Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Apresiasi



Dua minggu berjalan dengan Vanya yang semakin membaik. Tidak ada kerusuhan yang diperbuat oleh gadis itu. Tidak ada peraturan yang ia langgar. Dari seragam hingga sepatu, semuanya sesuai ketentuan. Dan dua minggu ini, Vanya selalu berada di kelas tanpa membolos.


Perubahan sikap Vanya jelas menarik perhatian yang lainnya. Apalagi, hal itu berlangsung 2 minggu dan terus berlanjut. Vanya masih mendapatkan tatapan aneh. Baik dari orang-orang yang Vanya tidak terlalu kenal, hingga teman-temannya sendiri.


"Mau ikut nggak, Van, ke warung belakang, setengah jam lagi pulang tapi gurunya nggak dateng-dateng juga. Jam kosong sih ini," ajak Ino.


"Yaelah, nggak bakal mau dia, No. Udah taubat," sahut David.


"Jamkosnya kan emang dari sononya. Kita cuma manfaatin momen itu dengan baik aja," jawab Ino.


"Ikut, Van?" tanya Eva.


Vanya ingin, tetapi ia berusaha mengontrol keinginannya itu. Pelan-pelan ia harus hilangkan kebiasaan buruknya. Akhirnya, Vanya menggeleng.


"Nggak deh, kalian aja. Gue mau tidur aja," ujar Vanya.


"Tuh kan, nggak mau dia, No," sahut David.


"Ya udah deh nggak jadi," ujar Ino.


"Lah? Kalian kalau mau bolos, silakan. Duh gue berasa jadi penunjuk arah yang benar kalau gini," balas Vanya.


"Dih sok-sokan lo baru juga dua minggu," cibir Eva.


"Nggak papa dong, namanya aja lagi berproses," bela Vanya.


"Duh, Van, gue malah aneh ngelihat lo ngomong bener kayak gini," timpal Ino.


"Kita main UNO aja nggak, sih?" ajak David tiba-tiba.


"Dimana? Kalau di warung belakang nggak ikut ya gue," ujar Vanya.


"Santai elah, takut bener lo. Di kelas aja juga nggak papa. Ini gue bawa barangnya," ucap David. Cowok itu kemudian merogoh tas dan mengeluarkan kartu UNO.


"Buset lo prepare banget ya kayaknya sampai bawa UNO," celetuk Eva.


"Gue antisipasi aja sih biar nggak gabut kalau di keadaan kayak gini," jawab David.


"Ajak yang lain dong, biar ramai," ujar Vanya.


Ino berdiri. "GUYS ADA YANG MAU IKUTAN MAIN UNO NGGAK?" teriak Ino mengajak teman-teman sekelasnya.


"Gue mau ikut!"


"Gue juga!"


"Eh gabung dong!"


Dan begitulah akhirnya mereka berkumpul melingkar di belakang kelas untuk bermain uno. Tidak lupa menutup pintu dan jendela sipaya tidak terlihat dari luar. Tidak pengap karena AC di kelas itu bekerja sangat optimal.


Ponsel di tangan Vanya tiba-tiba bergetar. Ada notifikasi chat dari Dipta di sana.


Dipta (pacar) : Van, hari ini kamu ada pelajaran di luar kelas ya?


Vanya : enggak kokk. kenapaa?


Dipta (pacar) : Tadi habis dari kamar mandi lewat kelas kamu kok pintu sama jendelanya ditutup. Aku pikir lagi di lab atau gimana gitu.


Vanya : enggaa, ini lagi jamkos malahann


Dipta (pacar) : Kamu dimana?


Vanya : di kelas kokk. pintu sama jendelanya ditutup soalnya anak kelas pada di belakang ini main UNO.


Kemudian Vanya mengirimkan foto selfie dirinya dengan menampilkan situasi di belakang dimana anak-anak kelasnya sedang melihat kartu masing-masing.


Dipta (pacar) : Keren


Vanya : iya dongg, aku emang keren


Dipta (pacar) : Maksudnya keren karena kamu nggak bolos dan stay di kelas walaupun jamkos. Tapi kamunya juga keren sih. Cantik❤️


"WOI GUE NGGAK BISA DIGINIIN!" Refleks Vanya berteriak melihat chat itu. Ia kaget dengan sikap Dipta yang tiba-tiba seperti itu.


"Heh kesurupan ya lo. Agak-agak ni orang," cibir Ino. Beberapa temannya yang lain juga menggerutu, tetapi tak digubris oleh Vanya.


David hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. "Hadeh, dasar bucin."


