
Matahari bahkan baru saja muncul dari peraduannya. Namun kini Dipta sudah berada di depan rumah besar berlantai dua yang tak lain adalah rumah Vanya. Rumah yang hanya ditinggali oleh gadis nya itu seorang diri.
Biasanya akan ada art yang datang saat siang untuk memasak dan membersihkan rumah. Juga ada satpam yang berjaga di depan, namun akan pulang saat pagi hari. Jadi kini Vanya hanya sendiri di rumah nya.
Dipta membuka pintu rumah besar tersebut karena Vanya juga sudah memberikan nya kunci cadangan. Dengan langkah besar nya laki-laki itu berjalan menuju ke arah kamar Vanya yang masih tertutup rapat.
“Vanya, bangun Van,” teriak Dipta sambil mengetuk pintu kamar gadis nya itu dengan tidak sabaran.
Namun tak ada tanda-tanda jika gadis itu akan segera bangun. Dipta menghembuskan nafasnya, sudah biasa jika ia harus membangunkan gadis nya itu. Karena jika bukan hari senin atau ia tak ada kegiatan osis di pagi hari Dipta pasti akan menjemput Vanya dan membangunkannya seperti ini. Jadi tak perlu heran jika saat tak bersama Dipta ia akan terlambat karena Vanya akan bangun siang.
“Vanya, bangun,” teriak Dipta yang kini semakin mengeras kan suara nya, sambil mengetuk pintu kamar Vanya dengan keras nya.
“Iya iya,” teriak Vanya dengan suara bantal nya saat merasa terganggu dengan suara teriakan Dipta. Dengan langkah malas nya kini gadis itu membuka pintu kamar nya, agar Dipta tahu jika ia sudah bangun dan tak lagi mengetuk pintu kamar nya.
“Mandi sana, terus sarapan. Bunda sudah bawain makanan buat kamu,” ucap Dipta dengan perintah nya pada Vanya yang kini menganggukkan kepalanya dengan begitu lemah karena kini ia sudah begitu mengantuk.
“Iya,” ucap Vanya yang setelah nya langsung menutup pintu nya kembali dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Dipta memilih untuk menyiapkan sarapan yang sudah dititipkan oleh Bunda nya untuk Vanya. Bunda nya itu memang begitu baik dan perhatian pada Vanya. Memperlakukan gadis itu seperti anaknya sendiri.
Dipta cukup berterima kasih untuk itu karena Bunda nya itu bisa untuk menerima pilihannya dan bisa untuk menerima Vanya dalam kehidupan mereka.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Vanya bersiap. Kini ia sudah rapi dengan seragam nya. Senyumannya mengembang saat melihat Dipta yang kini terlihat begitu tampan saat sedang menuangkan jus ke dalam gelas nya.
“Ayo sarapan. Udah siang nih, nanti telat,” ucap Dipta yang di jawab dengan anggukan oleh Vanya yang kini sudah duduk di depan Dipta lalu memakan makanannya. Mereka makan dalam diam. Hingga setelah selesai mereka segera berangkat ke sekolah karena hari yang kini semakin siang.
Selama perjalanan mereka tak kehabisan bahan untuk diperbincangkan. Banyak hal random yang Vanya ceritakan pada Dipta membuat senyuman laki-laki itu tak luntur saat gadis nya itu bercerita banyak hal padanya.
“Emang nakal ya kamu tuh, kurang-kurangin jangan begitu lagi,” ucap Dipta sambil menggelengkan kepalanya. Saat mendengar cerita dari kekasih nya yang kemarin mengerjai guru mereka. Dipta memang selalu di buat geleng-geleng kepala karena nya.
“Lagian guru nya juga ngeselin,” sungut Vanya yang kini malah membuat Dipta menggelengkan kepalanya mendengar ucapan tersebut.
