Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Putus?



Ucapan Vanya via telepon itu, cukup membuat Dipta menghabiskan banyak waktu untuk berpikir. Merenungi semua hal yang akhir-akhir ini berjalan tanpa pernah ia bayangkan di pikirannya selama ini. Berteman dengan anak baru yang lambat laun semakin akrab, ribut dengan pacarnya karena masalah itu, sampai Vanya sempat melontarkan kata 'udahan'.


"Gue udah kelewatan ya?" tanya Dipta pada dirinya sendiri.


"Gue selama ini terlalu ngegampangin perasaan Vanya kah? Gue bingung juga, sebenernya gue kenapa. Gue jujur nyaman sama Aretha, tapi gue juga nggak mau kalau kehilangan Vanya. Brengsek banget," rutuknya pada dirinya sendiri.


Dipta sedang tidak bersama siapapun. Dia hanya di kamar dan melakukan monolog dengan dirinya sendiri. Dua hari sejak pertengkaran via telepon, Dipta cukup menjaga jarak dengan Aretha. Ia juga jarang melihat Vanya. Dua hari itu ia habiskan untuk dirinya sendiri.


"Gue pengen tetep sama Vanya, tapi juga temenan sama Aretha. Kayaknya nggak bisa ya Vanya akur sama Aretha."


"Vanya lagi apa ya? Gue jadi ngerasa bersalah sama dia."


Dipta berdecak. "Gue samperin aja kali ya? Tapi dia dimana ya?"


Dan begitulah isi monolog Dipta hari ini. Penuh dengan kebimbangan dan pertanyaan tentang Vanya. Daripada semakin tidak tenang, Dipta memutuskan untuk menemui Vanya secepatnya.


"Oh ya gue lupa WhatsApp gue diblok Vanya haduhhh! Gimana gue tau dia dimana," sebal Dipta.


Akhirnya, Dipta mencoba menelpon melalui panggilan biasa yang memakai pulsa. Ia menghubungi nomor Vanya yang lain, yang memang untuk orang terdekat saja. Untungnya, telepon itu diangkat oleh Vanya.


"Kenapa?" Suara Vanya mulai terdengar.


"Udahan diem-diemnya. Aku mau ketemu kamu buat ngobrol langsung, kamu di rumah kan?"


"Nggak, lagi cari baju buat foto yearbook minggu depan."


"Jam segini? Kamu nggak bohong kan? Kamu nggak lagi balapan kayak sebelum-sebelumnya kamu bohongin aku kan?"


"Kalau nggak percaya nggak usah tanya."


Dipta mengembuskan napas pelan. Sepertinya Vanya masih dalam keadaan sensi dengan Dipta.


"Oke, kamu pulangnya jam berapa? Nanti aku ke rumah. Aku mau bicara hari ini juga, nggak tenang lama-lama diem-dieman sama kamu."


"Kamu udah bicara sekarang, Dip. Kamu mau omongin apalagi?"


"Banyak, Van."


"Besok aja ya."


Akhirnya Dipta mengiyakan. "Buka bloknya dulu, biar aku bisa chat kamu."


"Iya, aku buka. Udah ya, tutup dulu telponnya. Nggak enak ditunggu yang lain," ujar Vanya.


"Oke, hati-hati pulangnya." Setelah itu, panggilan telepon dimatikan. Namun, pandangan Dipta justru tersita pada notifikasi di sana.


Aretha : dipta, mau bahas latsol UTBK yang penalaran kuantitatif nggak?


Dipta tertarik. Namun, setelah ia pikir-pikir lagi, sepertinya sekarang Dipta harus bisa mengontrol itu.


Dipta : Sorry, Tha, gue udah ngantuk nih. Jadi nggak bisa deh kalau sekarang.


Setelahnya, Dipta memilih mengarsipkan chat dari Aretha.


Tidak lama kemudian, terdengar ketukan pintu kamar. Dipta beranjak dan membuka pintu itu. Ada Rio di sana.


"Lah? Lo jadi ke sini? Gue kira bercanda doang," ujar Dipta. Sebelumnya Rio memang bilang akan menginap karena di rumahnya mati listrik dan cowok itu sendirian. Namun, Dipta hanya menganggap itu bercanda. Ternyata Rio benar-benar menepati ucapannya.


"Ya beneran lah. Gue numpang charge HP ya, Dip." Rio masuk dan mulai mengisi daya ponselnya.


"Jangan dimainin kalau lagi dicas," tegur Dipta melihat Rio yang memainkan ponselnya sambil men-charge.


"Eh, Dip lo coba ke sini, cepet!" Rio melambaikan tangannya memberi kode Dipta untuk mendekat.


"Apa sih?" Dipta melihat layar ponsel Rio. "Instastory Enzo? Emang Enzo siapa?" tanya Dipta.


"Temen gue, pernah satu tempat les. Ini dia videoin abis balapan, kayak ada yang menang. Nah itu kayak Vanya, Dip. Tapi kok tagnya isvalava ya?"


Menurut, Rio mencoba memencet tag akun itu.


"Difollow Enzo sama Ethan. Eh, ini postingannya baru dua hari yang lalu. Motor Vanya ini mah, Dip," ujar Rio.


"Ini instastory Enzo direpost sama dia. Terus instastory selanjutnya... WAH FIX INI VANYA. ITU WAJAHNYA KELIATAN KOK, ADA DAVID JUGA TUH SAMA TEMEN-TEMENNYA YANG LAIN," heboh Rio.


