Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Berubah



Awalnya mungkin memang terasa aneh bagi Vanya. Bersikap baik dengan tidak bolos, tidak terlambat, dan selalu mengerjakan. Suatu hal yang sampai saat ini masih harus Vanya biasakan. Ia benar-benar ingin berubah. Memantaskan diri untuk Dipta yang nyaris sempurna dalam berbagai hal.


Dipta benar-benar sebuah pelengkap untuknya, tak hanya dalam karena sikap nya, tetapi juga sebuah hubungan keluarga. Vanya tidaklah beruntung dalam keluarganya karena ia terlahir dalam keluarga yang broken home. Namun kehadiran Dipta dengan keluarga nya adalah sebuah keberuntungan untuk Vanya. Oleh karena itu Vanya ingin berusaha menjaga hubungan mereka.


Salah satu alasan Vanya ingin berubah juga tak lepas dari dukungan ibu Dipta yang selalu mendukung nya namun juga tak pernah lupa mengingatkannya. Perubahan Vanya tak hanya di sekolah. Namun juga di luar sekolah.


Seperti saat ini, jika biasanya saat malam ia akan sering datang ke markas atau malah ikut balapan kini sudah beberapa semenjak Vanya mengatakan jika ia akan berubah, gadis itu sudah tak pernah lagi datang ke sana.


Yang Vanya lakukan setiap malam kini hanya di rumah entah belajar atau hanya menonton. Dan terkadang Dipta akan datang menemaninya belajar atau mengajaknya jalan-jalan.


Vanya saat ini baru saja selesai membuat  coklat hangat untuk ia bawa ke dalam kamar nya. Menemaninya belajar malam ini. Coklat hangat memang selalu bisa untuk menemani Vanya dalam belajar.


Saat Vanya baru saja akan menaiki tangga menuju kamar nya. Tiba-tiba saja bel rumah nya berbunyi. Vanya mengerutkan kening nya bingung dengan tamu yang datang. Dengan langkah santainya kini Vanya menuju ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.


Saat pintu kamar nya di buka. Senyumannya mengembang saat melihat yang kini berada di depan pintu rumahnya ternyata adalah Dipta.


“Dipta?” tanya Vanya dengan senyumannya saat melihat kekasihnya itu kini berada di depannya sambil tersenyum ke arah Vanya.


“Aku bawain martabak spesial buat orang yang spesial,” ucap Dipta dengan senyumannya sambil memperlihatkan kantong plastik yang dibawa oleh laki-laki itu.


“Haha, makasih ya pacar,” ucap Vanya dengan senyumannya sambil mengambil kantong plastik yang dibawa oleh Dipta.


Vanya lebih dulu masuk ke dalam rumah nya yang kini langsung disusul oleh Dipta di belakang nya. Dipta dan Vanya kini memilih untuk duduk di ruang keluarga.


“Aku ambil buku-buku aku dulu ya. Tadi aku belajar terus buat coklat panas. Eh kamu nya dateng,” ucap Vanya dengan cengirannya yang membuat Dipta kini tersenyum mendengar ucapan dari kekasih nya itu. Ia begitu senang juga bahagia dengan perubahan Vanya beberapa hari ini, semakin lama Vanya benar-benar semakin baik.


“Ambil sana. Kita belajar bareng. Bentar lagi ujian akhir kenaikan kelas,” ucap Dipta sambil memperlihatkan tas yang dibawanya. Melihat itu Vanya hanya terkekeh sambil menganggukkan kepalanya. Setelah nya ia memilih untuk segera menuju ke arah kamar nya untuk mengambil buku-bukunya.


Lalu membuatkan minuman untuk Dipta. Malam itu mereka hanya habiskan dengan belajar bersama juga dengan sebuah perbincangan ringan.


*


“Udah bangun?” tanya Dipta dengan tatapan tak percaya nya saat melihat Vanya kini bahkan sudah siap dengan seragamnya saat ia datang untuk membawakan sarapan untuk kekasih nya itu.


“Udah dong,” ucap Vanya dengan senyumannya yang membuat Dipta kini ikut tersenyum mendengar nya sambil mengelus puncak kepala kekasih nya itu dengan penuh sayang.