*


Dipta mengetuk pintu rumah Vanya


dengan satu tangannya yang lain membawa paper bag. Ia sengaja tidak menghubungi Vanya bahwa dirinya akan kemari. Cowok itu ingin memberi kejutan pada Vanya.


Begitu pintu terbuka, yang membukanya adalah mama Vanya. Ternyata kali ini mama Vanya cukup lama berada di rumah. Biasanya, mama Vanya lebih sering melakukan perjalanan pekerjaan ke luar kota.


"Eh, Dipta. Pasti mau cari Vanya, ya?" tebak mama Vanya sudah mengerti.


Dipta mengangguk. "Iya, Tante. Vanya ada?"


"Ada kok. Ayo masuk dulu," ucap mama Vanya mempersilakan Dipta untuk masuk.


Dipta menurut, lalu mulai melangkah masuk ke dalam rumah itu. Cowok itu duduk di kursi ruang tamu. Dapat ia dengar mama Vanya yang meneriakki nama Vanya serta meminta gadis itu untuk turun ke bawah karena ada Dipta.


Tidak lama kemudian, terlihat Vanya yang turun dari tangga dan menghampiri Dipta dengan semangat.


"DIPTA!!" teriak Vanya sangat antusias melihat kehadiran kekasihnya itu.


Dipta sontak berdiri melihat Vanya yang berlari antusias ke arahnya. "Eh, jangan lari-lari nantu jatuh," peringat Dipta.


Vanya menghentikan larinya tepat di hadapan Dipta. Gadis itu nyengir. "Sorry, aku seneng banget lihat kamu."


"Padahal kamu tiap hari lihat aku, tapi kali ini kamu sebegininya. Kenapa, sih, Cantik?" tanya Dipta.


Vanya memukul lengan Dipta. "Nggak usah kayak gitu, ya, please. Aku nggak siap kalau kamu tiba-tiba kayak gini. Tadi aku di kelas sampai ditegur temenku gara-gara chat dari kamu," omel Vanya.


Dipta tertawa. "Duh, salting ya si cantik ini." Cowok itu malah semakin gencar menggoda Vanya.


"Diem!!" ucap Vanya.


"Iya deh, iya diem nih. Jangan mukul lagi dong," ujar Dipta.


Vanya menghentikan pukulannya. "Kamu kesini mau apa? Kangen ya sama aku?" tanya Vanya.


"Dih, PD banget ya kamu. Salah satunya emang itu, sih," jawab Dipta.


"Salah satunya? Terus alasan lainnya apa tuh?" tanya Vanya lagi.


"Duduk dulu." Dipta duduk dan meminta Vanya untuk duduk di sebelahnya. Selanjutnya, cowok itu memberikan paper bag kepada Vanya.


"Apa ini?" bingung Vanya.


"Buka dulu dong," balas Dipta.


Menurut, Vanya membuka paper bag itu. Ada kotak berwarna hitam di sana. Vanya membuka kotak itu.


"Banyak banget, Dipta!!" pekik Vanya melihat isi kotak itu.


"Itu jajan buat kamu. Stok sebulan ke depan sekalian hemat uang jajan," jelas Dipta.


"Ini dalam rangka apa kamu kasih aku gift snack kayak gini?" tanya Vanya.


"Kamu coba keluarin dulu isi-isinya. Masih ada lagi itu," ucap Dipta.


Vanya segera mengikuti ucapan Dipta. Ia pindahkan dulu isi jajanan yang ada di sana ke atas meja. Ia juga menyingkirkan potongan-potongan kertas yang ada di kotak itu.


"Lucu banget bukunya, Dipta," puji Vanya ketika melihat notebook bernuansa planet-planet.


"Biar kamu rajin nyatet," ujar Dipta sedikit menyindir Vanya yang malas mencatat.


Vanya tertawa. "Oke, habis ini aku rajin nyatet! Tapi ini kamu dalam rangka ngasih aku hadiah kayak gini? Syukuran nih?"


"Itu sebagai hadiah karena kamu jadi anak baik dan patuh aturan. Pacarku ini hebat banget deh," puji Dipta seraya menatap Vanya dengan senyuman tulus.


Vanya tersenyum mendengarnya. "Makasih banyak, ya, Dipta. Makasih juga udah apresiasi aku sekecil apapun hal yang aku lakuin. Kamu kok keren banget sih!" balas Vanya.


"Iya dong, pacar Lavanya harus keren," ujar Dipta.


Vanya tertawa. Perasaannya sangat bahagia malam ini. Dipta dan semua perlakuan baik dari cowok itu, sangat membuatnya tersentuh. Bersama Dipta, Vanya merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia ini.