Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Ucapan David



Setelah cekcok kemarin, belum ada interaksi intens antara Vanya dan Dipta. Ketika tak sengaja berpapasan, Vanya lebih memilih mengalihkan pandangan atau berbalik mencari jalan lain. Seenggan itu Vanya melihat Dipta. Vanya ingin melihat apakah sebenarnya Dipta paham perasaannya atau tidak? Padahal Vanya rasa, ia sudah menyampaikannya dengan terang-terangan. Namun, ia merasa disepelekan oleh kekasihnya sendiri.


"Udah, Van, galaunya. Bentar lagi kita banyak ujian, jadi stressnya jangan dihabisin duluan," tegur Eva melihat Vanya bukannya memakan jajanan yang disediakan oleh Ibun David, tetapi malah melamun saja.


"Gue aneh aja, Va, sama semuanya. Sama hubungan gue. Sebelumnya kita nggak pernah berantem entah karena cewek lain atau cowok lain. Paling berantem seputar klub motor sama OSIS dia. Kayak ... hubungan ini tuh dari awal cuma tentang gue sama Dipta, tapi tiba-tiba ada orang lain dateng dan berhasil bikin Dipta bagi atensinya dari gue. Aneh sumpah, gue masih nggak paham. Kenapa juga sih itu anak baru pakai dateng," papar Vanya. Kini, mereka sedang berkumpul di rumah David.


"Oke saudara-saudara, kita mulai memasuki waktu Indonesia bagian Vanya curhat," sahut Ino mendapat lirikan sinis dari Vanya.


"Namanya hubungan pasti ada pasang surutnya, Van. Sebelum ini, kalian juga pernah ngelewatin masa-masa berantem dan berhasil kan? Pasti kali ini kalian juga bisa lewatinnya," timpal Ethan.


"Lo ngomong gitu sebenernya hati lo kretek-kretek kagak, sih, Than?" celetuk David dengan tertawa. Tawa David juga direspon oleh Ino.


"Pid, jangan buka kartu dulu, Pid. Masalah tuan putri belum kelar, nih," ucap Ino.


"Duh, sorry ya sorry kelepasan," balas David masih dengan senyum jahil.


Ethan hanya memandang itu dengan kalem. Sudah paham dengan David dan Ino yang jika berkolaborasi, suka jahil.


Vanya sebenarnya mendengar. Tetapi ia terlalu malas untuk menebak-nebak maksudnya dan ia sedang tidak ingin bertanya. Apalagi Ino dan David sedang mode jahil. Bukannya mendapat jawaban, yang ada ia malah jadi target mereka.


"Kalian jangan suka kompor gitu deh. Kalau ada yang baper nanti lebar tuh masalahnya," sahut Eva.


"Emang siapa sih yang baper? Lo baper Than? Emang baper kenapa sih?" David bertanya sok polos pada Ethan.


Kali ini, Ethan mulai geram.


"Baper gara-gara apa sih? Eh tapi emang bukannya udah baper, Than?" timpal Ino.


"Wah, Ethan diem-diem gitu ya," ujar David.


Ethan berdecak kesal. "Berisik! Diem lo pada," ujarnya galak.


"Uuuu takutttt," ujar Ino dengan nada meledek.


"Kalian bisa fokus dulu nggak sih?! Gue lagi galau lho ini!" omel Vanya.


"Dih, lo galau mah galau aja, jangan larang orang buat bahagia," balas Ino.


"Udah, Van, dibilangin kok itu cuma fase-fase sesaat doang. Akur lagi nanti. Tuh dengerin kata Ethan tadi, pasti lo sama Dipra bisa lewatin ini," tambah Eva.


"Ini tuh beda. Masalahnya bukan gara-gara gue yang diem-diem ke markas dan balapan, ataupun Dipta yang hari-harinya sibuk OSIS. Udah ada faktor orang luar di sini tuh! Ya itu si anak baru gara-garanya," kekeh Vanya.


"Kayaknya lo harus stop kambing hitamin Aretha deh, Van. Nggak ada salahnya lo sama Dipta sama-sama introspeksi diri dulu juga," ucap David.


"Lo kenapa sih sekarang sering banget belain dia mentang-mentang kalian sekelas? Emang masalahnya kan di Aretha. Sebelum ini, gue sama Dipta juga baik-baik aja!" semprot Vanya.


"Nggak gitu, Van. Oke, masalahnya di Aretha, terus lo udah tegur Aretha, apakah masalahnya selesai? Enggak kan? Apa yang lo dapet? Lo justru cekcok sama Dipta. Kalau gitu, penyebab masalahnya udah bukan Aretha sepenuhnya," jelas David.


"Ya Aretha lah, ngapain juga bilang ke Dipta habis gue tegur." Vanya masih tak terima.


"Kalau Dipta yang tanya duluan gimana? Kalau Dipta yang ngerasa Aretha ngejauh dan Dipta nggak suka gimana? Cowok lo tuh juga perlu dipertanyakan, jangan Aretha mulu lo salahin," semprot David.


Suasana ruang tengah yang biasanya hangat, kini jadi mencekam.


"Eh udah dong kok malah kalian yang berantem sih," sela Eva.


