Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Hukuman Berujung Marahan



Warung belakang sekolah yang sudah biasa dijadikan sebagai tempat bolos dan berkumpulnya anak-anak muda kini tampak begitu penuh. Padahal kini masih jam sekolah apalagi proses *** sekarang masih berlangsung.


Namun para remaja itu seolah tak memperdulikannya dan hanya hanyut dalam kesenangannya sendiri. Di antara segerombolan murid laki-laki yang berada di sana, di antara mereka kini ada dua orang perempuan yang tengah asik menikmati makanannya sambil memainkan ponselnya.


“Gak berangkat bareng pacar lo?” tanya Devin yang baru saja datang dan langsung duduk di depan gadis yang kini berada di antara laki-laki itu.


“Nggak lah, kalau bareng dia gak mungkin gue ada di sini,” sungut gadis yang tak lain adalah Vanya pada Devin dengan suara nya yang begitu ngegas.


“Santai dong, ngegas mulu lo,” ucap Devin yang hanya membuat Vanya menyengir mendengar nya.


“Gak ngegas gak enak tuh mulut nya.” Eva yang sedari tadi hanya diam dan memakan sarapannya yang kini ikut menimpali pembicaraan kedua sahabat nya itu.


“Sat, rokok dong,” ucap Ino sambil mengulurkan tangannya pada Satria sambil menenggak minumannya karena ia baru saja selesai dengan makananya.


“Udah minta, ngatain lagi,” sungut Satria dengan kekesalannya sambil memberikan sebungkus rokok nya pada Ino yang segera menerima nya dengan sebuah cengiran nya.


Kini di warung belakang tersebut tak hanya ada teman satu sekolah Vanya, namun banyak yang dari sekolah lain juga ada di san. Berkumpul bersama untuk menikmati waktu bolos mereka. Sangat tidak patut dicontoh memang yang seperti ini.


“Gua ada mana ngatain dah? Emang nama lo aja yang vibes nya ngatain kalo lagi di panggil,” jelas Ino membela dirinya sendiri sambil menyalakan batang nikotinnya.


“Ganti nama aja sih Sat,” ucap Vanya dengan kekehannya menyarankan temannya itu untuk mengganti nama sedangkan sang pemilik nama kini malah menatap kedua temannya itu dengan tatapan datar nya.


“Bacot banget dah lu pada,” kesal Satria yang setelah nya memilih untuk keluar. Ino yang melihat nya juga ikut keluar karena kini ia juga sedang merokok dan merasa tak nyaman jika harus merokok di dalam, takut mengganggu temannya yang lain.


Lama mereka berada di warung belakang untuk membolos, suasana yang begitu ramai yang penuh dengan pertengkaran atau canda itu begitu rusuh.


“Van woy hari ini amankan, gak ada sidak?” tanya Nyok yang kini berada di luar.


“Ya, mana gue tau. Lo tau sendiri Dipta kayak gimana. Jangan kan elo, gue aja sering dia hukum,” ucap Vanya menyampaikan fakta yang selama ini ia alami.


“Gak ada guna emang lo jadi pacar nya ketos,” ucap Satria yang kini ikut menimpali.


“Wah, cari ribut lo,” kesal Vanya yang kini sudah akan bangun. Namun ia terhenti saat melihat Dipta yang kini berjalan ke arah mereka. Namun tak hanya Dipta, laki-laki itu kini membawa teman nya yang sama-sama menggunakan almamater osis.


Tentu saja itu membuat Vanya terkejut sekaligus bingung. Namun ucapan Ino setelah nya langsung menyadarkannya.


"EH, CABUT WOII ADA SIDAK OSIS NIH!" teriak Ino yang kini menyadarkan Vanya. Mendengar ucapan sahabat nya itu dengan segera Vanya bangun untuk kabur dari sana. Namun karena terlalu banyak yang akan keluar mereka malah saling berdesakan untuk keluar.


