
Hari itu ketika pulang dari rumah David bersama tamparan dari sahabatnya itu, Vanya langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu dari dalam. Ia mematikan ponselnya karena tidak ingin berinteraksi dengan siapapun. Semalaman, Vanya berdiam diri di dalam kamar mencoba merenungi semuanya.
Merenungi apakah Aretha benar-benar berperan besar dalam retaknya hubungannya dengan Dipta? Apakah se-begitu mindernya Vanya dengan Aretha hingga ia jadi mudah cemas akan Dipta dan Aretha di belakangnya? Apakah tindakannya menegur Aretha adalah keputusan yang tepat?
Apakah Vanya se-childish dan seegois itu dengan secara tak langsung mengingkan dirinya dijadikan center semua orang seperti ucapan David?
Vanya benci masuk di fase ini, tapi Vanya tidak bisa menghindar lagi.
Gadis itu berpikir terlalu keras tanpa mendapat amunisi apapun. Setelah dari rumah David, Vanya tidak makan ataupun minum lagi. Kemudian saat bangun di pagi hari, badannya demam. Kepalanya sangat berat. Oleh karena itu, Vanya tidak berangkat sekolah hari ini.
Tadi pagi, mamanya sudah menemuinya di kamar bersama Mbak Ratih, ART di rumah itu dengan kunci cadangan karena pintu kamar dikunci oleh Vanya. Mamanya khawatir karena anaknya tidak ada kabar. Sekali ditemui, ternyata malah sakit. Vanya sudah sempat dibawa berobat ke dokter. Kali ini, ia hanya menghabiskan waktunya untuk beristirahat tiduran saja di kamar. Masih dengan kondisi tidak mengaktifkan ponselnya. Biar saja absennya dihitung alfa, lagian di kelas 12 ini Vanya belum bolos.
Sementara itu, di tempat lain Eva, Ino, David, dan Ethan masih kebingungan mencari kabar Vanya. Apalagi ketika tidak menemukan gadis itu di sekolah sampai jam pulang sekolah.
"Dia udah lama nggak bolos. Biasanya kalau mau bolos juga ngajak-ngajak. Gue jadi khawatir, apalagi kemarin keadaannya juga nggak enak," ujar Ino.
"Lo sih, Vid. Kan udah gue bilang, udah kelewatan kemarin lo tuh. Vanyanya lagi nggak stabil mood-nya. Terus juga belakangan kayak lemes anaknya," sahut Eva. Sebenarnya David juga merasa bersalah.
"Udah, jangan salah-salahan. Kita samperin rumah Vanya aja," sela Ethan menengahi. Tentu saja saran Ethan disetujui oleh mereka. Keempat sahabat itu langsung menuju parkiran untuk berangkat ke rumah Vanya.
"David!" Suara itu membuat David menghentikan langkahnya, begitu juga dengan yang lain.
"Apa, Dip?" tanya David begitu Dipta mendekat.
"Mau kemana? Kan mau survei lokasi foto terakhir," ujar Dipta.
"Duh, kalau gue izin dulu boleh nggak ya? Gue mau nyari Vanya," balas David.
"Nyari Vanya?" Dipta tak mengerti.
"Heh lo tuh nyadar nggak kalau seharian Vanya nggak ada di sekolah? Dihubungin juga nggak bisa! Sadar nggak sih Dip? Kayaknya enggak ya," sahut Eva jengkel.
"Gue nggak—"
"Au deh, gue males lama-lama lihat lo. Sono, Pid, kalau mau survey. Gue sama yang lain berangkat duluan." Setelahnya, Eva menarik tangan Ethan dan Ino untuk berjalan mendahului David.
"Dip, boleh ya gue izin nggak ikut dulu. Hubungan gue sama Vanya juga lagi nggak baik, kemarin kami cekcok. Gue nggak enak karena setelahnya Vanya nggak ada kabar," jelas David.
"Gue pengen ikut, tapi gue nggak bisa karena nggak enak sama yang lain kalau tiba-tiba batal. Gue minta tolong kabarin keadaan Vanya ya?" pinta Dipta yang langsung diangguki oleh David. Setelahnya, David langsung lari menuju parkiran untuk mengambil motor dan berangkat ke rumah Vanya.
Sesampainya di rumah Vanya, David disambut oleh Mbak Ratih yang mengatakan bahwa Vanya sedang sakit. David diizinkan untuk ke kamar Vanya karena teman-temannya yang lain sudah ada di sana. Segera saja David menuju kamar Vanya.