Terlalu larut dalam pembicaraan mereka, mereka sampai tak sadar jika kini mereka sudah sampai di parkiran sekolah mereka. Vanya lebih dulu turun dari mobil Dipta. Bahkan kini gadis itu berjalan lebih dulu meninggalkan Dipta yang kini tampak kebingungan saat melihat Vanya yang kini terlihat begitu kesusahan membawa tas nya.
Padahal yang ia tahu Vanya begitu anti membawa banyak buku, namun tas gadis itu tampak begitu berat. Dipta segera menghampirinya lalu segera mengangkat tas tersebut dan menjatuhkannya begitu saja. Hal itu hampir saja membuat Vanya akan terjatuh, namun beruntung Vanya egera menahannya.
“Apa sih Dip?” tanya Vanya dengan kekesalannya pada Dipta yang kini hanya menggelengkan kepalanya walau kini ia tampak bingung melihat Vanya yang kesusahan membawa tas nya.
“Berat banget,” ucap Dipta yang membuat Vanya hanya mengangguk.
*
Guru didepan kelas Vanya kini tampak serius menjelaskan pelajarannya. Pelajaran matematika yang begitu memusingkan kini tengah tersaji di depannya.
Eva di samping nya kini malah mengeluarkan buah apel nya lalu memotongnya dengan tangannya. Separuh ia berikan pada Vanya yang membuat Vanya kini tersenyum dengan begitu lebar nya lalu mengambil apel yang diberikan oleh Eva dan mulai memakannya sembunyi-sembunyi.
“Buat gue mana?” tanya Ino di belakang mereka sambil menyodorkan tangannya pada kedua gadis tersebut.
“Abis,” ucap Eva dengan begitu santainya yang membuat Ino melongo mendengar nya hingga ia mengerucutkan bibirnya mendengar nya.
“Tenang, gue ada,” ucap Vanya dengan senyumannya yang membuat teman-temannya itu kini bersemangat mendengar nya.
Vanya segera mengeluarkan buah berukuran besar dari tas nya yang kini berhasil membuat ketiga temannya itu melongo melihat apa yang kini terjadi di depan mereka. Buah berwarna hijau dengan ukuran besar yang tak lain adalah semangka.
“Itu lo yang bawa?” tanya David dengan pelan pada Vanya yang kini malah nyengir lebar menjawabnya.
“Terus itu buka nya gimana?” tanya Ino dengan mengerutkan kening nya edangkan Vanya kini malah tersenyum dengan begitu lebar nya.
“Tenang, ada gue. Va, lo jongkok dulu,” perintah Vanya yang membuat teman-temannya itu mengerutkan kening nya. Namun tetap saja akhirnya Eva turun dari kursi nya dan kini memilih untuk berjongkok.
Vanya meletakkan semangka itu di kursi Eva lalu dengan sekali pukulan kini Semangka itu sudah terbelah. Ketiga sahabat nya yang melihat itu kini sudah menganga. Tak percaya melihat apa yang kini tengah dilakukan oleh sahabat mereka.
Selanjutnya Vanya mulai Membelah nya menjadi empat bagian dan memberikannya pada masing-masing sahabat nya itu. Dan pelajaran matematika itu bukannya untuk belajar kini malah mereka habiskan untuk memakan buah semangka yang Vanya bawa.
“Besok-besok bawa lagi Van,” ucap Ino dengan cengirannya yang membuat Vanya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
Dipta yang tak sengaja lewat di depan kelas Vanya bersama dengan teman-temannya kini bahkan juga dibuat tercengang melihat apa yang Vanya lakukan.
“Wah gila, pacar lo Dip,” ucap teman Dipta sambil menggelengkan kepalanya.
Dipta yang melihat itu juga dibuat menggelengkan kepalanya. Ia tak mengerti lagi dengan segala keajaiban yang dilakukan oleh gadisnya itu. Entah apa lagi sebenar nya kelebihan Vanya yang akhirnya di salah gunakan oleh gadisnya itu.
*