"Gue cuma nggak suka aja Vanya nyalahin Aretha terus-terusan. Gue temen sekelas Aretha, tau gimana mereka di kelas. Aretha nggak pernah coba goda Dipta. Mereka murni sering bahas selayaknya temen sekelas yang bahas pelajaran, selayaknya ketua kelas dan wakilnya yang bahas kelas. Lo sadar dong, Van, semua ini gara-gara sikap lo sendiri. Lo sama pikiran buruk lo yang nggak kekontrol itu yang bikin lo sama Dipta jadi kayak gini. Lo insecure, lo pojokin orang yang lebih dari lo. Lo salahin semua orang tapi buat introspeksi diri aja lo nggak mau." David mulai angkat suara dengan serius.


"Coba lo inget, berapa kali Dipta nenangin lo dengan bilang lo cukup buat dia. Coba lo inget berapa kali Dipta validasi semua perasaan lo. Tapi lo anggap itu kayak angin lalu doang dan lebih milih percaya sama pikiran-pikiran buruk lo. Ini udah bukan soal Aretha, tapi soal kepercayaan lo sama Dipta sendiri tuh gimana? Jangan biasain apa-apa nyalahin orang, Van. Intropeksi. Dunia muter nggak di lo doang. Jangan maunya dijadiin center mulu. Kalau kayak gini terus, nggak heran kalau nantinya Dipta muak dan beneran kepincut sama Aretha yang positif vibes," lanjut David.


Ucapan-ucapan yang keluar dari mulut David benar-benar menusuk hati Vanya. Ia tidak bisa mengelak dari rasa sakit lagi kali ini. Mati-matian ia menahan air matanya supaya tidak meluruh. Ia tak mau terlihat cengeng.


"Lo udah kelewat batas, Vid," tegur Eva.


"Jangan dibelain mulu, Va. Validasi-validasi buat dia udah nggak mempan. Sekali-kali harus ditampar," jawab David tegas.


"Nggak kayak gitu juga, Vid. Vanya nggak sepenuhnya salah. Kayak yang kita tau, emang selama ini Dipta nggak pernah respon cewek lain sampai segininya," balas Eva.


"Kan poin gue juga bilang jangan sudutin Aretha nya terus. Kelakuan Dipta juga perlu di-highlight. Malah yang paling harus disorot si Dipta, bukannya Aretha terus," ujar David.


Vanya masih diam. Ia dengar dan ingat baik-baik setiap kata yang diucapkan David. Semakin ia ingat, semakin sakit pula yang ia rasa. Ia merasa bahkan David yang sahabatnya dari lama justru lebih berpihak pada anak baru itu.


Vanya mengembuskan napas kasar. Kemudian gadis itu beranjak dari sana.


"Nggak usah kabur lo. Jangan tiap denger kata-kata yang nggak mihak lo, lo langsung pergi dan buat orang lain ngerasa salah. Jangan dibiasain kayak gitu." Suara David menahan pergerakannya.


"Vid, udah kenapa sih?!" sahut Eva.


"Tetep disini, Van. Tadi curhat pengen direspon, pengen pada fokus kan? Sekarang gue udah kasih sepenuhnya fokus buat lo, dengerin!" teriak David.


Vanya berbalik lalu berdiri persis di hadapan David. "Udah. Gue balik. Gue dengerin. Mau omong apa lagi? Mau nampar gue gimana lagi?"


Giliran David yang dibuat terdiam.


"Bukan cuma Dipta, tapi lo juga sama ternyata, Vid. Orang-orang yang sebelumnya deket gue, sejak kenal Aretha, jadi lebih milih di pihak dia. Mungkin kayak yang lo bilang karena dia lebih baik dari gue. Tapi kalau gue tetep ngerasa sakit hati dan nggak terima atas itu, nggak boleh ya?" ujar Vanya. Nadanya mulai terdengar bergetar.


"Gue bukan mau playvict, tapi jujur gue cukup sakit hati sih dengernya," aku Vanya. Ia memalingkan wajahnya sejenak untuk menghapus air mata yang hendak keluar.


"Ternyata gue se-haus validasi itu sampai waktu cerita ke kalian, gue yang berharap denger lo ada di pihak gue, Vid. Gue yang berharap lo juga validasi perasaan gue, nyatanya enggak begitu, dan itu cukup bikin gue jatuh. Sedihnya mirip kayak waktu Dipta lebih belain Aretha," lanjut Vanya.


Sialnya, kali ini Vanya tak sempat menahan air matanya hingga air mata itu turun begitu saja. Hal itu tentu menarik perhatian sahabat-sahabatnya. Termasuk David yang menelan ludahnya susah payah dan mengepalkan tangannya melihat Vanya menangis.


Vanya berusaha mengatur napasnya sebelum akhirnya bilang, "Oke, gue nggak salahin Aretha lagi dan belajar intropeksi kayak yang lo bilang, Vid."


Vanya menghapus air matanya. "Sorry, tiba-tiba nangis," ucapnya seraya terkekeh yang justru terdengar menyedihkan. "Gue pulang duluan deh ya. Sorry bikin suasananya jadi nggak enak." Setelah mengucapkan itu, Vanya beranjak dari rumah David untuk pulang ke rumah menggunakan motor kesayangannya.


Vanya biarkan dirinya menangis sepanjang perjalanan bersama ucapan David yang senantiasa terngiang di pikirannya.


*