
Ujian kenaikan kelas sudah resmi selesai. Sembari menunggu terima rapot, diadakan classmeet selama tiga hari yang mengisi kegiatan di sekolah. Dalam classmeet tersebut terdapat beragam perlombaan, seperti tarik tambang, lomba menyanyi, estafet sarung, futsal, hingga lomba keindahan kelas.
Semua kelas diharuskan berpatisipasi untuk mengirimkan perwakilan pada lomba-lomba yang ada. Di hari pertama kemarin, sudah berlangsung lomba tarik tambang dan futsal. Hari kedua ini, adalah final futsal.
Kelas Vanya gagal di lomba tarik tambang. Namun, berhasil masuk final dalam lomba futsal. Sekarang ini, Vanya dan teman-temannya sudah siap-siap dengan kertas karton berisi dukungan untuk anak-anak kelasnya yang mewakili lomba futsal. Mereka antusias menunggu giliran kelas mereka dipanggil.
Akhirnya, tibalah giliran kelas Vanya alias 12 Ipa 3. Final itu antara kelasnya melawan kelas 12 IPA 5. Vanya bisa melihat ada Ethan juga di sana. Gadis itu baru ingat kalau Ethan adalah anak kelas 12 IPA 5.
"Ethan keren banget kenapa ya. Ini gue jadi oleng mau dukung anak kelas." Suara Citra, salah satu teman sekelas Vanya mendapat sorakan dari teman-temannya yang lain.
"Iman lo harus kuat, Cit! Gue juga mengakui kalau Ethan sekeren itu apalagi waktu udah di lapangan. Tapi, kita harus tetep suportif dan kawal kelas kita sampai menang!" sahut Eva menggebu-gebu.
"Pesona Ethan siapa sih yang nggak bisa nolak? Emang keren itu anak dari sudut manapun," timpal Tiara.
"Kenapa Ethan nggak sekelas sama kita aja ya? Jadi kan kita nggak perlu oleng dan bingung kalau mau dukung gini," ujar Citra.
"Hadeh lo pada nih ada-ada aja. Ayo fokus dulu, inget itu si Ino, David, sama yang lain lagi tampil buat kelas kita. Demi voucher jajan di kantin woi!" sela Vanya mengingatkan teman-temannya untuk fokus. Untuk hadiah, memang ada voucher hingga 150 ribu untuk jajan di kantin sekolah.
Mendengar itu cukup menbuat fokus teman-temannya kembali. Kertas karton penyemangat yang sudah dibuat itu diangkat tinggi-tinggi. Terdengar sorak-sorakan menyemangati baik dari kelas Vanya, maupun kelas Ethan. Sama-sama mendukung jagoan masing-masing.
"12 IPA 3 SEMANGAT!"
"NO FOKUS NO, INGET VOUCHER KANTIN 200 RIBU KITA BISA MAKAN AYAM GEPREK NO!"
"TEGAR INGET ES PERMEN KARET GRATIS KALO KALI INI MENANG GAR!"
"DAVID WOI DAVID ES COKLAT GRATIS VID, JADI KUDU MENANG!"
"SEMANGAT SEMANGAT SEMANGAT!!!"
Dan begitulah sorak-sorai kelas 12 IPA 3 menyemangati teman-temannya. Didominasi dengan menyebutkan berbagai nama makanan mengingat anak-anak kelas 12 IPA suka makan, apalagi makanan gratis.
Pertandingan berlangsung dengan penuh semangat baik dari pendukung, pemain, hingga komentator sekalipun. Final itu akhirnya selesai meskipun pemenangnya adalah kelas Ethan. Di lapangan, pemain dari kelas Vanya dan kelas Ethan saling berjabat tangan serta berpelukan.
Begitu kembali ke pinggir lapangan, mereka tetap disambut dengan hangat oleh anak-anak kelas 12 IPA 3.
"Nggak papa guys, udah keren ini!"
"Keceee bro-bro ku. Good job!!"
"Gapapa masih dapet voucher kok."
Vanya tersenyum melihatnya. Ketika ia mengalihkan pandangannya ke sisi lapangan seberangan, dapat ia lihat Ethan yang tersenyum ke arahnya dengan tangan melambai. Vanya hanya merespon itu dengan mengacungkan jempol sebagai simbol memuji permainan Ethan.
Ketika anak-anak kelasnya hendak kembali ke atas, Vanya hanya menitipkan kertas karton yang semula ia bawa. Gadis itu tidak bergabung untuk naik ke atas. Ia ingin menemui seseorang, kebetulan sedang jeda perlombaan.
