
Segala macam kenakalan yang Vanya rasa cukup untuk menarik perhatian Dipta tanpa menimbulkan efek yang besar rasa nya sudah Vanya lakukan. Dari bolos, memakai sepatu selalu berbeda warna, atau bahkan mencoret tembok belakang sekolah sudah Vanya lakukan. Namun tak satupun yang Dipta tanggapi.
Dipta benar-benar bersikap cuek pada nya. Tidak memperdulikan apa yang Vanya lakukan. Atau sebenarnya Dipta memperhatikannya namun laki-laki itu memilih untuk diam dan tidak menanggapi nya. Dipta benar-benar ingin memberikan sebuah kebebasan yang Vanya inginkan.
Bukankah memang kebebasan lah yang Vanya inginkan? Maka untuk sekarang Dipta akan memberikannya sampai gadis itu merasa puas dengan semua kebebasan itu dan merindukan nasihat dari Dipta maka ia akan kembali.
Miskomunikasi antara keduannya kini memang begitu mengganggu. Bukan miskomunikasi lagi sih, bahkan lost komunikasi. Yang satu melakukan kenakalan agar di pandang yang satu lagi membiarkan karena ingin memberikan kebebasan. Mereka begitu bertolak belakang.
“Ini Dipta bener-bener udah gak peduli ya sama gue? Atau ucapan Rio udah ditanggepin serius sama dia?” tanya Vanya dengan kekesalannya.
Kini ia tengah berada di kantin bersama dengan teman-temannya. Melihat hubungan Dipta dan Vanya yang kini terlihat berjarak malah banyak yang berspekulasi jika Dipta dan Vanya yang akhirnya putus karena Dipta yang sudah tak tahan lagi dengan Vanya.
Pernyataan seperti itu kini semakin mempengaruhi Vanya. Ia semakin takut jika ia benar-benar kehilangan Dipta, ia masih tak ingin jika harus putus dengan Dipta.
“Lagian lo sih badung banget,” ucap Eva yang kini malah ikut ikutan menyalahkan Vanya. Vanya yang mendengar nya semakin mendengus. Bukannya menenangkan kini temannya itu malah semakin membuat nya overthinking memikirkan tentang Dipta serta hubungan mereka.
“Gak usah ikutan deh. Makin buat gue ovt aja lo,” kesal Vanya pada Eva dengan kekesalannya.
“Gue sih dukung Dipta ya. Secara ya dia mah pamor udah terkenal baik masak dia harus punya kekurangan dengan jadi pacar lo yang begajulan,” ucap David yang kini ikut menimpali. Sebenarnya ia hanya ingin menggoda sahabat nya saja.
"Buset pedes banget mulut kalian ya. Gue mah cantik jadi dia mau lah sama gue, apalagi gue tuh strong," ucap Vanya sambil menunjukkan otot nya. Sahabat nya yang mendengar itu hanya terkekeh melihat bagaimana tingkah sahabat nya yang satu itu.
"Iye deh Van terserah lo aja deh," ucap Ino dengan kekehannya sambil menepuk pundak sahabat nya itu dengan lembut.
"Udah lah males gue sama kalian," ucap Vanya yang setelah nya memilih untuk segera pergi dari sana.
Bersama dengan sahabat nya hanya membuat Vanya kesal saja. Bukannya menghibur Vanya mereka malah semakin menggoda Vanya dan mengatakan ketidak cocokan dirinya dengan Dipta.
“Kok kabur sih Van?” pertanyaan itu dilontarkan oleh Eva yang saat ini sudah berada di samping Vanya sambil merangkul sahabat nya itu.
“Mangkanya jangan ngeselin,” kesal Vanya yang kini malah membuat Eva menyengir mendengar ucapan sahabat nya itu.
Kini kedua teman mereka yang lain juga sudah mengikuti Vanya dan berjalan di belakang kedua gadis itu.
“Ada apa tuh di lapangan pada rame?” tanya Eva saat mereka kini akan menuju koridor yang kini mengarah pada lapangan.
“Liat yuk,” ajak Ino yang kini sudah lebih dulu berjalan ke arah lapangan untuk melihat apa yang kini membuat lapangan begitu ramai.
