
“Lo udah baikan sama Dipta?” tanya David saat kini mereka tengah berkumpul di kantin untuk menghabiskan waktu istirahat mereka.
“Sekarang sih iya gak tau entar,” ucap Vanya dengan acuh sambil menyeruput es jeruk miliknya. Sahabat Vanya yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya. Mereka sudah mengetahui bagaimana hubungan Vanya dan Dipta belakangan ini.
Setiap harinya tak menentu. Hubungan mereka semakin hari semakin tak sehat saja. Tiada hari tanpa pertengkaran rasanya. Jika tidak terang-terangan maka mereka akan perang dingin. Hubungan mereka seolah sudah berada di ujung jurang untuk jatuh.
“Saran gue mending ngalah aja sih Van. Daripada lo berantem mulu karena Aretha, mending kalian deket aja. Kalian saling temenan biar gak overthinking mulu lo,” ucap Eva yang kali ini memberikan saran pada sahabat nya itu. Ia juga merasa tak tega dengan hubungan sahabat nya itu sekarang.
“Gue udah ngalah mulu dari kemaren, udah lah biarin aja. Lagian lo pikir gue bisa buat temenan sama orang yang bikin hubungan gue kaya gini?” tanya Vanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh tanya. Mereka kompak saja menggeleng. Jika dari awal saja tak bisa akur bagaimana akhirnya harus memaksa akur?
“Terus lo sekarang mau hubungan lo sama Dipta malah gini mulu? Ini mah tinggal nunggu dimakamkan aja hubungan lo. Ibarat nya mah udah sekarat,” ucap Ino yang kali ini juga ikut menimpali.
“Lagian Aretha orang nya baik lagi Van,” ucap David yang kali ini ikut menimpali. Vanya yang mendengar ucapan sahabat nya itu hanya memutar bola matanya malas mendengar nya. Sahabat nya kini bahkan seolah mendukung jika ia harus berteman dengan Aretha.
“Iya Pid iya, emang temen lo itu baik berhati malaikat,” ucap Vanya dengan senyumannya yang begitu lebar namun tatapannya yang begitu datar.
“Udah lah gue balik ke kelas aja,” ucap Vanya yang setelah nya memilih untuk segera pergi dari sana. Sahabat Vanya yang melihat itu menghembuskan nafas mereka sambil menggelengkan kepalanya.
“Gue susul,” ucap Ethan yang setelah nya memilih untuk segera mengejar Vanya.
*
Dipta kini menatap Aretha yang baru saja datang dari kantin dengan tatapan aneh nya. Beberapa hari ini Aretha seolah menjauhinya. Seperti ada yang aneh dengan gadis itu. Setelah Aretha duduk di meja nya. Dipta yang awalnya tengah membaca buku nya langsung membalikkan tubuhnya untuk menatap ke arah Aretha.
“Kenapa Dip?” tanya Aretha dengan heran saat kini Dipta malah terus menatapnya dengan tatapan aneh nya.
“Gue liat lo ngejauh ya dari gue?” tanya Dipta pada Aretha yang kini malah terkekeh mendengar ucapan Dipta.
Padahal memang jelas selama beberapa hari ini Aretha menjauh dari Dipta. Bahkan jika ada panggilan agar wakil dan ketua kelas kumpul. Aretha akan pergi lebih dulu atau meminta Dipta yang pergi lebih dulu. Interaksi antara mereka juga lebih sedikit dari biasanya. Hal itulah yang kini menjadi pertanyaan untuk Dipta.
“Perasaan kamu aja kali Dip,” ucap Aretha pada Dipta yang kini menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Aretha. Ia tahu jelas pasti ada yang tidak beres dengan gadis di depannya itu.
“Lo aneh tau gak beberapa hari ini. Jujur aja kenapa lo ngejauh dari gue?” tanya Dipta dengan tatapan penuh tanya pada Aretha. Aretha menggaruk hidungnya yang gatal. Berpikir apakah ia harus memberi tahu Dipta tau atau tidak tentang Vanya yang menerimanya.
“Aku gak enak aja sama Vanya. Kamu kan pacarnya Vanya gak enak juga kalau kita terlalu dekat. Apalagi dengan gosip yang belakangan ini beredar. Kasian Vanya nya juga sih, kita kan sama-sama perempuan jadi saling menghargai perasaan satu sama lain ja,” ucap Aretha menjelaskan.
Dipta sudah menduga ini sebelumnya namun ia belum ingin untuk berburuk sangka pada kekasih nya itu. Namun ucapan Aretha kini meyaknkannya jika memang semua ini karena kekasih nya itu.
“Udah lah gak papa. Lagian kita nih uga sebatas teman kan!” uap Dipta pada Aretha.
“Tetep aja aku ngerasa gak enak. Vanya juga perempuan,” ucap Aretha menjelaskan pada Dipta yang kini hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Aretha.
"Kenapa mendadak banget ngerasa nggak enaknya? Ada yang ngomong yang nggak enak ke lo kah?" tanya Dipta curiga.
