Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Ingin Berubah



Hal yang sebelumnya sudah lama tak Vanya lakukan kini akhirnya ia lakukan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama kini ia malah belajar tanpa diminta dan didampingi oleh Dipta. Gadis itu terlihat begitu serius menyalin catatan nya yang banyak kosong nya. Seharian ini di hari minggu benar-benar ia habiskan hanya untuk menyalin catatan nya. Bahkan tangannya sudah akan patah rasanya dengan terus saja menulis.


Sesekali gadis itu juga membaca buku pelajarannya saat sudah lelah menulis. Sebuah pemandangan yang begitu langkah melihat apa yang kini Vanya lakukan. Vanya memiliki dua jalan dalam hubungan. Berubah atau atau menyerah dan untuk kali ini Vanya memilih untuk berubah. Ia ingin berubah untuk Dipta. Salah memang niat awalnya karena semua karena Dipta namun perlahan ia akan merubah niat nya untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain. Agar saat Dipta pergi ia tak lagi kembali pada kenalannya dan membuktikan pada Dipta jika ia bisa berubah untuk dirinya sendiri sesuai dengan apa yang Dipta inginkan.


Suara dering ponsel Vanya mengganggu kegiatan gadis itu. Vanya segera melihat ponselnya yang ternyata panggilan Video dari Eva. Melihat itu dengan segera Vanya menjawab panggilan telepon dari sahabat nya itu.


“Apaan?” tanya Vanya sambil meletakkan ponselnya di bagian pojok meja belajarnya agar ia masih bisa melanjutkan menulis catatannya. Eva yang melihat Vanya sibuk menunduk sambil menulis sesuatu mengerutkan kening nya.


“Ngapain dah lo?” tanya Eva dengan kerutan di kening nya melihat apa yang tengah dilakukan oleh sahabat nya itu.


“Nyalin catetan yang kosong,” jawab Vanya singkat tanpa mengalihkan tatapannya dari buku di depannya. Jawaban dari Vanya tentu saja membuat Eva kini melongo mendengar nya. Sebuah jawaban yang tak pernah ia duga akan keluar dari mulut Vanya.


“Serius?” tanya Eva masih dengan tatapan terkejutnya. Vanya yang mendengar itu memutar bola matanya malas, apa dia memang semalas itu hingga sahabatnya sendiri pun terkejut mendengar jika kini ia tengah menyalin catatan?


Vanya mengambil ponselnya lalu mengarahkan kamera ponselnya pada buku yang berserakan di depannya. Melihat itu kini Eva semakin di buat tak percaya saja karena nya. Seorang Vanya yang selalu dikenal sebagai gadis yang malas dan problematik kini menyalin catatan? Keajaiban apa yang tengah Eva lihat saat ini?


“Van lo lagi sakit? Atau lo lagi kesurupan?” tanya Eva dengan tatapan tak percaya nya pada Vanya yang kini sudah mengembalikan posisi kamera untuk menghadap ke arah nya.


“Jangan ngaco deh lo,” sungut Vanya sambil memutar bola matanya malas.


“Aneh banget sih lo Van,” ucap Eva dengan tatapn khawatirnya pada Vanya.


“Apaan sih? Lo juga ngapain nelpon?” tanya Vanya dengan kerutan di kening nya menatap Eva dengan penuh tanda tanya.


“Gue awalnya mau ngajakin lo kumpul. Hari ini ada balapan si Ethan yang tanding,” ucap Eva menjelaskan pada Vanya.


“Gak bisa gue, ini masih banyak banget catetannya. Kalian have fun ya,” ucap Vanya yang setelah nya memilih untuk mematikan telponnya dan kembali fokus dengan catatannya. Vanya kali ini benar-benar ingin berubah. Dengan tidak datang ke arena salah satu nya.


*


Pagi-pagi sekali kini Vanya sudah berada di sekolah. Bahkan kini jam baru menunjukkan pukul 6.30 waktu yang biasanya ia masih tidur kini malah ia sudah datang dengan pakaian rapi nya.