Sebelum bertemu orang itu yang tak lain tak bukan adalah Dipta, Vanya mampir ke kantin sebentar untuk membeli makanan dan minuman. Sebelumnya, ia sudah pesan kepada ibu kantin duluan melalui WhatsApp. Jadi, ia hanya perlu mengambilnya saja sekarang. Itu cukup efisien karena Vanya tidak perlu menunggu di sana terlalu lama.
"Bu, saya mau ambil gado-gado sama minumnya," ucap Vanya begitu sampai di sana.
"Oh iya, Mbak Vanya, ini ya." Ibu kantin itu menyerahkan sebungkus plastik putih berisikan makanan dan minumannya.
"Ini uangnya ya Bu." Setelah selesai dengan pembayaran, Vanya mulai mencari Dipta.
"Eh, halo, Van!" Dalam perjalanannya, Vanya justru bertemu Ethan yang sepertinya hendak ke kantin.
"Hai!" Vanya menyapa balik.
"Gercep amat udah jajan," ujar Ethan.
Vanya terkekeh. "Iya nih, mumpung belum ramai sama nggak antri lama."
"Bukan buat gue, buat Dipta ini," jawab Vanya.
"Si paling bucin ternyata," ejek Ethan bercanda.
"Nggak papa dong, mumpung ada yang dibucinin. Ya udah, gue duluan ya keburu si Dipta sibuk lagi. Duluan, Than," pamit Vanya lalu melanjutkan langkahnya lagi.
Target tempat yang akan Vanya kunjungi adalah ruang OSIS. Kemungkinan terbesarnya Dipta ada di sana. Sebenarnya Vanya tidak tau apakah ada konsumsi khusus untuk panitia atau tidak. Kalaupun ada, ya tidak apa-apa juga sih jadinya Dipta bisa makan lagi nanti.
Gadis itu mengeluarkan ponsel bermaksud menghubungi Dipta.
Vanya : diptaa
Vanya : aku di depan ruang OSIS, kamu di dalem nggak?
Dipta (pacar) : Iya sayang. Mau ketemu?
Vanya : iya, sini keluar
Dipta (pacar) : Okay, tunggu ya.
Tidak butuh waktu lama untuk sosok Dipta keluar dari ruang OSIS. Tentu saja Vanya langsung menyambutnya dengan senyuman.
"Hai kakak osis!" sapa Vanya.
Dipta tersenyum gemas. "Halo. Kenapa nih tumben banget."
"Kamu dapet konsumsi nggak, sih, Dip kalau event gini?" tanya Vanya.
"Dapet kok, kenapa? Kamu mau kah?" Dipta balik bertanya.
Vanya menggeleng. "Ini aku bawain makanan juga sih, gado-gado kantin. Harus mau dan dimakan pokoknya walaupun kamu dapet konsumsi nasi kotak," ucap Vanya memaksa secara tidak langsung.
"Nggak mau ah, Van," balas Dipta.
Vanya mengerutkan keningnya mendengar jawaban Dipta. Tumben cowoknya menolak pemberiannya seperti ini?
"Harus mau! Kok nggak mau kenapa?" ujar Vanya.
"Nggak mau kalau makannya nggak ditemenin hehehe," jawab Dipta dengan cengirannya.
Vanya berdecak, tapi sebenarnya ia gemas juga dengan kelakuan Dipta. "Sini aku temenin makannya. Mau makan dimana?" tanya Vanya.
"Taman yang ada meja bundernya aja deh, biar enak makannya," jawab Dipta.
"Oke, ayo!" ajak Vanya.
"Sebentar." Dipta masuk ke ruang OSIS. Sebenarnya Vanya bingung, tapi belum sempat ditanya, Dipta sudah menghilang duluan.
"Ini buat kamu. Masa nanti aku doang yang makan. Ya walaupun itu bukan makanan berat, tapi nggak papa ya?" Dipta memberikan puding untuk Vanya yang langsung saja diterima oleh gadis itu.
"Makasih, ya," ujar Vanya.
"Aku juga makasih udah repot-repot dibeliin gado-gado," balas Dipta.
Setelahnya, Vanya dan Dipta berjalan bersama menuju taman sekolah. Mereka duduk di pinggir dimana ada meja dan kursi di sana. Vanya menyodorkan gado-gado beserta minuman untuk Dipta, lalu mulai memakan puding pemberian pacarnya itu.
Acara makan bersama di sela-sela kegiatan classmeet itu juga diisi dengan cerita-cerita Dipta dan Vanya. Momen sederhana seperti itu, sudah cukup membuat keduanya bahagia.