“Woy Gara, lo ngapain sih ikutan keluar. Minggir lo kasih gue jalan dulu, lagian lo beda sekolah sama kita,” kesal Vanya sambil menarik laki-laki yang bernama Gara itu. Mendengar ucapan Vanya yang seolah menyadarkannya membuat laki-laki itu menyengir menyadari kebodohannya. Melihat teman-temannya yang panik ia malah ikutan panik yang melupakan sekolah nya sendiri.


“Kelupaan Van. Semangat Van kabur nya,” teriak Gara yang kini melanjutkan acara makannya bersama dengan teman satu sekolahnya.


“Mau kemana lagi kamu?” tanya suara yang kini menarik tangan Vanya. Vanya sontak membalikkan badannya dan menampilkan senyumannya saat melihat jika laki-laki yang kini menarik tangannya adalah Dipta.


“Dipta?!” senyuman terlihat jelas di wajah Vanya yang juga dibalas dengan senyuman oleh Dipta.


“Bolos lagi?” tanya Dipta yang hanya dibalas dengan cengiran oleh Vanya. Dipta yang mendengar nya hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari kekasih nya itu.


“Kumpul di lapangan,” tegas  Dipta pada kekasih nya yang kini mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Dipta. Namun mau tak mau ia hanya bisa menuruti keinginan kekasih nya itu.


Dengan langkah berat nya kini Vanya melangkah ke arah lapangan. Di lapangan kini sudah banyak murid lain yang terkena penertiban entah karena seragam yang tak lengkap atau sepatu yang warna-warni. Untuk yang membawa barang yang dilarang hanya mendapatkan poin dan barang nya diambil sesuai dengan barang yang dibawa.


Jika memang kesalahan berat seperti minuman keras atau obat-obatan maka akan langsung ditindak lanjuti. Vanya kini sudah berdiri di barisan murid-murid yang bolos bersama dengan teman-temannya yang tertangkap. Eva kini juga bahkan berada di sana.


“Kenak juga lo,” ucap Vanya dengan tawanya melihat temannya yang tadi meninggalkannya itu. Eva yang mendengar ucapan Vanya kini hanya berdecak sambil menatap sahabat nya itu dengan kekesalannya.


Mereka yang bolos kini mulai diperiksa, satu persatu ada saja yang terkena karena seragam yang tidak lengkap atau sepatu yang bukan berwarna hitam. Ino juga terkena sidak karena mengantongi rokok milik Satria.


“Mampus, niat ngambil buat untung eh malah buntung,” tawa Vanya yang kini terdengar begitu nyerah mentertawakan sahabatnya itu.


“Kamu jangan ketawa aja,” hardik Dipta yang kini berdiri di depan Vanya mengawasi teman osis nya yang perempuan yang kini tengah memeriksa Eva.


“Aku aman kali, lihat seragam aku lengkap. Sepatu warna hitam,” ucap Vanya sambil memamerkan sepatunya yang memang berwarna hitam.


“Baju kamu tuh liat, udah kek baju anak SD. Udah berapa kali aku bilang buat pake seragam itu yang bener, jangan ukuran anak SD kamu pakek,” peringat Dipta pada kekasih nya itu yang kini hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan kekasih nya itu.


“Mana ada anak SD pake seragam begini, agak laen emang pacar gue nih,” sungut Vanya pada Dipta yang kini hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Vanya.


“Besok ganti baju atau aku gunting-gunting baju kamu ini,” peringat Dipta lagi yang malah di abaikan oleh Vanya.


“Lari saja ikut yang lain,” perintah Dipta lagi sambil menunjuk murid lain yang kini sudah mulai berlari.


“Tapi kan….” belum selesai Vanya melanjutkan ucapannya. Peringatan tegas dari Dipta sudah lebih dulu menyela ucapannya.


“Lari Lavanya, baju udah kek anak SD gini segala ngebantah,” tegas Dipta.


“Iya iya, pacar galak,” sungut Vanya kesal yang setelah nya segera lari mengikuti temannya yang lain.


*