
Serangkaian persiapan untuk foto yearbook akhirnya sampai pada puncaknya yang ditunggu-tunggu oleh anak kelas 12 IPA 1, yakni sesi pemotretan. Setelah survei lokasi sana-sini, menyesuaikan jadwal, membagi kelompok, hingga menentukan outfit yang pas, setelah ini mereka akan bernapas lega karena sesi foto sudah dilakukan.
Mereka jadi memakai tema garden party, berlokasi di sebuah taman dengan penuh pemandangan hijau yang menyegarkan mata. Mereka juga membawa properti yang dibutuhkan seperti gitar, keranjang coklat makanan, tikar sebagai alas, dan masih banyak lagi. Kelompok Dipta berisi 6 orang sekarang, yakni Dipta, David, Rio, Aretha, Sheila, dan Bunga sudah selesai melakukan sesi foto.
Setelahnya, mereka berfoto-foto sendiri. Kebetulan, dipta membawa kamera dan mengabadikan banyak foto teman-temannya. Termasuk Aretha yang saat itu meminta tolong Dipta untuk memotretnya dengan buket bunga yang ia bawa sebagai properti.
"Coba foto ala-ala yang ditutupin mukanya pakai bunga, Tha," saran Dipta dan Aretha menurut. Aretha memegang buket bunga itu dengan kedua tangannya, lalu membawanya ke depan wajah untuk menutupi wajahnya.
"Nah cakep," ujar Dipta setelah mengambil foto Aretha.
"Iyalah cakep, kan nggak kelihatan wajahnya," balas Aretha.
Dipta tertawa. "Ya nggak gitu juga, sih, Tha, maksudnya. Tapi ini fotonya cakep, coba lihat." Dipta mendekatkan diri dan menunjukkan hasil fotonya pada Aretha.
"Woi ini kalian berdua juga cakep!" seloroh Sheila yang ternyata diam-diam mengambil foto Dipta dan Aretha. Mereka terlihat berdekatan dengan sama-sama melihat 1 kamera.
"Coba kalian pose deh, gue foto sini," ujar Sheila.
Dipta mengangguk. Cowok itu segera memposisikan dirinya di samping Aretha.
"Dip, inget Dip lo kagak jomblo," sindir David.
"Iya habis ini gue foto sama lo juga deh, tenang," balas Dipta.
Sheila mulai menghitung. Begitu di hitungan kedua, David berlari dan menempatkan dirinya di sebelah Aretha. Akhirya mereka malah foto bertiga.
"Dapid ih, jelek ini jadinya!" kesal Sheila.
"Parah David rese banget," tambah Dipta.
"Nggak boleh berduaan, ketiganya setan," ujar David.
"Ya elo setannya," ujar Dipta.
David tak peduli, selagi Dipta dan Aretha mau berfoto, David akan selalu ada di dekat mereka. David tidak mau Dipta dan Aretha foto berdua. Meskipun Vanya tidak melihat, tetap saja David ingin menjaga perasaan Vanya.
"Pid tolong fotoin gue dong!" Bunga memanggil David meminta cowok itu untuk memfoto. David berdecak, ia tidak mau. Tetapi ketika David menolak, Bunga tak menyerah. Gadis itu bahkan menyeret David hingga akhirnya mau tak mau David pergi meninggalkan Dipta dan Aretha.
Kepergian David tentu membuat Sheila tersenyum. Gadis itu kembali mengarahkan Dipta dan Aretha untuk berfoto lagi.
"Gue mau foto tapi no face. Kalian agak berhadapan tapi serong ya, jadi tipis aja. Dipta lo angkat kamera lo, kayak mau foto Aretha. Aretha bunganya tutupin ke muka." Bak fotografer handal, Sheila mengarahkan keduanya.
Setelah beberapa pose, akhirnya sesi foto dadakan itu selesai juga. Mereka melihat hasil fotonya.
"Aretha sumpah lo cantik banget," ujar Sheila takjub sendiri melihat Aretha yang sangat cantik apalagi dengan mahkota sederhana berbentuk lingkaran yang terdapat bunga-bunga dan dedaunan itu. Sangat cocok dengan bunga yang dibawanya.
"Makasih, ya, Shei, hasil foto kamu bagus banget. Nanti tolong kirim ke aku boleh?" ujar Aretha yang tentu saja langsung mendapat anggukan dari Sheila.
"Kirim gue juga dong," celetuk Dipta.
"Oke, aman nanti gue kirim. Btw, gue izin pakai foto kalian buat portofolio foto gue yaa. Kalian cocok banget soalnya," ujar Sheila yang memang berencana mulai karirnya sebagai fotografer.
"Aman dah," jawab Dipta.
Sementara itu, Aretha masih tersenyum melihat hasil foto-fotonya. Ia merasa sedikit salah tingkah ketika Sheila berkata dirinya dengan Dipta cocok.
Dipta kembali melihat hasil-hasil foto itu juga. Senyum cowok itu ikut terulas ketika tak sengaja melihat Aretha tersenyum kala memandang hasil foto itu.
*
Vanya tidak paham dengan kemauan Dipta dan jalan pikiran cowok itu. Ia memberi jeda untuk mereka sama-sama intropeksi diri, tetapi yang ada Dipta justru makin dekat dengan Aretha. Apalagi, di story WhatsApp Dipta, cowok itu mengunggah kolase foto yang satu di antaranya adalah foto berdua dengan Aretha. Sedangkan foto yang lain bersama teman-temannya.