Aretha bingung, tapi ia memilih menggeleng.
"Jujur aja. Ada temen-temennya Vanya yang nyamperin lo?" tanya Dipta dan Aretha masih menggeleng.
"Kalau gitu, Vanya sendiri yang nyamperin lo?" tanya Dipta lagi.
Kali ini, Aretha diam sejenak cukup lama. Diamnya Aretha membuat Dipta mengerti. Sepertinya memang Vanya yang meminta temannya itu untuk menjauh.
"Bener kan karena Vanya? Jujur, Tha," desak Dipta lagi.
Namun jelas Dipta tak hanya akan diam saja. Dia harus berbicara pada Vanya yang belakangan ini memang menjadi begitu pencemburu.
“Biasain aja Tha, gak perlu jaga jarak gitu. Nggak usah ambil hati ucapannya Vanya,” ucap Dipta yang setelah nya langsung pergi.
Kini tujuannya adalah menemui Vanya dan memberikan peringatan pada kekasih nya itu.
Dipta kini berjalan dengan langkah tegas nya menuju ke arah kelas Vanya untuk menemui gadisnya itu. Saat sampai di kelas gadis itu, ternyata Vanya kini kini menelungkupkan wajah nya di atas meja nya. Di belakang nya kini Ethan tengah bermain game.
Melihat itu Dipta segera menghampirinya.
“Vanya,” panggil Dipta yang langsung membuat Vanya mendongak menatap ke arah Dipta dengan menaikkan sebelah alisnya.
Melihat dari wajah Dipta yang kini menatap nya dengan serius ia yakin ada yang tak beres dengan Dipta.
“Kenapa?” tanya Vanya dengan menaikkan sebelah alisnya bingung menatap Dipta dengan tatapan penuh tanya nya.
“Bicara di taman aja yuk,” ajak Dipta pada Vanya yang kini membuat Vanya menghembuskan nafas nya dan menganggukkan kepalanya. Sudah bisa Vanya pastikan ada yang tak beres dengan Dipta.
“Gue aja yang pergi, kalian bicara di sini aja,” ucap Ethan yang memilih untuk pergi. Lagipula di kelas kini hanya ada mereka.
Dipta hanya diam dan membiarkan Ethan pergi sedangkan Vanya hanya menatap nya sekilas sebelum akhirnya ia melihat ke arah Dipta dengan tatapan penuh tanya.
“Kenapa?” tanya Vanya kini pada Dipta dengan tatapan serius nya.
“Kamu negur Aretha?” tanya Dipta langsung pada Vanya yang kini malah tersenyum dengan sinis mendengar ucapan kekasih nya itu.
“Kenapa? Dia bilang ke kamu dan kamu gak terima?” tanya Vanya dengan menaikkan sebelah alisnya menatap Dipta dengan tatapan penuh tanya.
“Harusnya kamu gak perlu ngelakuin itu Van. Aku sama Aretha cuma sebatas rekan dan teman aja,” ucap Dipta pada Vanya yang kini menetap Dipta dengan sinis.
“Daripada kamu terus bilang begitu mending kamu coba untuk menghargai perasaan aku Dip. Aku juga bisa cemburu. Kamu ngelarang aku temenan sama sama temen-teman club motor juga udah aku turutin. Kenapa saat aku minta kamu sekedar jaga jarak dan hargain perasaan aku hanya untuk satu orang aja kamu gak mau?” tanya Vanya dengan tatapan penuh tanya dan sendunya.
“Aku gak minta kamu berhenti temenan sama dia, aku cuma minta kamu lebih jaga jarak aja Dipta,” lanjut Vanya.
Ia hanya berharap agar Dipta bisa lebih menghargainya.
“Pertemanan aku sama dia sama aja kayak kamu sama Ino dan David, Van. Atau bahkan lebih sederhana dari itu, kamu berlebihan hanya dengan itu kamu sampai menegur dia,” ucap Dipta tegas.
Vanya yang mendengar nya kini hanya terkekeh sambil menatap Dipta dengan tatapan sinisnya. “Segitu pentingnya ya dia buat kamu kamu sampai kamu bilang kayak gini ke aku. Segitu ngaruhnya ya dia yang jaga jarak sama kamu? Dia penting banget ya dalam pertemanan kamu itu sampai kamu negur aku dan ngajak berantem cuma karena dia? Kenapa kamu gak mentingin aku juga Dip? Kamu tuh sebenernya paham nggak sih Dip?” tanya Vanya dengan tatapan lelah nya pada Dipta.
Vanya yang tengah sensitif karena tengah PMS kini ingin sekali rasanya untuk menangis. Namun ia masih menahannya dan tak ingin menangis di depan Dipta.
“Cari tahu di hati kamu ini. Siapa yang lebih penting buat kamu,” ucap Vanya sambil menunjuk dada Dipta.
Setelah nya Vanya memilih untuk segera pergi dari sana. Daripada mereka harus kembali melanjutkan pertengkaran mereka.
Dipta yang melihat itu kini hanya mengusap wajah nya gusar melihat semua itu.
*