Makanya aku malah males kalo mama yang ambil, pasti ngomel. Padahal nilaiku udah nggak ada yang di bawah KKM, nilai sikapku B, masih nggak cukup buat dia. Belum lagi secara nggak langsung mama bilang aku nggak pantes buat kamu. Kesel, kenapa bawa-bawa hubungan kita, sih?" ungkap Vanya.
"Mama kamu bilang apa?" tanya Dipta ingin tau lebih lanjut.
"Tanya, emang aku ga malu pacaran sama kamu tapi akunya kaya gini? Jauh banget dari kamu. Kasarnya aku nggak pantes buat kamu. Nyebelin ya? Aku kesel wajar kan?" ujar Vanya.
Dipta memberikan usapan lembut di punggung tangan Dipta bermaksud menenangkan. "Wajar, wajar banget kok. Kamu boleh kesel. Kamu boleh sebel, itu semua valid. Nggak apa-apa, aku tau kamu udah ngelakuin yang terbaik yang kamu bisa. Hal sekecil apapun itu udah termasuk progress, hebat," ucap Dipta.
"Kok mamaku nggak bisa lihat progressku ya, Dip?" ujar Vanya sedih.
"Bukan nggak bisa, tapi belum. Suatu saat pasti mama kamu ngerti dan bisa ngehargain kamu sepenuhnya kok. Atau enggak, mungkin mamamu gengsi?" Dipta mengutarakan kemungkinan yang dapat saja terjadi.
"Kenapa gengsi deh? Kan aku anaknya?" bingung Vanya.
"Aku tanya deh, kamu gengsi nggak kalau bilang ke mamamu kamu sayang sama beliau?" tanya Dipta.
"Ya ... iya juga, sih," jawab Vanya.
"Nah, kenapa gengsi, kan itu mama kamu? Mungkin jawaban kamu bisa aja sama kaya jawaban mama kamu nantinya. Nggak semua orang bisa mengutarakan perasaannya secara blak-blakan kan? Nggak papa, Van, it's just about time kok. Yang penting kali ini you did a great job!" ujar Dipta.
"Makasih, ya, Dip, kamu selalu bisa deh ngademin aku," ujar Vanya.
Dipta tertawa. "Iya. Ini kita mau kemana nih? Kita belum nentuin tempat tujuan."
"Sebenarnya aku nggak mau kemana-mana sih. Boleh nggak muter-muter aja sambil denger lagu, nanti kita nyanyi bareng sambil ngobrol ringan," ujar Vanya.
"Boleh banget! Kamu setel aja lagunya sesuka kamu. Kita muter-muter kota ya." Dipta menyetujui.
Sore itu, mereka menghabiskan waktu dengan memutari kota bersama di dalam mobil. Ditemani lagu 'Sempurna' dan obrolan-obrolan ringan yang tercipta di sana. Begitu saja sudah membuat keduanya lupa akan luka dan penatnya kesibukan dunia.
*