
Pulang sekolah Vanya menolak ajakan Eva dan teman-temannya untuk nongkrong. Gadis itu ingin menemui Dipta dan memperbaiki hubungannya dengan cowok itu. Vanya sudah tidak betah berlama-lama lagi perang dingin dengan Dipta seperti ini. Padahal kalau dipikir-pikir, dirinya yang justru memperpanjang permasalahan ini.
Sedari awal, Dipta sudah berusaha mencarinya. Menghubunginya bahkan sampai ke rumahnya. Puncaknya Dipta menemuinya di markas Aderfia. Namun, bukannya sebuah solusi yang didapat. Justru lagi-lagi dihadapkan pertengkaran antara mereka.
Melihat sikap Dipta yang mulai melunak hingga cowok itu mau memberinya makanan duluan, membuat Vanya ingin segera memperbaiki ini. Oleh karena itu, sore ini Vanya memutuskan menunggu Dipta yang sedang rapat OSIS. Vanya tau itu karena sempat bertanya pada temannya yang juga merupakan anak OSIS. Kata temannya, akan ada rapat sepulang sekolah.
Vanya tidak menghubungi Dipta. Sengaja untuk memberikan kejutan. Sekaligus ia sebenarnya takut jika ia bilang, Dipta malah menyuruhnya untuk pulang. Untuk mengantisipasi itu, Vanya langsung memutuskan menunggu saja di bangku panjang koridor yang tak jauh dari ruang OSIS.
"Belum balik, Van?" Sapaan itu membuat Vanya yang semula bermain ponsel langsung mendongak.
"Belum, Than. Lo mau balik?" Ya, orang itu adalah Ethan.
"Ini mau balik, habis ngerjain tugas kelompok bentar. Lo masih ada urusan lain, ya?" tanya Ethan. Cowok itu masih berdiri.
"Iya, nih, lagi nunggu Dipta. Dia lagi rapat. Mau pulang bareng dia soalnya," jawabnya. Pulang bersama Dipta juga masuk ke agendanya hari ini.
"Lo nggak bawa motor?" bingung Ethan.
"Bawa kok. Biasanya kalau pulang bareng Dipta ya Dipta ngikutin dari belakang, atau kami mampir dulu main gitu," jelas Vanya.
Ethan menganggukkan kepalanya. "Gue temenin nungguin Dipta, ya," ucap Ethan.
Vanya menggeleng. Ia tidak mau terbit masalah baru yaitu Dipta salah paham. "Nggak usah, Than. Lo pulang aja nggak papa kok," tolak Vanya.
"Nggak papa deh, gue juga gabut di rumah," kekeh Ethan.
Vanya berdehem sebentar sebelum berucap, "Than, sebenernya gue ada yang mau diomongin sama Dipta. Nah, ini gue lagi mikir biar nanti ngomongnya nggak kagok, jadi gue butuh sendiri. Lo pulang aja ya? Please," jelas Vanya.
Mendengar itu, Ethan akhirnya mengerti. "Oke deh kalau gitu. Gue pulang dulu ya. Good luck, Van!"
"Yoi, thank you ya, Than." Vanya menerima ajakan tos dari Ethan. Setelahnya, Ethan pergi dari sana. Vanya melanjutkan kegiatannya menunggu Dipta dengan bermain ponsel dan telinganya yang disumpal earphone.
"Dia tuh lebih cocok sama Ethan, sama-sama blangsak." Rupanya, volume yang Vanya atur belum cukup untuk meredam suara-suara dari luar. Ia masih bisa mendengar suara orang yang bergosip di belakangnya. Vanya sedikit melirik, dan memang ada 2 orang di sana.
"Ethan tuh nggak blangsak ya. Nggak sebandel Vanya," sahut lainnya.
"Ya daripada sama Dipta? Tambah nggak cocok. 180 derajat cuy. Lo lihat Dipta jadi ketos, imagenya jelas baik. Eh malah pacarnya ngerusak nggak bisa jaga image, nyeret-nyeret Dipta mulu."
"Iya sih, kok mau ya Dipta?"
Vanya mengembuskan napas kesal. "Jujur ya suara kalian tuh dari tadi masuk kuping gue," ucap Vanya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Bahkan earphone gue nggak bisa redam suara kalian. Sini deh kalau mau ngomong tentang gue, ngomong lagi gue dengerin," lanjut Vanya yang kini melepas earphone-nya.
Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Ketika Vanya menengok, kedua orang itu sudah tidak ada. Hanya ada kotak pensil saja di sana. Vanya berjalan dan mengambil kotak pensil itu.
"Cupu banget. Orang ghibah, ditanggapin malah kabur."