Kehadiran David mendapatkan atensi dari semua orang di kamar itu. Namun, suasana mendadak canggung. David masuk dengan perlahan dan berdiri di samping Ethan.
"Lo lagi ... sakit, Van?" tanya David.
Vanya tak menjawab.
"Sakit apa? Pusing?" David tetap bertanya meski tak ada jawaban.
Vanya mengembuskan napas pelan. "Lo nggak salah kok. Nggak papa, Vid, gue juga nggak bisa marah sama lo lama-lama," ujar Vanya membuat David mengembuskan napas lega.
Kondisi kamar Vanya sekarang jadi lebih lega setelah Vanya dan David berdamai. Mereka berbincang banyak hal, juga mengungkapkan sekolah sepi tidak ada Vanya.
"Lo cepet sembuh, Van, biar bisa ikut gathering sama anak-anak Aderfia besok minggu," ucap Ethan.
"Eh mau ada gathering?" Vanya antusias
"Iya, di tempat Enzo, sekalian muter-muter dulu. Tapi sehari langsung balik, enggak nginep," jawab Ethan.
Vanya lebih bersemangat. Kali ini, Vanya akan ikut kegiatan itu. Dengan atau tanpa izin Dipta, Vanya akan ikut.
*
Vanya sempat cekcok dengan Dipta ketika bilang bahwa ia akan ikut food gathering dengan anak-anak Aderfia. Kata Dipta, Vanya itu habis sakit. Dipta tidak menjenguknya kala sakit, hanya menitipkan buah dan susu melalui Mbak Ratih. Namun, Vanya tetap kekeh akan ikut. Vanya bilang bahwa ia hanya memberi tahu Dipta, bukan meminta izin.
Hari ini, Vanya sudah sampai di vila milik Enzo. Tidak terlalu jauh dari pusat kota, tapi cukup meneduhkan. Tadi, Vanya dibonceng oleh Eva. Itupun atas permintaan Eva karena takutnya Vanya masih lemas.
Vanya rindu berkumpul dengan anak-anak Aderfia. Kini, mereka berada di taman belakang vila Enzo untuk menyantap makanan bersama. Tiap anak sudah membawakan makanan untuk dimakan bersama. Meskipun begitu, tetap masih ada memanggang sosis, bakso, dan ayam.
Vanya tidak ikut masak-masak. Gadis itu memilih duduk di atas tikar yang sudah digelar seraya melihat keramaian di depannya ini. Seulas senyum terbit dari bibirnya.
"Seneng?" Ethan yang semula mengambil galon, tiba-tiba saja sudah berada di samping Vanya.
Vanya mengangguk semangat. "Banget. Gue udah lama nggak kumpul sama kalian kayak gini. Jadi sekarang gue seneng banget."
"Glad to hear that. Semoga ke depannya, lo selalu seneng ya," ucap Ethan.
"Lo juga ya, Than," balas Vanya.
"Van, hidup kita tuh punya kita sendiri kan? celetuk Ethan tiba-tiba.
Vanya mengangguk. "Iyalah. Kita yang ngatur mau jalanin hidup kayak gimana."
"Kalau gitu, gue harap lo juga ngelakuin hal yang lo bilang ya, Van. Lakuin semua hal yang pengen lo lakuin selagi masih batas wajar. Nikmati hidup lo dengan baik, dengan bahagia. Ada sedihnya wajar kok, tapi gue harap lo juga bisa ngatasin itu ya," ujar Ethan.
"Ih, lo kenapa deh tumben banget kayak gini. Gue jadi merinding," ujar Vanya.
Ethan justru tertawa. "Nggak kenapa-kenapa, sih. Gue cuma nggak suka aja lihat lo sedih-sedih mulu kayak kemarin. Gua maunya kan sahabat gue bahagia terus. Kita sahabat kan?"
"Iya dong, kita udah naik tingkat nih dari kenalan biasa sampai sahabat," jawab Vanya.
"Nah, berarti sebagai sahabat kita harus bahagia bareng-bareng ya. Lo punya gue yang selalu ada di pihak lo kok. Walaupun mungkin ada orang yang lebih di luar sana, tapi gue tetep di pihak lo," ucap Ethan tulus.
Vanya tersenyum mendengarnya. Ucapan Ethan membuatnya lebih tenang. Sejenak ia lupakan semua masalahnya dengan Dipta. Hari ini, Vanya ingin fokus menikmati waktu bersama teman-temannya dan bahagia. Seperti yang dibilang Ethan, Vanya akan bahagia.