Benar, instastory selanjutnya memang lebih jelas. Foto Vanya bersama David, Ino, Eva, dan Ethan. Mereka menunjuk Vanya, dan captionnya 'ditunjuk soalnya abis menang balapan.'


"Lo ... nggak tau akun ini, Dip?" tanya Rio.


Dipta menggeleng. "Nggak. Gue cabut dulu ya. Lo di sini aja."


Dipta seperti mendapat kejutan luar biasa. Vanya memiliki akun lain tanpa sepengetahuannya. Vanya masih balapan bahkan dua hari yang lalu. Vanya berbohong bilang mencari baju untuk yearbook, padahal sedang balapan. Malam ini, entah untuk ke-berapa kali Vanya mengecewakan Dipta.


*


Dipta menunggu di parkiran luar markas Aderfia. Ia sengaja tidak masuk. Dipta ingin memastikan Vanya ada di sini atau tidak. Setelah sekitar 15 menit menunggu, orang-orang di sana mulai keluar satu persatu.


Dipta tidak salah lihat lagi bahwa salah satu di antaranya adalah Vanya. Cowok itu segera melangkah menemui Vanya.


"Beli baju buat yearbook di markas tuh ada ya?" sindir Dipta cukup membuat Vanya terlonjak kaget. Siapa yang tidak kaget tiba-tiba Dipta ada di depannya.


"Anjir lo bisa nggak salam dulu, jangan ngagetin orang," omel David.


Dipta tidak menggubris ucapan David. Ia langsung menarik tangan Vanya mengajaknya bicara di tempat yang lebih sepi.


"Kamu kok bisa sampai sini?" tanya Vanya.


"Nggak penting. Sekarang ada yang lebih penting, kenapa kamu bohongin aku? Kenapa kamu diem-diem balapan di belakang aku? Kenapa kamu bikin akun isvalava tanpa aku tau? Kamu anggep aku apa sih sebenarnya, Van?" cecar Dipta.


Vanya mengerjap. Ia tak siap ditembak pertanyaan langsung seperti ini.


"Aku tau, akhir-akhir ini kita lagi nggak akur. Aku tau, aku salah. Aku telepon kamu, mau ajak kamu ngobrol, karena mau minta maaf secara langsung. Tapi kok malah akunya dibohongin? Udah berapa kali bohongin aku, Van?"


Vanya tidak menjawab, ia juga merasa bersalah.


"Gimana sih Van biar kamu nggak bohongin aku mulu? Kamu pikir dibohongin enak? Enggak, Van!" sentak Dipta cukup membuat Vanya terkejut.


"Nggak usah bentak-bentak! Aku bohong karena bilang pun kamu nggak bakal izinin. Sedangkan aku butuh banget pelampiasan buat semua rasa kesel gara-gara kamu, makanya aku balapan! Kamu pikir enak nahan kesel mulu?!" Vanya balik marah.


"Apa nggak ada pelampiasan lain? Kenapa balapan terus, sih? Sebelumnya kan udah janji nggak bakal balapan lagi, nggak bohong lagi," ujar Dipta.


"Nggak ada! Emangnya kalau aku lampiasin dengan marah-marah ke Aretha, kamu nggak bakal marah? Marah kan pasti, ya udah aku lampiasin pakai balapan!" balas Vanya.


"Nggak usah bahas Aretha, di sini masalahnya tuh kamu."


"Aretha awal mulanya! Dia dateng, tiba-tiba ada di antara kita dan ambil semua atensi kamu. Dia dateng, dan kita makin sering berantem."


"Sebelum dia dateng, kita juga sering berantem. Sebelum dia dateng, kamu juga sering balapan diem-diem. Jangan selalu salahin orang, intropeksi diri kamu dulu. Aku capek, Van, kamu bohongin terus. Aku capek kamu nggak bisa nepatin ucapan kamu. Aku capek sama semua sikap kamu. Childish, suka bohong, egois, nggak mau salah. Aku awalnya maunya damai sama kamu, tapi kamu malah gini," lontar Dipta menggebu-gebu.


"Ucapan aku nggak akan pernah kamu dengerin. Ucapan kamu aja nggak bisa kamu tepatin. Kali ini aku udah muak banget kamu bohongin terus. Aku nggak bisa terus-terusan dibohongin. Ucapan kamu di telepon waktu itu, kamu masih inget kan?"


Ingat, Vanya ingat. Tapi Vanya harap Dipta sedang tidak membahas tentang 'udahan'.


"Emang benernya kita udahan, Van. Kita udah banyak banget nggak sejalannya. Rumah kita udah rusak yang nggak bisa dibenerin lagi. Kejujuran dan kepercayaan itu pilar utamanya, tapi kamu secara pelan-pelan selalu mengikis itu. Permintaan kamu diterima. Kita selesai, ya. Setelah ini, kamu nggak perlu balapan diem-diem. Kamu bebas mau ngapain aja." Setelah mengucapkan itu, Dipta kembali ke motornya dan melajukan motornya, meninggalkan Vanya.


Meninggalkan Vanya yang dirundung rasa bersalah dan penyesalan amat berat. Meninggalkan Vanya yang memanggil nama Dipta berulang kali.


Namun, tak peduli seberapa banyak dan seberapa keras Vanya memanggil, Dipta tidak akan berbalik lagi.


Malam ini, hubungan Vanya dan Dipta selesai. Seperti kata Dipta, rumah keduanya sudah rusak. Dua pilar utamanya, sudah hancur lebur.


***