**
Gadis itu sudah berdiri dan memandangi satu persatu wajah yang mulai keluar dari ruang OSIS. Tentu ada satu wajah yang ia tunggu untuk dilihat, yakni Dipta. Panjang umur, tak lama kemudian Dipta keluar meskipun terhitung paling terakhir. Tangan Vanya melambai untuk menarik atensi Dipta supaya menghadap ke arahnya.
Dipta terkejut melihat sosok Vanya di sana. Tidak biasanya Vanya mau menunggu di depan ruang OSIS. Cowok itu pun akhirnya menghampiri Vanya dengan raut wajah bingung.
"Ngapain?" tanyanya singkat.
"Nunggu kamu. Capek nggak rapatnya?" balas Vanya.
"Ngapain nungguin aku?" Dipta masih belum puas dengan balasan Vanya.
Vanya mengembuskan napas pelan. Gadis itu menyerahkan tempat pensil yang tadi ia ambil dari 2 orang yang tidak sengaja meninggalkan barang itu sehabis Vanya menegur karena membicarakannya. Tentu saja Dipta jadi bingung melihat itu.
"Maksudnya apa?" tanya Dipta semakin bingung.
"Titip itu besok tolong sampaiin ke siapa gitu deh yang khusus nyiarin barang hilang. Tadi ada yang ninggalin itu barang," jawab Vanya.
Meski masih bingung, Dipta akhirnya menerima tempat pensil itu. "Udah? Kamu mau ngasih ini aja?"
"Aku mau minta maaf, Dip," lontar Vanya akhirnya. Rasanya susah sekali menyampaikan itu, tapi kini ia lega sudah bisa mengucapkan maaf ke Dipta.
"Buat apa?" Dipta masih memancing Vanya.
"Buat semuanya, Dip. Terutama sikapku kemarin-kemarin yang mungkin kesannya nggak hargain kamu. Niat kamu baik, tapi aku justru nggak terima itu dengan baik. Maaf juga aku banyak banget ngecewain kamu. Maaf ada ucapanku yang bikin kamu tersinggung dan sakit hati. Maaf buat sikap egoisku, childish ku, dan semua sikapku yang bikin kamu capek," ucap Vanya dengan menundukkan kepalanya, merasa bersalah. "Kamu mau maafin aku nggak?" lanjutnya.
Dipta mengembuskan napas pelan. Ia usap bahu kekasihnya dengan lembut. "Iya, dimaafin. Makasih, ya, kamu udah minta maaf. Aku juga minta maaf kalau ada omonganku yang buat kamu tersinggung," balas Dipta.
"Kamu baik banget, Dip. Kalau dipikir-pikir, bener juga ya kata orang-orang. Kamu baik banget dan itu berbanding terbalik sama aku. Kita kayak langit dan bumi, ya? Aku sebenarnya nggak mau dengerin ucapan orang-orang, tapi nggak tau kenapa lama-lama kepikiran. Bener juga, ya, aku nggak sepantes itu buat kamu?" ungkap Vanya tentang hal-hal yang mengganggu dirinya akhir-akhir ini.
Dipta memosisikan kedua tangannya di bahu Vanya, menuntun gadis itu untuk duduk di bangku panjang tadi. "Vanya, dengerin, ya, kalau aku udah milih kamu, berarti kamu pantes buat aku. Nggak peduli orang bilang apa, yang penting aku maunya kamu. Orang-orang mana tau sabarnya kamu ngadepin aku yang sibuk terus? Orang-orang mana tau sesayang apa bunda sama kamu? Orang-orang mana tau se-suportif apa kamu selama ini sama aku? Mereka nggak tau itu. Mereka cuma lihat dari orang luarnya aja. Jangan didengerin ya, dengerin kata-kata baik aja." Dipta menenangkan Vanya.
"Tapi nggak ada kata-kata baik buat aku," sahut Vanya.
"Ada aku. Kamu bisa denger kata-kata baik dari aku aja. Intinya, kamu itu udah sangat lebih dari cukup buat aku. Aku bersyukur banget punya kamu," tegas Dipta.
Bohong jika Vanya tidak tersentuh mendengar itu. "Makasih banyak, Dipta. Aku juga bersyukur banget punya kamu," ujar Vanya.
"Btw, Van, lain kali jangan balapan lagi boleh? Jangan diem-diem ke markas dan jangan bohongi aku. Apalagi kalau sama Ethan. Aku cemburu," ucap Dipta tiba-tiba.
Meski terkejut, pada akhirnya Vanya tetap mengangguk juga. "Iya, Dipta. Tenang aja, aku nggak mau Ethan kok, aku maunya kamu."
*