Tidak hanya itu, instastorynya juga merepost foto berdua dengan Aretha yang tampak serasi. Ada yang ala-ala Dipta memotret Aretha yang menutup wajah dengan bunga. Foto mereka bersampingan dengan senyum lebar. Bahkan foto Dipta dan Aretha yang tengah menatap kamera yang sama. Sepertinya itu sisa foto yearbook kelas Dipta kemarin.
Vanya pun akhirnya membalas instastory itu.
'cocok' begitu katanya. Sejenak, curhatan Dipta kepada sahabat-sahabatnya kembali terputar. Vanya makin tidak karuan. Apalagi, tidak lama setelahnya Dipta menelpon.
"Apa?" tanya Vanya begitu mengangkat telepon Dipta.
"Jangan salah paham sama foto itu," ujar Dipta.
"Emang pemahaman yang bener kayak gimana? Kalian foto cuma sebatas panitia yearbook, sebatas ketua sama wakilnya? Sedeket itu?"
"Awalnya aku fotoin Aretha karena dia minta tolong. Terus ternyata Sheila ambil foto kita berdua. Dia juga bilang mau nambah portofolio, jadi minta aku sama Aretha buat pose lagi dan foto bareng," jelas Dipta.
"Iya, cocok banget kok emang."
"Kamu marah?" tanya Dipta.
"Kamu pikir aja sendiri dah, Dip. Siapa yang nggak marah lihat pacarnya foto sama cewek lain sedeket itu dan secocok itu?" semprot Vanya yang kesabarannya mulai terkikis.
Tidak ada jawaban dari Dipta.
"Bagian kamu fotoin Aretha, oke aku coba ngerti kamu cuma berniat nolongin. Tapi bagian kamu mau diminta temen kamu buat foto berdua sama Aretha, aku nggak bisa ngerti, Dip. Coba jelasin, kenapa kamu mau foto berdua sama Aretha?" tanya Vanya.
"Aku cuma mau bantu Sheila yang lagi semangat-semangatnya foto, Van," jawab Dipta.
"Bantu Sheila atau kamunya juga pengen foto sama Aretha?" tembak Vanya.
Tidak ada jawaban lagi dari Vanya.
"Kenapa diem, Dip? Bener, ya? Kamu juga pengen dan suka kan foto sama Aretha? Cantik kan dia? Cantik banget malah. Cocok ya sama kamu? Kamu enjoy kan sesi foto berdua sama dia sampai enggak nolak Sheila pas mau foto kalian?" tuduh Vanya.
"Seru ya, Dip? Udah punya temen sekelas satu frekuensi, bisa diajak ngobrol dari A sampai Z, nyambung ke semua topik, bisa ngimbangin kamu, gimana sih rasanya, Dip? Selama ini, aku nggak pernah bisa jadi sehebat itu kan buat kamu?" Vanya akhirnya mulai menyinggung curhatan Dipta.
"Kenapa jadi kemana-mana sih, Van bahasannya?" balas Dipta.
"Sekalian aja, sih. Aku denger kok curhatan kamu kemarin. Harusnya dengan lihat foto yang sekarang, aku nggak kaget karena aku udah denger duluan kamu yang nyaman dan enjoy sama dia. Tapi ternyata aku tetep kaget dan kecewa," ungkap Vanya.
"Kamu denger bagian mananya?!" Dipta agak menaikkan nada suaranya.
"Semuanya," jawab Vanya.
"Kamu denger dan kamu nggak intropeksi juga? Jujur aku capek sama kamu, Van. Tiap kita ribut, kamu selalu lebarin kemana-mana. Masalah yang harusnya berhenti di angka 1, jadi melebar sampai ke angka 8," ujar Dipta.
"Aku juga capek. Masa aku terus yang harus ngertiin kamu? Kamu ngertiin aku juga dong. Aku udah bilang terang-terangan ga suka kamu deket-deket sama Aretha, sekarang malah foto berdua gini tuh maunya apa? Kamu udah beneran bosen ya sama aku?"
Dipta diam.
"Gara-gara aku nggak sepinter Aretha ya? Gara-gara aku nggak bisa imbangin kamu kalau lagi bicara ya? Gara-gara aku nggak bisa diajak ngobrol semua topik? Intinya gara-gara aku enggak secukup itu kan buat kamu? Dan semua kurangku, kamu dapetin di Aretha yang bisa gait semua atensi kamu," lanjut Vanya.
Dipta masih diam.
"Capek, jujur capek banget kayak gini, Dip. Apa kita udahan aja ya?"
"Nggak. Apa-apaan kamu bawa-bawa udahan. Ini masih bisa diperbaiki. Kamu di rumah kan? Aku samperin sekarang dan kita omongin ini baik-baik dengan kepala dingin," tegas Dipta.
"Nggak perlu. Aku lagi main di tempat Eva. Kepalaku panas, jadi aku nggak bisa bicara baik-baik sama kamu. Nikmatin aja lihat hasil foto-foto kamu sama Aretha."
Setelah mengucapkan itu, Vanya menutup panggilan telepon Dipta. Napasnya tak beraturan saking emosinya.
Vanya rasa, ia harus melampiaskan emosinya itu dan melepaskannya dengan membiarkannya terbang terbawa angin.