“Pagi pak,” sapa Vanya dengan senyumannya pada guru yang kini berjaga di depan gerbang bersama dengan anggota osis yang lain. Dipta belum terlihat di sana padahal kini adalah jadwalnya untuk berjaga namun Vanya sama sekali belum melihat nya.


“Kerasukan apa tuh dia dateng sepagi ini?” tanya Pak Hendra pada osis yang kini ikut berjaga. Tak hanya pak Hendra bahkan anggota osis kini juga dibuat bingung dengan tingkah Vanya.


“Dipta,” panggil pak Hendra saat melihat Dipta dari kejauhan yang kini tengah berjalan ke arah gerbang. Mendengar namanya dipanggil Dipta dengan segera berjalan ke arah gurunya itu lalu bersalaman pada nya.


“Pacar kamu kayaknya sakit deh,” ucap Pak Hendra yang kini membuat Dipta membelalakkan matanya mendengar ucapan gurunya itu.


“Bapak tau dari mana?” tanya Dipta dengan tatapan khawatirnya yang terlihat begitu jelas.


“Baru aja tadi lewat. Mending kamu samperin deh sekarang,” ucap Pak Hendra yang membuat Dipta menganggukkan kepalanya. Dengan langkah besar nya kini Dipta menuju ke arah kelas Vanya yang tak jauh dari kelasnya.


Sebenar nya Dipta tak percaya jika kini kekasih nya itu sudah ada di sekolah padahal jam masuk masih tiga puluh menit lagi. Apa lagi ia tak menjemput Vanya.  Biasanya kini Vanya masih betah di kasur empuknya.


Namun saat sampai di kelas Vanya ia begitu terkejut melihat kekasih nya itu yang kini tengah membaca sebuah buku pemandangan yang begitu langkah yang dapat Dipta lihat dari gadisnya itu.


"Dia kenapa?" tanya Dipta dengan tatapan tak percaya sekaligus bingung melihat Vanya yang kini begitu serius membaca buku nya.


Bahkan dari penampilan nya pun kini Vanya terlihat begitu berbeda. Pakaian nya yang sebelum nya memakai pakaian ketat kini kembali memakai seragam yang pernah ia belikan untuk Vanya dengan sepatu hitam nya. Begitu taat peraturan.


Kini ia mengerti mengapa guru nya mengira jika Vanya sedang sakit karena kini memang Vanya begitu berbeda dari biasanya. Gadis itu tak seperti biasanya.


"Apa udah bosen dia nakal nya?" tanya Dipta pada dirinya sendiri menebak-nebak tentang Vanya.


Namun bukannya menuju ke arah Vanya, kini Dipta malah pergi dari sana setelah memastikan jika kekasih nya itu baik-baik saja.


Dipta kini memilih untuk menuju ke arah Kantin untuk membelikan makanan untuk Vanya. Takut jika Vanya belum sempat sarapan.


Di sisi lain kini Vanya tengah sibuk membaca materi ulangan harian hari ini. Ia datang begitu pagi karena ingin memulai untuk menjadi murid teladan.


Namun saat ia tengah fokus dengan bukunya, tiba-tiba saja ada yang meletakkan makanan di depannya. Hal itu membuat Vanya menoleh ke depan dan melihat Dipta yang kini berdiri di depannya sambil meletakkan makanannya.


"Dimakan sarapannya. Aku mau jaga di depan," jelas Dipta begitu singkat lalu segera pergi dari sana.


Meskipun begitu singkat namun tak bisa untuk Vanya bohongi bahwa kini Vanya merasa begitu senang karena akhirnya Dipta mau untuk menghampirinya dan kembali perhatian padanya.


"Harusnya dari kemarin tuh gue begini bukannya ngelakuin kenakalan yang buat gue capek di hukum tapi Dipta nya gak peduli," ucap Vanya dengan kekehannya menertawakan kebodohannya sendiri selama beberapa hari ini. Melihat sikap Dipta yang mulai lunak. Sepertinya setelah ini ia harus meminta maaf juga pada laki-laki itu.


*