“Pinter banget sih,” ucap Dipta yang kini malah membuat Vanya terkekeh mendengar pujian Dipta padanya. Kini Dipta malah terlihat seperti ayah yang tengah memuji anaknya.


“Apaan sih Dip,” ucap Manja dengan kekehannya yang kini membuat Dipta hanya terkekeh mendengar ucapan Vanya.


“Aku tuh lagi muji kamu,” ucap Dipta sambil menyentil kening Vanya.


“Biar aja sih,. aku suka ini,” ucap Dipta sambil merangkul Vanya untuk segera turun dari kamar gadis itu dan memulai sarapan mereka.


“Kalau kamu bangunnya pagi gini terus. Kita jadi bisa berangkat bareng terus meskipun aku lagi jaga,” ucap Dipta pada Vanya saat mereka kini sudah sampai di ruang makan. Dipta dengan begitu perhatiannya menarikkan kursi untuk Vanya.


“Makasih,” ucap Vanya yang Dipta balas dengan anggukan.


“Bisa aja sih Dip. Tapi takut nya aku kelewatan bangun dan kamu malah kesiangan jaga nya,” ucap Vanya sambil memakan sarapan di depannya yang sudah Dipta siapkan.


“Kalau gitu aku telpon dulu buat mastiin,” ucap Dipta pada Vanya yang kini membuat gadis itu tampak berpikir sebelum akhirnya menjawabnya dengan anggukan.


“Boleh aja sih kalau kamu gak keberatan,” ucap Vanya dengan cengirannya. Dipta hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kini mereka dengan segera menghabiskan sarapan mereka. Masakan Bunda Dipta memang juara. Vanya selalu menyukainya.


Setelah selesai dengan sarapan mereka. Kini kedua remaja itu segera menuju ke arah motor mereka masing-masing. Sepulang sekolah nanti Dipta ada rapat akhirnya Vanya mau harus membawa motor sendiri karena ia ingin segera pulang.


Saat sampai di sekolah ternyata kini sekolah sudah cukup ramai. Mengingat jam yang kini sudah menunjukkan pukul 6.47 jadi tak heran jika kini sekolah sudah begitu ramai. Vanya memarkirkan motornya tepat di samping motor Dipta.


“Nanti istirahat duluan aja ya. Aku mau ke ruangan osis dulu. Nanti aku nyusul,” ucap Dipta pada Vanya yang kini menjawabnya dengan anggukan.


Sepanjang koridor kini banyak yang terus membicarakan Vanya juga Dipta. Apa lagi perubahan Vanya beberapa hari ini membuat orang semakin banyak yang mencibir nya.


“Kalau kata gue mah Vanya begitu biar gak ditinggal Dipta aja”


“Ngemis cinta juga ternyata dia”


“Gimmick sih kalo kata gue”


“Berusaha berubah biar seimbang dong bestie, nethink mulu”


Masih banyak lagi yang membicarakan Vanya. Masih banyak lagi perkataan yang bahkan lebih menusuk dari itu yang Vanya terima namun kini ia berusaha untuk menutup telinga nya. Berbeda dengan Vanya. Kini Dipta malah menghentikan langkahnya dan menatap satu persatu perempuan di sana dengan tatapan tajamnya.


“Sehari aja gak lemes gak bisa? Mau Vanya berubah karena apapun bukan urusan kalian juga. Lagian sikap Vanya gak ada ngerugiin kalian ini. Kalian ribet ya, Vanya nakal di omongin pas udah berubah semakin di omongin? Gak bisa girl support ya?” tanya Dipta dengan begitu tajamnya pada para siswi yang berada di sana. Mendengar ucapan Dipta kini membuat mereka semua hanya terdiam karena terlalu takut melihat Dipta yang kini menatap mereka begitu tajam.


“Udah bener hidup kalian? Review dulu lah diri sendiri sebelum nge review hidup orang,” tegas Dipta lagi. Vanya tentu saja begitu senang karena kini Dipta membelanya. Dipta melakukannya bukan tanpa alasan. Ia tak ingin hanya karena ucapan seperti itu malah menurunkan rasa percaya diri Vanya.


“Udah Dip, nanti juga kalau capek berhenti sendiri,” ucap Vanya sambil menarik tangan Dipta untuk segera pergi dari sana.


*