
Classmeet resmi selesai dengan berakhirnya pensi dua hari lalu. Kini, sudah waktunya untuk menerima rapor kelas 11. Berbeda dengan teman-temannya yang tengah sibuk membicarakan siapa yang akan mengambil rapot mereka, kini Vanya malah terlihat begitu santai dengan bakso nya. Ia tentu tak peduli siapa yang datang untuk mengambil rapot nya.
Vanya sudah terbiasa mengambil rapot sendiri atau malah asisten rumah tangga nya lah yang mengambil rapot nya. Ibunya tak akan peduli dengan rapot nya. Apalagi ayah nya yang kini entah berada dimana.
“Gue males banget sebenernya kalau udah ambil rapot begini. Pasti ujung nya di rumah cuma ribut aja,” ucap Ino dengan helaan nafas kasar nya. Orang tua Ino memang banyak menuntut anaknya tetapi mereka juga tak pernah mengajari anaknya.
“Sama aja No. Bonyok gue jauh-jauh dari Amrik terbang kesini cuma buat ambil rapot gue. Bilang nya aja sih begitu tapi setelah nya gue yakin mereka bakalan konser tuh di rumah. Gak pernah ngajarin tapi banyak protes nya,” sungut Eva yang kali ini ikut menimpali.
“Mangkanya kayak gue dong gak ada yang peduli. Ambil rapot aja mandiri,” ucap Vanya dengan begitu bangga nya.
“Ini kemana jadi gelap gini dah pembicaraan kalian. Udah lah gak perlu dipikirin. Kalian masih punya orang tua gue. Elo juga tenang aja Van. Ada ortu gue sama Dipta yang bakalan wakilin,” ucap David menenangkan.
“Kalian juga kalau mau kabur ada rumah gue. Tenang aja,” ucap David dengan senyumannya.
Keluarga David memang sudah seperti keluarga sendiri untuk mereka. Dengan keadaan keluarga mereka yang seperti ini, mereka memang membutuhkan rumah lain untuk tempat mereka pulang. Karena yang mereka anggap rumah nyatanya bukan rumah yang nyaman.
“Lo emang yang terbaik,” ucap Vanya sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
“Ke kelas aja lah yok. Pasti dah rame,” ajak Eva pada sahabat-sahabat nya itu yang langsung menjawabnya dengan anggukan. Kini tempat mereka mengambil rapot memang lah kelas masing-masing.
PSaat sampai di kelas Vanya cukup terkejut melihat Ibunya yang kini berada di kelas nya. Tak hanya Vanya bahkan sahabat Vanya yang melihat itu juga tak kalah terkejut nya.
“Mimpi apa gue Van, emak lo dateng?” tanya Eva dengan tatapan penuh tanya nya pada Vanya yang kini hanya menggelengkan kepalanya sambil mendengus kasar melihat wanita yang ia panggil ibu itu kini berada di sana.
“Melas banget gue sebenar nya,” ucap Vanya dengan tatapan malas nya melihat keberadaan ibunya. Hubungannya dengan ibunya kini memang tak begitu baik. Ia nya selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Hanya datang untuk memarahi Vanya saja oleh karena itu hubungan mereka selalu berada dalam keadaan buruk.
“Siapin kasur lebih malam ini di rumah lo,” ucap Vanya sambil menepuk pundak sahabatnya itu alias David. Jika sudah begini, David tahu pasti sahabat-sahabat nya itu akan kabur ke rumah nya.
“Semangat,” ucap mereka menyemangati satu sama lain karena pasti kini mereka akan terkena amarah orang tua mereka.
Meskipun Vanya sudah berusaha dengan keras namun tetap saja Vanya merasa belum yakin dengan hasil yang diperoleh. Apalagi selama ini ia jarang mengerjakan tugas, selain itu Vanya juga sering kali membolos.
Keempat remaja itu segera memasuki kelas dan duduk di dekat orang tua mereka masing-masing.
“Gak biasanya dateng,” ucap Vanya menyapa ibunya itu. Jika saja bisa, sebenarnya ia ingin dipeluk oleh ibunya itu. Namun ia terlalu gengsi untuk mengatakannya. Apalagi dengan hubungan mereka yang begitu kacau. Mereka sama-sama memiliki gengsi tinggi untuk saling mengungkapkan rasa rindu mereka.
Karena semenjak ibunya harus bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarga kecil nya itu kini hubungan mereka begitu jauh. Ya, ibunya harus banting tulang menyambung hidup sejak bercerai dengan ayah Vanya. Sedangkan ayah Vanya seolah lenyap menghilang tanpa kabar. Tidak ada yang tau dimana pria itu sekarang. Vanya sebenarnya ingin bertemu dan menanyakan ayahnya, tapi tenaganya rasanya cepat terkuras habis jika membahas soal sang ayah.