Saat sampai di lapangan kini ternyata di sana ada pertandingan basket kelas XI yang sepertinya baru selesai berolahraga dan memakai waktu istirahat mereka untuk bertanding basket. Hingga tatapan Vanya kini langsung terfokus pada laki-laki yang kini tengah mendribble bola.
Laki-laki yang selama beberapa hari ini menghindarinya dan tidak pernah memberi kabar padanya. Laki-laki yang tak lain adalah Dipta. Tatapannya terus saja menatap laki-laki tersebut dengan tatapan kerinduan.
Ya, Vanya merindukannya namun untuk meminta maaf dengan laki-laki itu bahkan sampai sekarang Vanya masih belum siap melakukannya.
“Gak,” tegas Vanya begitu singkat.
“Kenapa? Ngalah dulu lah sesekali dari pada diem-dieman mulu. Emang lo mau dia benerin ilang?” tanya Eva pada Vanya dengan tatapan seriusnya pada Vanya. Vanya diam dengan tatapannya yang terus saja menatap ke arah Dipta.
“Sumpah ya, Dipta nih ganteng banget.”
“Ganteng di Dipta itu bonus karena di balik itu dia lebih dari itu. Ganteng iya, pinter iya, sopan iya.”
“Minus nya cuma bego soal cinta aja sampek mau sama cewek problematik.”
“Yang baik dari Vanya padahal banyak. Yang lebih cantik pun ada. Yang lebih baik dan cantik juga ada, eh dia mau nya sama Vanya.”
“Kata gue mah si Dipta masih ketutup hati sama mata nya sampek mauan gitu punya pacar kek Vanya.”
“Vanya mah gak tau bersyukur punya pacar kayak Dipta, masih banyak mau nya.”
Berbagai ucapan dan hinaan terlalu banyak yang ia dengar. Banyak yang memuji Dipta dan banyak yang menghina dirinya. Apa dia memang seburuk itu untuk Dipta? Apakah mereka terlalu berbeda untuk bersama?
“Gak perlu didengar Van, meskipun omongan mereka bener tapi tetap aja mereka ngomong gitu karena iri sama lo,” ucap Eva dengan senyumannya sambil mengelus pundak sahabat nya itu, Vanya kini menoleh ke arah Eva sambil menatap datar pada sahabat nya itu.
“Lo mah ngehina, ngehina aja. Gak usah nenangin sambil menghina gitu. Berasa main roller coaster gue,” ucap Vanya dengan kekesalannya pada sahabat nya yang satu itu.
“Gue gak maksud Van. Gue cuma membela dengan sebuah fakta,” ucap Eva menjelas kan sambil menyengir lebar sedangkan Vanya hanya berdecih mendengarnya.
“Diem deh lo,” kesal Vanya. Telinga Vanya rasanya sudah begitu panas mendengar berbagai hinaan yang sedari tadi ia dapatkan.
“Lo harusnya bisa lebih ngalah sih kalau kata gue Van. Dia udah sering ngalah yang salah elo,” ucap Ino yang kini bisa bersikap dewasa juga padahal sebelumnya laki-laki itu begitu sulit untuk diajak berpikir dewasa.
“Terserah lo pada lah. Capek gue,” ucap Vanya yang memilih untuk pergi dari sana.
Sahabat nya yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, padahal mereka hanya memberikan nasihat untuk Vanya karena mereka merasa kasihan melihat Vanya yang belakangan ini sering kali murung dan sering memperhatikan Dipta. Melakukan segala macam kenakalan namun Dipta tak pernah memperhatikannya.
“Ribet juga ya pacaran?” tanya Ino sambil menggelengkan kepalanya. Melihat sahabat nya yang belakangan ini selalu terlibat masalah dengan kekasih nya ia jadi berpikir jika memiliki kekasih akan ribet.
“Bukan pacarannya yang ribet. Tapi orang nya. Liat noh Vanya, jalan dia ada dua sebenarnya tapi dia malah diem di tengah-tengah,” ucap David sambil menggelengkan kepalanya melihat Vanya yang kini mulai berjalan menjauh.
*