“Harusnya kamu seneng karena akhirnya mama bisa ambil rapot kamu,” ucap sang Mama yang kini malah membuat senyuman sinis Vanya terlihat begitu jelas seolah tengah menertawakan apa yang tengah diucapkan oleh ibunya itu.
“Gak usah sok peduli,” ucap Vanya dengan ucapan datar nya pada sang ibu.
Ibu Vanya segera menoleh ke arah nakya itu dengan tatapan tajam nya. “Sopan sedikit bisa?” tanya sang Mama dengan tatapan seriusnya pada Vanya. Malas untuk melanjutkan pertengkaran mereka kini akhirnya membuat Vanya memilih untuk diam dan mengabaikan ibunya itu.
Sampai akhirnya mereka tiba pada acara pembagian raport. Setelah wali kelas mereka baru saja menyampaikan ucapan sambutan juga beberapa pengumuman juga menyebutkan nama-nama yang mendapatkan peringkat tiga besar.
Satu persatu kini nama mereka disebut. Kini giliran Vanya yang namanya dipanggil. Vanya juga ibu nya segera menuju ke arah kursi guru untuk mengambil raport milik Vanya sekaligus berpamitan.
"Pulang duluan aja, aku mau nyamperin Dipta dulu," ucap Vanya pada ibunya itu.
"Mau apa? Mau pamerin nilai kamu yang jelek ini? Kamu gak malu pacaran sama ketua osis yang pinter, tapi kamunya pas-pasan kayak gini?" tanya ibu nya itu yang kini langsung mendapatkan tatapan tajam dari Vanya.
"Ngapain harus malu? Dipta nya aja gak malu tuh," jawab Vanya begitu berani pada sang ibu.
"Kita pulang sekarang dan kita bahas nilai kamu di rumah," ucap sang Mama dengan begitu tegasnya. Kini wanita itu bahkan sudah menarik tangan Vanya untuk segera pergi dari sana. Dan pada akhirnya Vanya hanya mengikuti saja karena tak ingin jika pertengkarannya dengan sang ibu di lihat di depan umum. Bisa semakin jelek citra nya. Bisa-bisa ia akan dicap sebagai anak durhaka yang suka melawan.
Saat sampai di rumah nya kini ibu Vanya langsung membuka rapor anaknya itu. Hingga matanya kini membelalak melihat nilai Vanya yang pas KKM semua. Bahkan di penilaian sikap, ia mendapatkan nilai B.
"Kamu niat sekolah gak sih? Lihat nilai kamu? Apa yang bisa di banggain dari semua ini Vanya?" tanya ibu gadis tersebut dengan tatapan tajam dan amarahnya yang kini sudah memuncak melihat nilai anaknya itu.
"Kenapa Mama harus kaget liat nilai aku? Oh iya Mama sebelumnya gak pernah liat nilai aku lagi kan semenjak Papa pergi ninggalin Mama? Itu udah termasuk bagus Ma daripada nilai aku sebelum nya," ucap Vanya dengan tatapan tajam nya pada sang ibu yang kini memejamkan matanya mendengar ucapan anaknya itu.
"Mama selalu datang hanya untuk absen muka doang. Apa Mama pernah ngasih aku waktu buat bareng sama Mama? Apa Mama pernah perhatikan aku sedikit aja? Ngasih aku perhatian dan kasih sayang selayaknya ibu? Apa Mama pernah nanya kabar aku, gimana sekolah aku, gimana haru aku? Gak pernah Ma, Mama selalu sibuk dengan pekerjaan Mama. Aku di sini sendiri Ma, aku belajar sendiri meskipun banyak yang gak aku tau. Sampai akhirnya aku ketemu sama Dipta. Dan dengan jahat nya Mama malah tanya aku gak malu pacaran sama dia?" tanya Vanya yang kini mulai mengeluarkan semua yang selama ini ia pendam sendiri. Vanya selalu sendiri. Tak ada yang bisa ditanyakan saat ia tak mengetahui apapun.
"Mama juga kerja demi kamu Lavanya," ucap wanita paruh baya di depan Vanya.
"Aku gak butuh Ma, yang aku butuh itu Mama." Vanya kini menatap ibunya itu dengan tatapan seriusnya yang juga ditatap dengan tatapan tak kalah serius dari ibunya.
"Udah lah aku capek. Kalau Mama mau pergi jangan lupa pintu nya dikunci," ucap Vanya yang akhirnya memilih untuk segera pergi dari sana menuju ke arah kamar nya sendiri. Ia kini sudah begitu lelah.
Vanyak yang tak pernah menampakkan tangis nya dan selalu menjadi gadis yang kuat kini akhirnya menumpahkan tangis nya juga.
*